Suatu saat, ketika ‘Uqail bin Abi Thalib menikah, salah satu tamunya datang dengan mendoakannya, “Semoga bahagia dan banyak anak”. Mendengar doa tersebut, ‘Uqail meluruskan dengan mengakatan, “Jangan berdoa demikian, karena Rasulullah melarangnya. Doakanlah, “Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi i khair”. Sebait doa di atas kurang lebih artinya,“Semoga Allah memberkahi kamu dan semoga Allah memberi berkah atasmu serta menghimpun kalian berdua dalam kebaikan”.

Ada pengulangan kata “Bâraka” dalam doa di atas: disandingkan dengan preposisi Lam dan ‘Ala yang kemudian diakhiri dengan kata Jama’a dan Khair. Secara harfi ah, huruf Jar Lam bisa diterjemahkan dengan kata “pada”, sementara ‘Ala diterjemahkan dengan kata “atas”. Terlihat mudah. Akan tetapi, dalam bahasa Arab, pilihan preposisi ini memiliki maksud yang berbeda, jauh dari sekedar pada dan atas.

Dalam doa, preposisi Lam dan ‘Ala memiliki maksud yang justru berlainan arah: Lam mengarah pada hal yang bersifat positif, dalam nikah berarti kesenangan atau harmonis, sementara ‘Ala bersifat negatif yang berarti kesusahan atau prahara. Di pesantren-pesantren, pemakanaan Jawa biasanya menggunakan kata, “Enak kaduwe” untuk Lam, dan “Melarat kaduwe” untuk ‘Ala. Dengan demikian, jika mau diartikan sesuai maksud penggunaan dua preposisi ini, doa di atas dapat diartikan demikian, “Semoga Allah memberi berkah pada kebaikan (dalam nikah) mu, dan semoga Allah memberi berkah atas kesusahan (dalam nikah) mu”.

Melalui doa ini, setidaknya Rasulullah memberi tiga makna penting. Pertama, doa keberkahan untuk mempelai. Kedua, dalam pernikahan pasti ada suka dan duka yang semuanya diharapkan tetap berkah. Ketiga, pernikahan berkah itu membawa pada kebaikan (khair). Inti poinnya, berkah dalam pernikahan baik dalam suasana suka ataupun duka, tetap akan melahirkan kebaikan.

Baca juga: Merenungi Hikmah dari Kata Nikah

Sekarang, apa makna dari kata barakah atau yang sudah diindonesiakan menjadi berkah? Berkah, dalam beberapa pendapat meliki ragam pengertian. Imam al-Ghazali, misalnya menyebut berkah dengan nilai kebaikan yang berkembang (nama’ al-khair). Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim-nya menyatakan bahwa berkah memiliki dua arti: (1) berkembang dan bertambah, dan (2) nilai kebaikan yang terus menerus atau berkesinambungan.

Jika disimpulkan dua pengertian ini, akan memiliki pengertian yang sama dengan Imam al-Ghazali; nilai kebaikan yang terus berkembang. Hal ini, juga selaras dengan tujuan berkah dalam doa Nabi di atas, yaitu menghadirkan kebaikan dalam pertemuan dua mempelai dalam bingkai pernikahan.

Lebih jauh lagi, doa berkah dalam pernikahan di atas juga mengajarkan bahwa pernikahan bukan bersifat sementara. Ada visi dan misi yang jelas, kemana arah dan tujuan pernikahan. Tidak hanya sekedar meletakkan nafsu badaniyah yang memang menjadi karakter manusia, tetapi jauh dari itu semua, yaitu hadirnya nilai kebaikan, baik di dunia maupun akhirat.

Dengan kata lain, pernikahan tidak hanya untuk merasakan kebahagiaan saat masih ada rasa cinta dan sayang saat hidup di dunia. Dalam pernikahan diharapkan keberkaran yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang terus berkembang dalam rumah tangga, tidak hanya saat mengarungi samudera berkeluarga, tapi terus berlangsung sampai di akhirat kelak. Jadi, visi misinya jelas, kebaikan dunia akhirat.

Untuk itu, doa yang paling tepat untuk dipanjatkan saat pernikahan memang doa keberkahan, bukan kebahagiaan atau punya keturuan. Sebab, dalam pernikahan tidak selamanya harmonis, pertengkaran sudah pasti terjadi. Isyarat Nabi dengan penggunaan Lam dan ‘Ala cukup menggambarkan hal itu.

Artinya, dalam balutan berkah, baik dan buruk dalam keluarga semuanya akan melahirkan kebaikan. Inilah yang dimaksud dengan istilah kebahagiaan yang langgeng, yakni semuanya bermuara pada kebaikan yang bisa mengantarkan pada keabadian di akhirat. Cinta, sayang, rezeki, dan anak semuanya bermuara pada satu titik, yaitu kebaikan.

Di situlah nantinya akan terbentuk keluarga yang tentram (sakinah), penuh kehangatan cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Tiga komponen yang selalu digaungkan dalam acara pernikahan yang kemudian diakronimkan Samawa atau Samara.

Sebagian orang memandang, kebahagiaan keluarga dapat terbentuk dari ketersediaan materi. Ada pula yang melihat, kebahagaian itu ada pada kesuksesan anak. Semua tanpa melihat, apakah telah mengantarkan pada kebaikan atau malah sebaliknya? Indikatornya jelas, jika semuanya melahirkan kebaikan maka itulah pernikahan yang berkah, dan terjadi sebaliknya.

Berkah rezeki dalam keluarga bukan pada kuantitas: rezeki berkah berarti melimpah. Akan tetapi, berkah ada pada seberapa banyak manfaat dari dari rezeki tersebut. Hanya rezeki yang mengantarkan pada kebaikan yang bernilai berkah. Kehadiran anak yang membawa berkah berarti anak shalih dan shalihah. Hanya anak yang shalih dan shalihah lah, lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar menjadi sejuk oleh nilai-nilai kebaikan.

Pada intinya, keberkahan dalam pernikahan itu ada pada nilai-nilai kebaikan dalam keluarga. Kehadiran anak dan rezeki menjadi sumber kebaikan, bahkan kesulitan pun berbuah kebaikan untuk keluarga. Dengan demikian, menikah berarti bukan mencari kebahagiaan, melainkan keberkahan. Hanya dengan keberkahan, kebaikan dunia dan akhirat didapat. Puncak kebaikan di dunia ada pada ketaatan pada agama, sedangkan puncak kebaikan di akhirat adalah surga.

Untuk itu, Rasulullah memberi tuntunan doa berkah untuk diucapkan saat pernikahan. Hanya dengan pernikahan berkahlah yang dapat mengantarkan pada kebaikan dunia sampai akhirat. Sebaliknya, pernikahan tanpa berkah, meski dikelilingi harta melimpah dan anak yang banyak, semuanya tidak akan melahirkan kebaikan, justru sebaliknya. Semoga keluarga kita berkah. Amin.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri

Baca juga: Belajar Bahagia Bahagia Belajar

Baca juga: Bahagia Dunia Akhirat

Spread the love