Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan unjukrasa dalam rangka Aksi Bela Islam, yang diwujudkan dengan cara berdemonstrasi menuntut dipenjarakannya orang yang menistakan al-Quran. Namun, melalui sosial media saya membaca, sementara tokoh ada yang tidak suka dengan adanya aksi tersebut. Tokoh itu mengatakan bahwa Islam tak perlu dibela, al-Quran tak perlu dibela, bahkan Tuhan tak perlu dibela. Tokoh itu beralasan karena Islam agama yang sudah pasti benar, al-Quran pasti benar, dan Tuhan juga Maha Berkuasa, sehingga tak memerlukan pembelaan dari makhluk. Bagaimana seharusnya kita menanggapi pernyataan semacam itu?

Jawaban

Memang, di internet banyak beredar kata-kata yang memukau, menggugah dan tanpak masuk akal. Satu kata-kata terkenal yang beredar dan digunakan untuk menyangkal Aksi Bela Islam adalah, “Tuhan Tak Perlu Dibela”. Maksud dari kalimat tersebut kira-kira adalah, bahwa kita semua meyakini bahwa Allah adalah maha segalanya. Karena itu kita sebagai hamba-Nya yang kecil dan lemah tentu tidak perlu untuk membela-Nya. Jika kita sebagai hamba yang tak punya daya apa-apa kemudian sok membela-Nya, baik dengan katakata maupun perbuatan, maka tentu itu adalah hal yang sia-sia belaka, karena hakekatnya Dia sama sekali tak membutuhkan pembelaan kita.

Sekilas, kata-kata “Tuhan Tak Perlu Dibela” memang tampak masuk akal. Namun perlu diketahui, bahwa katakata tersebut biasanya digunakan oleh orang-orang liberal untuk mengkritik mereka yang merasa berkewajiban untuk membela agama Allah (Islam) dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar, seperti melarang umat Islam berjualan di siang hari bulan Ramadan, merazia toko-toko yang menjual minuman-minuman keras, menyisir tempat-tempat yang biasanya dijadikan sebagai sarang maksiat, menuntut penista al-Quran untuk dipenjarakan, dan lain sebagainya.

Nah, jika kalimat “Tuhan Tak Perlu Dibela” itu difungsikan sedemikian, maka berarti itu adalah kata-kata benar yang telah disalahgunakan. Memang benar bahwa Tuhan dengan segala Kebesaran, Kekuatan, dan Kemahakuasaan-Nya, sama sekali tak memerlukan pembelaan dari makhluk-Nya. Namun di sisi lain, Allah memerintahkan kita untuk “membelaNya”, dalam arti menegakkan syariatNya di muka bumi, memerintahkan pada kebaikan dan mencegah kemunkaran, yakni melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Perintah untuk menolong atau membela Allah, yakni menolong agama Allah, merupakan perintah yang jelas dan tegas dalam al-Quran, di mana Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (محمد [47]: 7(

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad [47]: 7)

Dengan demikian, kalimat “Tuhan Tak Perlu Dibela” telah bertentangan dengan ayat di atas, di mana Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menolong dan membela agama-Nya, yang dengan itu kita dijanjikan pertolongan dan pembelaan dari Allah. Bahkan, melakukan amar ma’ruf nahi munkar merupakan ciri khas dari umat Islam, yang dengan itu mereka menjadi umat terbaik yang pernah ada, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ (آل عمران [3]: 110(

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma›ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Alu Imran [3]: 110)

Moh. Achyat Ahmad/sidogiri