SEHAT BADAN SEHAT SPIRITUAL DALAM MENGAJAR
Didalam pendidikan, ada beberapa sistem yang menjadi inti dari ruh sebuah ilmu. Salah satunya adalah mengajar. Sistem ini tentu titik psikologisnya berasal dari seorang guru. Dalam khazanah Islam, mengajar bukan hanya menyampaikan ilmu saja. Lebih dari itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan betul oleh seorang guru agar bisa menciptakan spirit pendidikan yang tak hanya menyehatkan badan, tetapi juga menyehatkan spiritual. Nah, berikut beberapa hal tersebut versi Imam al-Ghazali.
MEMILIKI RASA BELAS-KASIH
Guru harus memiliki rasa belas-kasih. Imam al-Ghazali menekankan agar guru memposisikan muridnya layaknya anaknya sendiri. Kata K.H. Hasyim Asy’ari, peran guru dalam membentuk karakter psikologi seorang murid jauh lebih urgen ketimbang peran orang tuanya sendiri. Sehingga jika guru tersebut memposisikan dirinya menjadi seorang pengajar dan berlaku seolah menjadi orang tua kandungnya, maka tentu yang akan kita jumpai adalah ruh pendidikan itu jauh lebih hidup.
HARUS IKHLAS
Guru, kata al-Ghazali, kapan pun dan di mana pun, harus selalu membersihkan hatinya dari sifat-sifat tercela. Menurut Imam al-Qasimi, guru tidak boleh mengharap imbalan. Begitu juga dengan pujian dan sanjungan. Sebab tugasnya adalah membimbing muridnya agar dekat kepada Allah. Maka bagaimana mungkin murid bisa dekat jika saat menyampaikan ilmunya, ia tidak ikhlas. Jangankan dekat, bisa paham dan mendapatkan ilmu yang barakah dan bermanfaat pun tidak bisa. Sebab ia sudah tidak ridha kepada apa yang ia berikan. Jadi kunci mengajar agar tujuannya bisa tercapai adalah harus ikhlas.
GEMAR MEMBERI NASEHAT
Ada begitu banyak ilmu yang harus guru sampaikan, tetapi keterbatasan otak sang murid ditambah alasan malas dan enteng kepada apa yang guru sampaikan kadang menjadi kendala untuk menghafal dan mengamalkan. Sehingga ia lupa atau bahkan enggan dan malas untuk mengamalkan ilmu yang mereka peroleh. Sebab itulah, seyogyanya seorang guru harus selalu memantau muridnya. Nah, cara yang paling efektif adalah memberi nasehat dengan tujuan selalu mengingatkan sang murid agar selalu berada di jalan yang diridai oleh Allah.
| BACA JUGA : DARI PAKUAN PAJAJARAN, KERAJAAN CAMPA HINGGA KETURUNAN RASULULLAH
BERETIKA BAIK
Guru, harus mendidik muridnya dengan sebaik-baik pekerti. Ia harus membimbing agar muridnya berperilaku sesuai sunah-sunah Nabi. Hal ini agar dengan akhlak tersebut, sang murid bisa berlaku dengan baik. Kepada dirinya baik, kepada gurunya baik, kepada temannyabaik, dan kepada pelajaran dan ilmunya juga baik. Kata beliau, cara ini adalah yang paling inti dalam pendidikan islami.
TIDAK MEREMEHKAN ILMU YANG TIDAK DIKUASAI
Hendaknya, seorang guru tidak boleh meremehkan suatu ilmu yang tidak dikuasainya. Sebab bisa jadi ilmu tersebut nantinya akan dikuasai oleh muridnya. Ketika sejak awal ia sudah mencaci ilmu yang tidak ia kuasai maka dikhawatirkan prilaku buruk itu juga diikuti oleh muridnya dan mengakibatkan sang murid benci dan tidak paham ketika mencoba mempelajarinya.
MEMAHAMI PSIKOLOGI KEMAMPUAN MURID
Guru yang bijak adalah yang mampu menyampaikan ilmunya sesuai kemampuan muridnya. Ketika ada yang belum paham maka guru tersebut harus mengulangi keterangannya. Termasuk etika seorang guru di sini adalah tidak menyampaikan ilmu yang belum pantas dipelajari. Hal ini bertujuan agar sang murid fokus terlebih dahulu pada ilmu yang tengah dipelajarinya.
MENGAMALKAN ILMUNYA
Hal paling urgen di dalam pendidikan adalah mengamalkan ilmu yang didapatkan. Lebih-lebih bagi seorang guru. Ia dua kali lebih wajib mengamalkan ilmunya. Sebab guru adalah orang yang digugu dan ditiru, maka sudah sewajibnya ia mengamalkan ilmu jauh sebelum muridnya. Karena, sebagaimana kata Habib Zein bin Sumaith, dalam pengamalan tersebut tersirat pengaruh yang luar biasa nantinya terhadap psikologi pendidikan yang ada.




