Suatu ketika Haidar Baqir, CEO Mizan Group, bertemu dengan Syekh Ali Taskhiri, seorang ulama terkemuka Syiah di Iran. Dia salah satu orang dekat Ayatullah Khomeini serta Wakil Darut Taqrib Bainal Madzahib (Perkumpulan Pendekatan antar-Madzhab). Ali Taskhiri dengan tegas menyatakan, “Hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk men-Syiahkan kaum Muslim di Indonesia.”

Pernyataan tersebut muncul terkait dengan caci-caci maki shahabat yang tak henti-hentinya dilontarkan dan misi untuk menjadikan Indonesia sebagai ‘Iran” kedua. Syiah beranggapan bahwa men-Syiahkan Indonesia hanya angan-angan semu saja dan mencaci shahabat tidak akan menemukan titik temu. Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa Syiah ingin berdamai dengan Ahlussunah di Indonesia. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Solusi damai yang diidamidamkan selama ini hanya sebatas pernyataan-pernyataan yang kosong dengan bukti. Barangkali seperti inilah jika Taqiyah mereka digunakan.

Hingga saat ini, Syiah masih belum berhenti dalam caci-maki shahabat Rasulullah meski hal tersebut merupakan propaganda dari segelintir kecil kelompok saja. Bahkan, sebenarnya antara Sayyidina Ali dan sahabat yang lain khususnya Abu Bakar, Umar, dan Usman tidak ada apa-apa sehingga tidak heran dalam pembaiatannya Sayidina Ali berkata,

“Aku telah dibaiat oleh umat yang pernah membaiat Abu Bakar, Umar dan Ustman, dan tidak seorang pun di antara yang hadir mempunyai pilihan lain atau sengaja tidak hadir karena setuju. Semua merupakan hasil musyawarah antara Muhajirin dan Anshar.”

Begiutlah Sayidina Ali ketika mengungkapkan keikhlasannya dalam menerima musyawarah umat Islam dalam pembaiatan ketiga khalifah sebelumnya. Hal ini disampaikan oleh Sayidina Ali 20 tahun setelah pembaiatan beliau saat membela keabsahan khilafahannya dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Pernyataan itu pula menunjukkan bahwa Sayyidina Ali setuju pada kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar dan Sayidina Umar. Hal itu tidak berbeda dengan apa yang beliau sampaikan di masa Abu Bakar. Ini berarti Saydina Ali tidak bertaqiyah sebagaimana yang diyakini oleh Syiah. 

Dalam Al-Bidâyah wan Nihâyah, Ibnu Katsir memuat pidato Sayidina Abu Bakar setelah pelantikannya, “…. Demi Allah sungguh tak kuduga sebelumnya kalau aku telah dibebani tanggung jawab amat besar yang tak sepadan dengan kemampuanku. Aku lebih bahagia jika kedudukan ini ditempati oleh orang yang lebih kuat  di antara kalian, tapi orang itu sudah mengajukan penolakannya dan diterima oleh kaum muhajirin.”

Pidato tersebut menunjukkan akan keikhlasan Sayidina Abu Bakar bukan bentuk pernyataan seorang yang telah merebut kekuasaan dari tangan orang lain sebagaimana yang dituduhkan oleh Syiah. Beberapa waktu kemudian setelah terlantiknya Abu Bakar, Sayidina Ali berkata,

“Kami tidak membenci permusyawaratan, kami menyaksikan bahwa pribadi Abu Bakar paling pantas dan berhak ketimbang orang lain… Abu Bakar juga paling tua dan Rasulullah telah memintanya menjadi imam shalat pada waktu beliau masih hidup.” keterangan ini dibenarkan oleh Husein Kasyif al-Ghitha, tokoh Syiah modern.

