Mencintai Sahabat Rasulullah merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam. Tidak hanya itu, ia juga harus memuliakan dan mengagungkan kedudukan para Sahabat, meneladani jejak langkah perjuangannya, serta mencontoh dan mengambil ibrah atas segala perbuatan dan pekerjaan dalam kehidupan mereka. Hal ini telah disepakati oleh para ulama dengan berlandaskan nash-nash al-Quran dan Hadis yang menegaskan atas wajibnya mencintai semua Sahabat Nabi . Dalam al-Quran Allah berfirman;
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr [59]: 10)
Imam Abi Abdillah Muhammad al-Qurthubi dalam tafsirnya, al-Jâmi’ li Ahkâmil-Quran menyatakan bahwa ayat tersebut adalah dalil atas wajibnya mencintai para Sahabat. Abul-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimisyqa dalam Tafsîrul-Quran al-Azhim berkata, “Allah telah memberitahukan bahwa Ia meridhai as-Sâbiqîn al-Awwalîn dari golongan Shahabat Anshar dan Muhajirin, serta orang-orang yang mengikuti kebaikan mereka. Sungguh celaka orang-orang yang membenci dan mencaci maki para Shahabat, ataupun sebagian dari mereka, terlebih kepada pemuka Shahabat, paling baiknya Shahabat, serta paling utamanya Shahabat setelah Rasulullah, yaitu Abu Bakar as-Shiddiq bin Abi Quhafah. Sesungguhnya golongan yang terlantar, seperti kelompok Syiah Rafidhah, menolak keutamaan para Shahabat dan membenci dan mencaci mereka, -semoga kita dilindungi dari hal semacam itu-. Hal semacam ini menunjukkan bahwa akal mereka menyimpang dan hatinya terbalik. Dimanakah keimanan meraka (orang-orang Syiah Rafidhah) terhadap al-Quran bila mereka mencela dan mencaci para Shahabat? Kelompok Ahlusunah tidaklah demikian. Kelompok Ahlusunah mendoakan keridhaan bagi orang yang diridhai Allah, mencaci orang yang dicaci oleh Allah dan rasul-Nya, mencintai orang yang dicintai Allah dan memusuhi orang yang dimusuhi Allah.
Selain penjelasan dalam al-Quran juga terdapat Hadis Nabi yang menjelaskan perihal kewajiban umat Islam mencintai para Shahabat. Di antaranya hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Abdullah bin Mughaffal. Rasulullah bersabda:
ألله ألله في أصحابي لا تتخذوهم غرضاً بعدي ، فمن أحبهم فبحبي أحبهم ومن أبغضهم فببغضي أبغضهم ، ومن آذاهم فقد آذاني ،ومن آذاني فقد آذى الله .ومن آذى الله يوشك أن يأخذه
“Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai shahabat-shahabatku. Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki sesudah aku tiada. Barang siapa mencintai mereka, maka berarti dia mencintai aku. Dan barangsiapa membenci mereka, maka berarti dia membenci aku. Barang siapa menyakiti mereka, berarti ia menyakitiku. Barangsiapa menyakitiku, berarti ia menyakiti Allah. Dan barang siapa menyakiti Allah, maka bersiaplah untuk menerima azab dari-Nya.” (HR. Imam Tirmidzi)
Hadis di atas mengandung anjuran kepada semua umat Islam untuk mencintai Sahabat Rasulullah dan tidak menjadikan mereka sebagai bahan cacian. Nabi mewanti-wanti agar umat Islam tidak menyakiti para Shahabat. Sebab, dengan menyakiti mereka, maka juga menyakiti Rasulullah, dan bila menyakiti Rasulullah maka telah menyakiti Allah.
Al-Hafidz Abil ‘Ali Muhammad bin Abdurrahman al-Mubarakfuri dalam kitabnya, Tuhfatul-Ahwadzi Syarh Jamî’i Tirmidzi menjelaskan makna yang terkandung dalam hadis di atas sebagai berikut; Jangan kalian mencela kedudukan para Shahabat dan jangan pula mencaci makinya. Aku mengingatkan kalian kepada Allah. Aku menyumpah kalian dengan nama Allah mengenai kebenaran, keagungan dan terhormatnya Shahabat-shahabatku. Jangan kalian menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki dengan ucapan hina, sebagaimana seorang pemanah meluncurkan panahnya. Barang siapa menyakitiku, berarti ia menyakiti Allah. Dan barang siapa menyakiti Allah, maka bersiaplah untuk menerima azab dari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Rasulullah juga bersabda;
آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ
“Tanda iman adalah mencintai (kaum) Anshar dan tanda nifaq adalah membencinya.” (HR. Imam Bukhari)
Dari kedua hadis yang telah disebutkan di atas, kita akan paham bahwa orang Muslim yang mencintai para shahabat, maka ia juga telah mencintai Rasulullah dan termasuk orang yang beriman. Sebaliknya, orang yang membenci para shahabat, maka berarti ia juga telah membenci Rasulullah dan termasuk orang yang munafiq.
Imam Muhammad Abdurrauf al-Munawi dalam Faidhul-Qadir Syarh Jamî’i-Shaghir, berpendapat terkait hadis Imam Bukhari tersebut. Beliau berkata, “Tanda sempurnanya keimanan seseorang atau inti dari keimanan tersebut ialah mencintai orang-orang beriman dari golongan ‘Aus dan Khazraj. Demikian ini karena kesetiaan mereka (golongan ‘Aus dan Khazraj) terhadap janjinya pada Allah untuk selalu menolong utusan-Nya melawan musuh-musuhnya di saat lemah dan sulit.”
Baca juga: Mudik ke Posisi Syariah
Abu Ja’far At-Thahawi dalam kitabnya, Syarhut-Thahâwi berpendapat, “Kita mencintai para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antaranya. Tidak juga kita bersikap meremehkan terhadap seorang pun dari mereka. Kita membenci siapasiapa yang membenci mereka dan siapa-siapa yang menyebutkan mereka dengan kejelekan. Kita pun hanya menyebut mereka dalam kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, keimanan, dan ihsan, sementara membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan melampaui batas.”
Maka, dengan demikian, tidak ada alasan bagi umat Muslim untuk tidak mencintai para Shahabat dan memuliakan mereka. Sebab, adalah orang-orang pilihan yang rela membela dan membantu Rasulullah untuk menyebarkan dan menegakkan agama Islam.
Ahmad Rizqon/Sidogiri




