Menyeruak suap-menyuap di bumi Nusantara memang sudah menjadi rahasia umum. Mulai dari kalangan akar rumput sampai mereka yang duduk di kursi-kursi pemerintah melakukan praktek kotor ini. Dalihnya sederhana, jika tidak melakukan cara ini maka akan didahului orang lain. Kita akan ketinggalan satu langkah dari yang lain jika tidak menyuap pihak yang berwenang, tambah mereka. Padahal, dalam mencapai suatu hal kadang kita harus mundur satu langkah guna melakukan lompatan jauh yang bermartabat.

Guna meminimalisir kebiasaan serong ini sangat baik di sini ditawarkan buku yang mengupas tuntas perihal suap-menyuap agar masyarakat kita sadar akan bahayanya. Adalah Imam Ibn Hajar al-haitami di antara cendekiawan Muslim abad 10 yang menulis sebuah buku yang bertajuk, Idhâhul-Ahkâm limâ Ya’khudzuhu al-‘Ummâl wa al-Hukkâm yang sangat bagus dan komprehensif. Bahkan, buku yang satu ini banyak menuai apresiasi dari banyak cendekianwan Muslim yang lain.

Khusus dalam pendahuluan bukunya ini Imam Ibnu Hajar al- Haitami menjelaskan, bahwa karyanya ini tidak lebih dari sebuah resume yang pernah ditulis oleh cendekiawan Muslim sebelumnya, seperti Fashlul-Maqâl fî Hadâya al-‘Ummâl karya Imam at-Taqîyuddîn as-Subkî. Demikian beliau lakukan karena beberapa karya sebelumnya yang membahas masalah ini dinilai kurang bagus, baik karena penjelasannya yang terlalu melebar atau memang ada sebuah pembahasan yang tidak disinggung padahal penting untuk diketahui.

Secara umum buku Idhâhul-Ahkâm limâ Ya’khudzuhu al-‘Ummâl wa al-Hukkâm ini pembaasannya dibagi menjadi tiga bab dan diakhiri dengan penutup. Untuk bab pertama, fokus kajian buku ini menampilkan beberapa dalil hadis yang menyinggung masalah risywah. Tidak cukup sampai di situ, dalam buku ini juga diberi penjelasan muatan hukum dan bagaimana ulama beristinbât dari hadis tersebut.

Pada bab kedua secara spesifik buku setebal 133 hlm ini mengupas secara tuntas definisi dan hukum dari risywah. Saat menjelaskan definisi risywah, buku ini mengkajinya dari sudut linguistik untuk kemudian menyimpulkan, bagaimana maksud dan pemahaman dari risywah itu sendiri. Dan yang apik pada bab kedua ini, pengaruh praktek ini terhadap kejiwaan pelaku juga disinggung. Terlebih lagi, saat menjelaskan hukum risywah buku ini mampu menyimpulkan dari beberapa pendapat ulama dalam berbagai aspek masalahnya secara detail.

Sedangkan untuk bab ketiga permasalahan hadiah dijelenterehkan secara mendalam. Mulai dari definisi, kaitannya dengan risywah dan berbagai macam bentuk hadiah yang berhukum boleh dan yang dilarang karena ada faktor lain yang memengaruhinya. Ambil contoh, seseorang yang memberikan hadiah kepada hakim. Untuk kasus ini diperinci dalam tiga masalah. Pertama, orang itu biasa memberikan hadiah kepada hakim dengan kadar sama setiap dia memberikan. Untuk kasus ini hakim tersebut boleh menerimanya. Kedua, orang yang biasa memberikan hadiah kepada hakim namun dengan kadar yang berbeda-beda. Maka dalam masalah ini hakim tidak boleh menerima. Ketiga, orang yang tidak biasa memberikan apa pun kepada hakim kemudian dia memberi guna memperlicin masalahnya. Maka untuk yang terakhir ini hakim tidak boleh menerimanya karena sejatinya ini merupakan bagian dari risywah.

Tidak sampai di sini, masih pada yang ketiga juga disinggung praktek risywah yang diperbolehkan. Yaitu, ketika hak kita tidak dipenuhi oleh pihak yang berwenang tanpa pelicin, misalnya, maka kita boleh memberikan uang pelicin guna mendapatkan hak tersebut. Dalam buku yang ditulis oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami ini praktek seperti ini dikategorikan sebagai risywah hanya saja kita boleh melakukannya.

Adapun dalam bagian penutup, buku setebal 133 hlm ini secara spesifik membahas mazhab lain; Hanafi, Maliki, dan Hambali terkait pembahasan risywah. Bagaimana yang dimaksud hadiah, risywah dan masalah yang menurut sementara orang itu dikatakan risywah padahal bukan atau masalah yang menurut sementara orang itu bukan risywah padahal merupakan risywah. Selamat membaca!

Achmad Sudaisi/sidogiri

Baca juga: Imam Haramain Al-Juawaini: Sanad-Sanad Keilmuann dan Karya-Karyanya

Baca juga: Kajian Proses Kiamat

Spread the love