Tren penggunaan jilbab yang terjadi di Indonesia pada dekade belakangan ini merupakan perkembangan positif yang menunjukkan bahwa keberagamaan di Indonesia ini semakin baik, bahkan tren ini kemudian juga melanda kalangan artis. Namun disayangkan, sebagian orang masih ada yang antipati terhadap jilbab ini, dan lebih disayangkan lagi mereka malah kerap mengulang-ulang kata-kata “yang penting hatinya berjilbab”, karena menurut mereka, berjilbab tak menjamin hati seseorang menjadi baik. Kadang orang yang tak berjilbab lebih baik daripada orang yang tak berjilbab. Lalu bagaimana kita menanggapi perkataan seperti itu?

Jawaban

Pertama, standar yang kita gunakan dalam beragama adalah aturan syariat. Maka yang sesuai dengan syariat adalah benar menurut agama, sedang yang tidak sesuai dengan syariat bisa dipastikan salah menurut agama, apapun alasannya. Nah, berjilbab adalah perintah agama yang wajib dipatuhi oleh setiap Muslimah tanpa terkecuali, apakah dia hatinya sudah baik atau belum, apakah dia sudah siap berjilbab atau belum.

Kedua, mengatakan “yang penting hatinya berjilbab” itu adalah salah satu dalih untuk meninggalkan aturan syariat yang baku. Biasanya konsep itu dilakukan oleh orang-orang aliran kebatinan untuk membenarkan tindakan-tindakan mereka yang semau gue. Misalnya, mereka tidak mau mengerjakan shalat dengan dalih bahwa inti dari shalat adalah mengingat Allah. Jadi kalau hati sudah mengingat Allah maka tidak perlu shalat. Pemikiran seperti ini jelas batil dan bertentangan dengan perintah syariat Islam.

Ketiga, menganggap orang yang berjilbab belum tentu hatinya baik, sesungguhnya adalah berburuk sangka kepada wanita Muslimah yang telah taat dalam menjalankan ajaran agamanya. Artinya orang yang beranggapan seperti itu sebenarnya telah melakukan dua keburukan; sudah tidak taat kepada ajaran agamanya, namun masih menaggap orang yang taat pada ajaran agama sebagai orang yang belum tentu baik hatinya.

Keempat, semua perempuan yang menjadi teladan bagi para wanita Muslimah sejak generasi awal dalam Islam adalah perempuan-perempuan yang mengenakan jilbab, seperti Ummahâtul-Mu’minîn (istri-istri Baginda Nabi) putri-putri Baginda Nabi, istri-istri para ulama sejak generasi Shahabat hingga para kyai pengasuh pesantren saat ini, mereka semua mengenakan jilbab. Jika kita sepakat wanita-wanita ini adalah teladan dan menjadi panutan, maka harus disepakati pula bahwa wanita tak berjilbab bukan panutan dan tak boleh ditiru.