لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ (الْوَاصِلُوْنَ اِلَيْهِ) وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ (السَائِرُوْنَ اِلَيْهِ)

Hendaklah orang yang diberi keluasan rezeki (yaitu orang-orang yang telah sampai keada Allah) memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya (yaitu orang yang tengah menuju Allah) hendaklah memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya. (QS. Ath-Thalaq (65): 7)

Ketika dalam hikmah sebelumnya Ibnu Athaillah membedakan antara kalangan yang menjadikan Allah dalil bagi adanya semesta dengan kalangan yang menjadikan semesta dalil atas wujudnya Allah, maka dalam kesempatan ini Ibnu Athaillah hendak menjelaskan secara gamblang bahwa dari kedua kalangan ini sama baik. Penjelasannya seperti ini;

Kalangan yang menjadikan Allah sebagai dalil atas keberadaan semesta kita sebut dengan golongan yang sudah wushul (berada pada tahapan tertinggi dalam suluk). Bagi kalangan ini sangat pas dengan firman Allah dalam QS. Ath-Thalaq (65): 7 yang artinya: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya.”

Infak yang dimaksud tiada lain sebagai bentuk rasa syukur serta pengakuan atas anugerah yang didapatkan. Jadi infak yang mesti dilakukan di sini adalah rasa syukur yang terwujud dalam senantiasa mengerjakan hak-hak Allah yang paripurna. Hak-hak itu antara lain mengajak kepada Allah dan amaliyah yang mendorong tertanamnya rasa cinta kepada Allah. Maha benar Allah yang berfirman dalam QS. Fusshilat (41): 33.

Sedang kalangan yang menjadikan semesta sebagai dalil akan keberadaan penciptanya disebut dengan salik. Mereka adalah orang-orang yang berusaha keras menghilangkan tebalnya kabut hawa nafsu, kesibukan duniawi dan kesenangan diri. Kabut itu yang membuat mereka kian jauh dari Allah dan membuat mereka merasa butuh untuk menempuh lorong waktu hanya untuk mencari tahu siapa pencipta semesta. Hingga akhirnya mereka bangkit untuk mengumpulkan ayat demi ayat, memadukan bukti demi bukti sehingga terkumpul bagi mereka beberapa dalil kauniyah yang menetramkan hati. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Ath-Thalaq (65): 7.

Infak dalam ayat ini- sebagaimana dalam ayat sebelumnya juga memiliki arti syukur. Hanya syukur di sini lebih mengarah pada diberikannya pertolongan atas kemampuan untuk melawan hawa nafsu, serta menghapus kabut tebal akibat pergulatan kesibukan dengan hal-hal duniawi. Kalangan ini juga mencoba sekuat tenaga untuk menghapus jarak yang ada dalam sangkaan mereka sendiri antara keberadaan mereka dan keberadaan Allah Sang Pencipta. Tentu, upaya menghapusnya dengan bertumpu pada ayat yang mereka renungi dan mereka kompilasikan sendiri.

Betapapun di antara dua kubu ini memiliki perbedaan persepsi di awal perjalanan, namun keduanya akan sampai pada satu titik: makrifat kepada Allah. Adakah di dunia ini kenikmatan yang lebih agung dan lebih abadi dari pada nikmat seorang hamba diperkenankan mengenal, mencintai dan begitu dekat dengan Tuhannya? Pada titik ini maka kita harus meyakini bahwa masing-masing dari dua kalangan ini sama-sama baik.

Sama saja apakah Allah memperkenalkan pada Dzatnya sejak awal mula, yang berarti tanpa mengambil sampel adanya bukti atau dalil apapun atas wujud-Nya, atau dengan cara menampilkan kepadamu bukti dan dalil untuk dijadikan perantara untuk mengenal Tuhan, keduanya merupakan anugerah yang patut disyukuri. Hikmah ini mirip dengan apa yang disampaikan cendekiawan barat, Baseckell, yang berkata: “Orang-orang yang beruntung itu ada dua golongan: 1. Mereka yang mengenal Allah dengan sekuat tenaga mencari keridaan-Nya. 2. Mereka yang sungguh-sungguh di dalam mencari Allah melalui ciptaan-Nya. Sedang orang yang celaka adalah mereka yang tidak mengenal Allah dan juga tidak berusaha mencari-Nya.”

Kemudian langkah selanjutnya yang mesti dilakukan adalah menggugah diri dari yang semula memberdayakan ayat-ayat semesta untuk lebih jauh mengenal siapa Sang Pencipta, maka pada gilirannya perlu untuk perlahan mengapus kesibukan-kesibukan itu. Sehingga jika di awal mula kebutuhan kepada ayat-ayat kauniyah untuk melesatkan potensi diri mengenal Tuhan, maka di saat tujuan itu telah tercapai, mesti ada langkah-langkah untuk menghapus ayat-ayat kauniyah tadi sehingga tidak terlalu jauh menggelayuti alam pikiran kita.

Ketika kita melihat pancaran sinar di sebuah dinding, yang tak lain sinar itu adalah pancaran dari kemilau mentari, maka di saat kita telah menemukan matahari sebagai sumber dari pantulan cahaya itu, tentu tidak perlu lagi menelaah lebih dalam tentang apa dan bagaimana sinar di dinding itu bukan?

Betapapun juga dalil-dalil yang menjadi perantara untuk mengenal Dzat Pencipta telah menaruh keyakinan di hati. Maka selanjutnya pergunakan keyakinan itu untuk tetap mengenal Tuhan dengan cara yang paling diridaiNya. Tak perlu kita melangkah mundur dengan kembali memandang semesta yang dibahasakan sebagai ayat kauniyah. Sebab seseorang tidak pernah tahu kapan ia mati. Sungguh sangat miris apabila seseorang telah sampai pada tujuan namun di akhir hayat justru langkahnya tergelincir ke lembah terjal yang pernah dilaluinya. Jika ajal datang menjemput di saat kesibukan dengan dunia –perantara untuk sampai pada Allah, padahal sejatinya kemakrifatan telah diraih, sungguh yang demikian ini tidak bisa disebut golongan orang-orang yang beruntung.