Perayaan hari-hari besar Islam merupakan suatu keniscayaan bagi umat Islam saat ini, sebab ia berfungsi untuk mengingatkan umat terhadap “hari-hari Allah”, menumbuhkan girah dan semangat keagamaan, mengibarkan syiar-syiar Islam, serta membikin sejarah tetap hidup di tengah-tengah umat, tidak tergilas dan tenggelam ditelan budaya-budaya lain yang kini tengah dikampanyekan dengan kian gencar.

Maka, merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad termasuk bagian dari keniscayaan tersebut. Bahkan lebih dari itu, ikut bergembira dengan kelahiran Nabi adalah bukti dan ekspresi akan kecintaan umat terhadap Baginda Nabi. Di dalamnya terbingkai pembacaan salawat Nabi, sirah Nabi, wejangan para ulama, serta bersedekah kepada orang-orang yang menghadiri peringatan tersebut.

Bahkan di sebagian daerah, perayaan Maulid berlangsung selama satu bulan penuh, yang dilakukan secara bergilir dari rumah ke rumah. Malah, di daerah yang lain lagi, perayaan Maulid tidak hanya dilaksanakan di bulan Rabiul Awal saja, akan tetapi juga pada bulan-bulan yang lain. Ini semua menunjukkan bahwa betapa Maulid sudah menjadi peristiwa yang tidak terpisahkan dari umat Islam di Indonesia; menjadi bagian dari agama, tradisi, dan budaya mereka.

Namun, betapapun peringatan Maulid murni merupakan kebaikan, akan tetapi bukan berarti ia tidak perlu mendapatkan koreksi, yang dimaksudkan sebagai catatan agar perayaan yang baik ini menjadi lebih baik lagi. Pertama, catatan dimaksud adalah bahwa perayaan Maulid di sebagian daerah di Nusantara masih berlangsung sebatas seremonial belaka, dan minim atau bahkan nihil akan penghayatan dan pemaknaan.

Maulid sebagai seremonial tentu sudah baik, akan tetapi tanpa pemaknaan dan penghayatan, tentu tujuan utama dari perayaan ini tidak tercapai secara maksimal. Sebab tanpa pemaknaan, kendati Maulid dilaksanakan setiap tahun, ia tidak akan memberikan pengaruh dan perubahan yang berarti pada kehidupan nyata kita. Padahal perubahan riil itulah yang sangat kita harapkan.

Sebagai gambaran, konon pada zaman Sultan Salahudin al-Ayubi, pembacaan Maulid dijadikan sebagai pemantik semangat juang para tentara Islam, sehingga mereka bisa merasakan perjuangan Nabi di medan perang, lalu semangat juang Baginda Nabi itu merasuk ke dalam sanubari masingmasing individu tentara Muslim, yang selanjutnya mereka berhasil memukul mundur pasukan Salib. Dengn demikian, semestinya Maulid juga bisa menyuntikkan semangat yang sama kepada setiap individu Muslim yang berjuang di berbagai bidang yang berbeda-beda.

Kedua, sangat disayangkan masih ada kelompok dari umat Islam yang mengolok-olok perayaan Maulid Nabi. Mereka tidak henti-hentinya berbicara di komunitas-komunitas mereka, lalu disebarkan di media sosial dan internet, bahwa perayaan Maulid Nabi ini tidak berguna, merupakan perkara baru (bidah) yang harus segera dihapuskan. Padahal, faktanya Maulid Nabi dirayakan oleh hampir setiap umat Islam di berbagai belahan dunia. Para ulama juga sudah menjelaskan dalil-dalilnya dari al-Quran, Hadis dan qiyas.

Jika demikian halnya, maka semestinya tidak ada masalah sama sekali dengan perayaan Maulid Nabi. Masalah itu justru terletak pada kelompok anti Maulid itu sendiri, yang sengaja mengucil dari mayoritas umat, membuat paham dan amalan yang berbeda dari mayoritas umat, dan membuat umat Islam terkotak-kotak. Tentu kita berdoa, semoga kelompok yang mengucil dari umat ini segera kembali ke jalan yang benar, merapat ke barisan umat Islam Ahlusunah wal-Jamaah.