لَا تَرْحَلْ مِنْ كَوْنٍ إلَى كَوْنٍ, فَتَكُوْنُ كَحِمَارِ الرَّمَى, يَسِيْرُ وَالْمَكَانُ الَّذِيْ ارْتَحَلَ إِلَيْهِ هُوَ الَّذِيْ ارْتَحَلَ مِنْهُ. وَلَكِنِ ارْتَحِلْ مِنْ الْأَكْوَانِ إلَى الْمُكَوِّنِ. وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَى. وَانْظُرْ إلَى قَوْلِ رَسُوْلِ الله فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى الله وَرَسُوْلِهِ, فَهِجْرَتُهُ إلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ. وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلىَ الدُّنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةً يَنْكِحُهَا فَحِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ. فَافْهَمْ قَوْلَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتَأَمَّلْ هَذَا الْأمْرَ إنْ كُنْتَ ذَا فَهْمٍ.

Janganlah engkau pergi meninggalkan sesuatu di dunia ini (kawn), untuk menggapai sesuatu yang lain, sehingga engkau akan mirip seperti keledai penggiling gandum yang berputar-putar. Sesuatu yang engkau tuju sejatinya adalah sesuatu yang engkau tinggalkan di saat yang sama. Melainkan tinggalkanlah sesuatu selain Tuhan menuju Tuhan Dzat Yang Menjadikan. Sebab segala kembalimu hanya pada-Nya. Simaklah apa yang disabdakan Rasulullah: “Barang siapa berhijrah untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mencapai Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, barang siapa yang hijrah betujuan untuk kepentingan dunia atau mempersunting seorang wanita, maka hijrahnya akan sampai sebatas apa yang dituju.” Camkan sabda Nabi di atas, bila engkau benar-benar memiliki pemahaman.

Merupakan sebuah keniscayaan, manusia berpindah dari satu dimensi menuju satu dimensi yang lain. Manusia berpindah dari tiada menuju ada. Berpindah dari ada untuk kembali tiada. Berpindah dari satu pemahaman menuju satu pemahaman yang lain. Berpindah dari satu dimensi ruang menuju dimensi ruang yang lain. Berpindah dari satu masa menuju satu masa yang lain. Dan begitulah seterusnya.

Bahkan ketika para shahabat Nabi mendapatkan isyarah langit untuk pindah dari Makkah menuju Madinah, atau yang dikenal dengan hijrah, Rasulullah segera memberikan rambu-rambu perpindahan agar hijrah mereka tidak sia-sia.

“Barang siapa berhijrah untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mencapai Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, barang siapa yang hijrah betujuan untuk kepentingan dunia atau mempersunting seorang wanita, maka hijrahnya akan sampai sebatas apa yang dituju.”

Begitulah Rasulullah memberikan pesan perpindahan dengan kualitas terbaik. Menjadikan dimensi ketuhanan sebagai poros perpindahan, merupakan pilihan paling tepat dibandingkan menjadikan material sebagai porosnya. Di sinilah perbedaan antara Allah dan siwa-Nya. Allah ada awal dari segala permulaan, serta akhir dari segala ketiadaan makhluk. Sedangkan siwallah hanyalah kefanaan yang nyata.

Maka tujuan akhir dari kehidupan manusia di dunia adalah mencari ridha Allah. Berupaya untuk bisa menunaikan semua kewajiban-Nya. Memaksimalkan aktifitas untuk memenuhi semua perintah-Nya. Sebagai bentuk penghambaan dan kecintaan kepada Dzat Yang Menciptakan. Apabila semua yang dilakukan sudah berorientasi Allah, semua lillah, maka gerakan, diam, dan semua keadaan hanyalah milik Allah.

Sebaliknya, apabila pekerjaan yang dilakukan berorientasi material fana. Melakukan kebaikan untuk menarik simpati manusia. Melayani makhluk untuk makhluk. Lalu dia terus menjalani kehidupan dengan pola ini, maka sesungguhnya kehidupannya akan berputar tanpa pernah sampai. Sebagaimana keledai penggiling gandum yang terus berputar. Perjalanan panjang tanpa ada tujuan.

Itulah mengapa Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan, “Janganlah engkau pergi meninggalkan sesuatu di dunia ini (kawn), untuk menggapai sesuatu yang lain, sehingga engkau akan mirip seperti keledai penggiling gandum yang berputar-putar. Sesuatu yang engkau tuju sejatinya adalah sesuatu yang engkau tinggalkan di saat yang sama.”

Perumpamaan ini sangat mengena terhadap manusia yang meletakkan dimensi material sebagai poros kehidupan. Yang dilakukan mengharap seludah pujian, tak pernah lelah menunggu perhatian. Maka sesungguhnya dia telah terjebak di dalam lingkaran setan tanpa pernah sadar.

“Bahkan keadaan manusia semacam ini lebih mengenaskan dari pada keledai penggiling gandum”. Begitulah Syekh Said Ramdhan al-Buthi menyampaikan lebih terhinanya manusia keledai penggiling gandum dibanding keledainya sendiri. Mengapa? Setidaknya ada dua hal yang mendasarinya.

Pertama, pada hakikatnya manusia jauh lebih mulia dari pada hewan manapun, termasuk keledai. Dia mendapat keutamaan berfikir yang membuatnya berbeda dengan lainnya. Maka, seharusnya keutamaan inilah yang menjadikan manusia tidak sama dengan hewan lainnya. Apabila keadan mereka masih sama, maka dimana kelebihan akal pikiran yang Allah anugerahkan kepada mereka.

Sebagaimana dua motor dengan dua mesin yang berbeda. Motor satu memiliki mesih 125cc. Sedangkan motor satunya mendapatkan kelebihan berupa mesih 250cc. Namun saat keduanya dijalankan, ternyata kecepatannya sama saja. Tidak bisa mendahului meski hanya se-inchi. Maka dimanakah letak kelebihan motor berdaya 250cc itu?

Kedua, keterpaksaan keledai untuk berputar dengan tanpa batas akhir adalah perintah dan paksaan tuannya. Serta pekerjaannya tidaklah berlalu dengan sia-sia. Karena tenaga yang banyak dikeluarkan juga banyak membuahkan hasil. Ada banyak gandum yang dihaluskan menjadi tepung, hingga akhirnya bisa diolah menjadi roti.

Hal itu berbeda jauh dengan pergerakan manusia dari satu makhluk menuju makhluk yang lain. Pergerakan itu merupakan pergerakan stagnan. Adalah kesia-siaan yang tidak bisa memberikan manfaat apapun. Bahkan perjalanan mereka hanya akan menambah jauh hubungan penghambaanya kepada Allah. Maka adakah makhluk yang lebih rugi dari pada mereka yang menjauh dari Tuhannya?

Maka tiada manusia yang bisa hidup hanya dengan putaran materi. Melainkan harus ada dimensi ketuhanan sebagai poros kehidupan. Manusia tidak bisa hidup hanya dengan urusan duniawi. Melainkan harus ada dimensi ukhrawi yang dipastikan abadi. Dan kehidpan abadi inilah yang bisa mendatangkan ketenangan dan ketentraman hati yang hakiki.

Baca juga: Menjaga Hati Kepada Ilahi

Spread the love