Sejak awal, Islam sangat memperhatikan urusan politik. Karena bagaimanapun, proses dakwah akan berjalan efektif dan maksimal apabila roda politik dikuasai. Islam dapat diterima dengan mudah ketika umat Islam menguasai perpolitkan Madinah. Terlebih ketika kota suci Makkah juga berhasil bebaskan. Tapi akhir-akhir ini, politik tidak lagi dimurnikan untuk perjuangan Islam, bahkan Islamlah yang diseret-seret ke dalam ranah pragmatis perpolitikan. Bagaimanakah sebenarnya kedudukan politik dalam Islam, serta apa beda dengan politisasi agama Islam? Berikut pemaparan lugas Habib Muhammad Baharun saat diwawancarai M. Muhsin Bahri, dari Sidogiri Media.

Politik dalam Islam, pandangan Habib?

Politik dalam Islam itu adalah politik yang santun dan berakhlak. Harus dihiasi dengan moralitas, sehingga hasilnya bisa kita nikmati sebagai politik yang bermartabat. Kalau politik yang tidak santun dan tidak berakhlak, itu namanya politik kotor.

Adakah contoh, karena banyak kita dengar bahwa politik itu pasti kotor?

Tidak demikian, politik itu bebas nilai. Politik itu bisa digunakan untuk menghasilkan maslahat untuk orang banyak. Kalau tidak begitu ya namanya politik kotor. Politik yang hanya untuk memikirkan kepentingan individu atau kelompok. Politik yang kekuasaannya dengan cara tidak prosedural.

Apakah futûhat yang dilakukan umat Islam di awal-awal penyebarannya sudah prosedural?

Ya waktu itu zamannya sangat berbeda dengan saat ini. Waktu itu, sebuah bangsa bisa bertahan dengan dua hal; defending dan futûhat. Kalau tidak ada defending dan futûhat waktu itu, ya sebuah bangsa bisa hancur. Sama seperti yang dilakukan Bizantium Romawi dari barat dan Persia dari timur. Semua itu agar kekuasaannya bisa survive, bisa bertahan. Ketika itu wilayah lainnya belum ada yang menguasai seperti saat ini, jadi masih diperebutkan. Tidak seperti sekarang yang sudah memiliki kedaulatan masingmasing. Sekarang tidak boleh lagi ada agresi dan ekspansi. Kalau dia sampai melakukan agresi, dia akan berhadapan banyak negara yang lain.

Jika futûhat sudah tidak lagi relevan, politik apa yang bisa dilakukan sekarang?

Ya memang masing-masing zaman punya konteksnya sendiri. Kalau sekarang ya dengan mencerdaskan anak bangsa. Dengan menguatkan ekonomi bangsa. Bukan lagi dengan gerakan militer seperti dulu. Itu adalah politik yang bersih saat ini.

Barusan tentang politik dalam Islam, bedanya dengan politisasi Islam?

Nah, politisasi Islam adalah politik yang menggunakan agama Islam sebagai alat mendapatkan kekuasaan. Jadi mereka menggunakan nilai jual agama untuk menarik simpati masyarakat, sehingga mereka mendapatkan kekuasaan. Setelah itu ya agamanya tidak lagi dihiraukan. Endingnya kekuasaan itu bukan lagi untuk memperjuangkan agama. Tapi sekadar untuk mendapatkan kekuasaan saja.

Misalkan ketika kampanye membawa nama-nama agama, al-Quran dikaitkaitkan, Hadis dikait-kaitkan. Tapi setelah terpilih di parlemen aspirasi umat sama sekali tidak diperhatikan. Ketika kampanye saja nama agama digaungkan, tapi ketika terpilih alkoholnya tetap diperjual-belikan, prostitusinya tetap dibiarkan. Ini namanya politisasi Islam.

Beda jika ketika kampanye mereka membawa nama agama, dan ketika terpilih agama betulbetul diperjuangkan, aspirasi umat diperjuangkan. Ini baru politik di dalam agama Islam.

Jadi makanya umat Islam jangan sampai tertipu antara orang yang berpolitik demi Islam, dengan mereka yang hanya memolitisasi Islam. Jelas berbeda. Dan bisa dilihat kok.

Ada fenomena yang lagi marak, semisal deklarasi 1000 kiai mendukung calon A, 1000 Bu Nyai mendukung calon B. Tanggapan Habib?

Itu sangat memprihatinkan. Kita umat Islam semakin terkotak-kotak. Dan jauh api dari panggang. Politik Islam berjaya di Indonesia akan sangat jauh dari harapan. Mengapa, karena tanpa kita sadari, ini juga termasuk politik pecah belah yang dilakukan oleh lawanlawan kita. Jelas ini tidak luput dari kepentingan-kepentingan orang yang menginginkan kekuasaan. Jadi yang jadi korbannya adalah masyarakat kita sendiri. Maka seyogyanya kita kembali bersatu. Kita sudah terlalu sering kecolongan. Sekarang kita bersatu untuk mencari yang terbaik, tapi bukan yang terbaik untuk diri pribadi, melainkan yang terbaik untuk kejayaan Islam.