شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ الْمُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الْحَقَّ لِأَهْلِهِ فَأَثْبَتَ الْاَمْرَ مِنْ وُجُوْدِ أَصْلِهِ وَاْلْإِسْتِدْلَالُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُوْلِ اِلَيْهِ وَاِلَّا فَمَتَى غَابَ حَتَّى يَسْتَدِلَّ عَلَيْهِ وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُوْنَ الْاَثَارُ هِيَ الَّتِيْ تُوَصِّلُ اِلَيْهِ

Betapa jauh bedanya antara orang yang berdalil bahwa adanya Allah menunjukkan adanya alam dan orang yang berdalil bahwa adanya alam menunjukkan adanya Allah. Orang yang mengatakan bahwa “adanya Allah menunjukkan adanya alam” adalah orang yang telah mengenal Allah (al-Haq) dengan kepatuhan-Nya. Karena itulah, ia menetapkan keberadaan alam ini dari keberadaan pangkal (Dzat) yang membuatnya. Sementara itu, yang berdalil bahwa “adanya alam menunjukkan adanya Allah” adalah orang yang belum sampai kepada-Nya. Sebab, sejak kapan Allah itu gaib sehingga Dia harus dibuktikan dengan adanya alam?. Dan kapan Allah itu jauh sehingga semesta ini harus menjadi pengantar menuju-Nya?.

Keragaman tipikal seseorang dalam memandang sesuatu memiliki kecenderungan yang berbeda-beda. Ada yang menganggap segala sesuatu bermula dari pangkal. Sehingga adanya cabang atau buah itu ditunjukkan oleh adanya pangkal. Ada lagi yang memiliki cara pandang berbeda: Justru cabang dan buah yang menunjukkan adanya pangkal. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, manakah yang lebih menunjukkan kepada yang lain, antara pangkal dan cabang? Bisa saja seseorang melihat buah lalu berkata, adanya buah ini menunjukkan adanya pohon. Mungkin juga ada yang berkata, adanya pohon menunjukkan adanya buah. Keduanya sama-sama mungkin karena antara pohon dan buah sama-sama ciptaan (makhluk). Apakah dua kemungkinan ini juga berlaku untuk menunjukkan salah satu di antara makhluk dan penciptanya (Khaliq)?.

Di saat kita menyebut Sang pencipta, maka yang di maksud adalah Yang Maha menciptakan segala sesuatu. Termasuk segala sesuatu adalah akal untuk berfikir dan cahaya untuk melihat. Dan Sang pencipta itu adalah Allah. Ketika seseorang memandang semesta, sejatinya ia bisa melihat dan mengamati keadaan sekitar dengan adanya cahaya hidayah dari Allah.

Maka pada hakikatnya ketika seseorang melihat sesuatu, yang menunjukkan serta menampakkan sesuatu itu sehingga bisa tertangkap oleh indera penglihatan adalah Allah. Perumpamaannya seperti ini, di pekat malam sesesorang mengarahkan pandangannya ke sumber cahaya (lampu), ternyata lampu itu berada di suatu ruang, syahdan di ruang itu ia melihat banyak hal dari benda-benda di sekelilingnya. Dari sini tentu kita menjadi tahu apa yang menjadi penunjuk dan apa pula yang ditunjukkan. Adakah kemudian makhluk berakal yang menganggap bahwa lampu bukanlah penunjuk dan benda bukan yang ditunjuk?

Karena Allah seseorang mampu melihat dunia di sekelilingnya. Karena Allah pula ia mampu memahami dan mengerti rahasia-rahasia. Sebagaimana yang termaktub dalam QS. An-Nur (34:35) yang artinya, “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”. Maka tak heran bagi kaum Muqarrabin yang terlintas pertama kali adalah Allah dan nûr, yang kemudian mengantar mereka melihat ciptaan Allah. Jika tidak ada Sang Pencipta maka tidak akan pernah ada ciptaan. Sama juga ketika tidak ada cahaya petunjuk maka kegelapan tidak akan menjadi terang.

Sedangkan orang yang cara pandangnya tertutup oleh pekatnya awan hitam keduniaan, ia terus mencari cahaya petunjuk meski ia sendiri berada di tengah-tengah cahaya itu. Tentu hal ini terkesan lucu. Betapa tidak, karena sejatinya mereka adalah orang-orang yang lupa bahwa Allah sejatinya cahaya di atas cahaya. Sekali lagi mereka hanya lupa, bukan Allah terhalang (terhijab) karena tak ada suatu apapun dari ciptaannya yang mampu menghijab Allah dari pandangan hamba. Kecuali mereka yang lalai dan lupa. Bagaimana QS. Al-Hasyr (19:59) telah menyinggung hal ini yang artinya “Orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”

Sebagian kaum saleh dan wali Allah dari kalangan salaf kita, ada yang memendekkan pandangan hanya kepada Allah sebagai pencipta. Mereka tak perlu memandang jauh pada semua ciptaan Allah hanya untuk mengenal siapa Sang pencipta. Mereka menegnal Allah dan tenggelam dalam kesaksian atas kehadiran-Nya tanpa diperbantukan oleh ciptaan-ciptaan Allah. Yang mereka lihat dari ciptaanciptaan itu hanya betapa besar dan agungnya sifat wahdaniyat yang Allah miliki. Setiap melihat gunung, langit, bumi, hamparan laut dan samudera yang tampak hanyalah keagungan Sang Pencipta.

Beda halnya dengan kita kalangan awam. Mula-mula kita melihat ciptaan untuk mengetahui siapa penciptanya. Seolah-olah benda-benda itu memang benar-benar ada. Padahal wujudnya hanya pantulan dari waujud hakiki. Lantas setelah mengamati benda-benda itu kita terjebak dalam pertanyaan, siapakah yang menciptakan semua ini? Siapa pula yang telah mengatur semua ini sedemikian rapi sehingga tidak saling tumpang tindih? Baru setelah itu kita sadar, bahwa memang sudah semestinya setiap ciptaan pasti ada yang menciptakan, baru setelah melalui proses perenungan yang panjang kita menyadari bahwa Allah sebaik-baiknya Dzat Pencipta.

Namun demikian bukan sesuatu yang tercela jika seseorang mengalami fase dan tahapan mengenal ciptaan terlebih dahulu baru mengenal siapa penciptanya. Karena memang bukan suatu aib bagi orang yang pincang untuk berjalan dengan menggunakan alat bantu. Jadi orang awam seperti yang diterangkan di atas diumpamakan orang pincang yang agar bisa berjalan ia butuh pada kursi roda atau semacamnya. Untuk bisa mengenal Allah orang awam butuh untuk terus mengamati dan meneliti melalui perantara ciptaan-Nya. Yang menjadi aib adalah jika seseorang sama sekali tak dapat mengenali Allah baik secara langsung atau dengan bantuan ciptaan-Nya sekalipun. Wallahu a’lam