Pada awalnya, isu yang muncul hanya sebatas keinginan sebagian kelompok untuk menjadikan Sayidina Ali sebagai khalifah. Namun, isu-isu itu semakin berkembang dan menjadi isu pengkultusan. Hal ini bersamaan dengan isu yang dihembuskan oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi asal San’a Yaman yang keberadaanya dianggap sebagai tokoh legenda. Di tahun 30 Hijriah, Ibnu Saba’ hidup berpindah-pindah dari dari Hijaz, Bashrah, Kuffah hingga Syam. Selama kehidupan nomadennya, Saba’ menyebarkan fitnah terhadap shahabat.

Dalam al-Kâfi, kitab rujukan utama kaum Syiah, al-Kulayni mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ meriwayatkan bahwa Rasulullah berwasiat agar Sayidina Ali menjadi khalifah selepas meninggalnya beliau. Namun, menurut Ibnu Saba’, para shahabat itu tersebut tidak mematuhi apa yang telah diwasiatkan Rasulullah dan merebut kekuasaan dari tangan Ali dan anak-anaknya. Tidak berhenti di situ, Ibnu Saba’ juga menebar isu bahwa sepeninggal Rasuullah, para shahabat kembali menjadi kafir kecuali tiga orang yaitu Miqdad bin al-Aswad, Abu Dar alGhifari dan Salman al-Farisi.

‘Gosip’ itu terus dilancarkan Ibnu Saba’ hingga sampai pada pengkultusan Sayidina Ali. Tidak heran jika para pengikut Ibnu Saba’ ini sampai mempunyai kepercayaan bahwa dalam diri Sayidina Ali terdapat unsur ketuhanan. Sayidina Ali merupakan sosok yang membawa awan, petir adalah suaranya dan kilat adalah alamatnya.

Ketika ‘gosip’ Ibnu Saba’ didengar oleh Sayidina Ali, beliau sangat marah dan segera memanggilnya. Ketika bertemu dengan Sayidina Ali Ibnu Saba’ masih lancang berkata, “Engkau adalah Allah.” Sayidina Ali pun berkata,

قد سخر منك الشيطان

“Engkau telah dikuasai oleh setan”

Selama ini, konflik yang tertulis dalam kitab-kitab Syiah sebenarnya terjadi karena provokasi yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Persia.

Beberapa analisis yang dilakukan oleh ulama sebenarnya banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa Syiah, khususnya Syiah Itsna Asyariah, dalam membenci shahabat, faktor fanatisme buta mereka terhadap Sayidina Ali. Di satu sisi, orang-orang Syiah banyak dipengaruhi oleh Persia. Hal ini cukup beralasan mengingat Abu Bakar dan Umar telah memadamkan api Majusi di daerah tersebut. Karenanya Abu Lu’luah, seorang Persia, sangat berhasrat sekali untuk membunuh Umar. Abu Lu’luah bersekongkol dengan Hurmuzan, salah satu pembesar Persia yang pura-pura masuk Islam. Alasan ini semakin menguat ketika orang Syiah memberi gelar kepada pembunuh Umar ini dengan Baba Syuja’uddin (Bapak pembela agama). Hari terbunuhnya Sayidina Umar diperingati sebagai hari raya, hari kebanggaan, hari penghormatan dan hari zakat bahkan kuburannya diziarahi oleh orangorang Syiah di daerah Bagh-e Fein kota Kashan. Di hari-hari tersebut, mereka melaksanakan acara pelaknatan terhadap Khalifah Umar serta mengucapkan terima kasih kepada ruh Abu Lu’luah yang telah melakukan tindakan ‘balas dendam’.

Hingga kini, doktrin dan ideologi Syiah terus disebarkan ke seleuruh dunia, baik melalui propaganda hingga doktrin-doktrin yang penuh dengan Taqiyah. Usaha jalan damai terus dilakukan namun tidak menghasilkan apa-apa karena pada hakikatnya Ahlussunah mempunyai prinsip ideologi tersendiri sedangkan begitu pula dengan Syiah. Mereka adalah Islam yang ‘lain’. 

Isom Rusydi/sidogiri