Pandemi telah bergulir sejak akhir 2019, dan di Indonesia, tanda-tanda pandemi akan segera berakhir tidak terlihat, setidaknya dalam waktu dekat ini. Semoga Allah melindungi kita dari virus ini dan penyakit lainnya. Sementara di negara asal pandemi, China, pandemi berakhir dalam beberapa bulan saja, dan kini mereka menjalani kehidupan normal tanpa masker, penjarakan sosial, atau pembatasan lainnya.
Bukan hanya di China, tetapi negara-negara di Eropa dan Amerika yang sebelumnya mengalami tingkat keterjangkitan dan kematian tinggi, tampaknya telah berhasil melewati pandemi ini. Mereka kini melakukan kegiatan sosial seperti biasa, tanpa masker dan penjarakan sosial. Bahkan negara tetangga seperti Vietnam berhasil mengatasi pandemi dengan baik. Singapura, yang dianggap sebagai negara maju, juga berhasil mengendalikan situasi. India, yang sebelumnya kesulitan mengatasi pandemi, berhasil menekan tingkat infeksi dan kematian dengan cepat.
Jika kita melihat begitu banyak negara yang berhasil mengatasi pandemi, seharusnya Indonesia juga mampu melakukannya. Kegagalan Indonesia mengatasi pandemi tidak disebabkan oleh ketidakmampuan mengatasi pandemi, tetapi lebih karena kesalahan, baik kesalahan pemerintah maupun kesalahan individu. Mari kita bahas lebih lanjut.
Dari sisi pemerintah, respons awal terhadap pandemi tidak tepat. Beberapa pejabat bahkan menganggap pandemi sebagai candaan. Misalnya, ada yang mengatakan, “Virus ini tidak akan masuk ke Indonesia karena di sini perizinannya sulit.” Ada juga yang mengatakan, “Kita sudah kebal virus karena doyan nasi kucing,” dan pernyataan konyol lainnya yang tidak pantas.
Lebih buruk lagi, setelah virus benar-benar masuk dan dikonfirmasi oleh pemerintah, penanganannya terlihat kurang serius, seperti menolak untuk melakukan lockdown karena alasan beban ekonomi. Perkiraan menunjukkan bahwa untuk lockdown beberapa pekan, pemerintah harus mengeluarkan dana sekitar 400 triliun, jumlah yang besar sehingga pemerintah enggan melakukannya. Sebaliknya, mereka mengalokasikan dana miliaran untuk promosi pariwisata agar terus menarik wisatawan.
Para ahli sudah memperingatkan pemerintah tentang risiko ini. Jika tidak ada karantina karena takut rugi, konsekuensinya akan lebih berat, yaitu merosotnya ekonomi dan pandemi yang tak kunjung berhenti. Sekarang, peringatan para pakar terbukti benar. Ekonomi terus melesu, dan negara menghabiskan lebih dari 1000 triliun untuk mengatasi pandemi, jumlah yang lebih mengerikan daripada biaya lockdown.
Yang lebih tidak masuk akal adalah ketika pemerintah akhirnya harus melakukan lockdown, mereka masih khawatir dengan beban ekonomi yang harus mereka tanggung. Undang-Undang mewajibkan mereka untuk menyediakan semua kebutuhan bagi warga yang dikarantina. Akhirnya, pemerintah mencari cara agar lockdown dapat dilakukan tanpa harus membayar kebutuhan warga yang harus tetap di rumah.
Karena itulah kita melihat istilah-istilah aneh seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PSBB total, PSBB transisi, PPKM Mikro, PPKM Darurat, dan PPKM level 1 hingga level 4. Kinerja pemerintah yang mengubah-ubah istilah tersebut terlihat ironis dan hanya menunjukkan kekonyolan. Lebih ironis lagi jika semua itu hanya dilakukan untuk menghindari tanggung jawab ekonomi terhadap masyarakat. Aturan-aturan tersebut bahkan tidak diindahkan oleh pemerintah sendiri, baik dalam hal keteladanan maupun penegakan hukum dan keadilan.
Contohnya, beberapa figur pemerintah membiarkan hajatan pernikahan artis tetap berlangsung dan bahkan ikut hadir dalam acara tersebut. Beberapa pemerintah daerah menggelar acara ulang tahun dengan mengundang banyak orang, melanggar aturan PSBB. Hal ini membuat masyarakat tidak puas karena aturan tidak dihormati oleh pembuat aturan sendiri. Inilah yang memicu gejolak ketika aparat melarang resepsi pernikahan.
Sebaik apapun aturan, tanpa keteladanan dan penegakan keadilan, kesuksesan sulit dicapai. Terlebih lagi, perlakuan yang tidak adil terhadap tokoh Islam yang didenda dan dipenjara karena dianggap melanggar aturan PSBB, tanpa perlakuan serupa pada tokoh lain, pejabat, atau artis, sangat memilukan dan memalukan.




