Nama Pesantren: Pondok Pesantren Madani al-Aziziyah
Alamat: Banda Aceh
Tahun berdiri: 2011
Pendiri: KH. Muhammad Hatta Lc, M.Ed
Pengasuh sekarang: KH. Muhammad Hatta Lc, M.Ed
Jumlah santri: + 800 putra-putri
Pendidikan: SMP, SMA, Madrasah Diniyah
Aceh dalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia dan terletak di ujung Pulau Sumatra. Provinsi ini juga dikenal dengan sebutan serambi Makkah karena merupakan daerah pertama masuknya agama Islam ke wilayah Nusantara dan tempat berdirinya kerajaan Islam pertama, yaitu Peureulak dan Pasai.
Nah, kali ini kita akan bersilaturahim ke salah satu pesantren yang ada di Provinsi Aceh, tepatnya di Lampeuneurut Ujong Blang Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar yang bernama Pondok Pesantren Madani al-Aziziyah, sebuah pesantren yang didirikan dan diasuh oleh KH. Muhammad Hatta Lc, M.Ed pada tahun 2011.
KILAS SEJARAH
Berdirinya pesantren ini berawal dari pembelian sepetak tanah yang luasnya sekitar 1000 meter dan keuangannya kita cicil perlahan-lahan. Dalam pembebasan lahan ini saya dibantu oleh kawan-kawan yang semasa ketika mondok,” ungkap Abiya Muhammad Hatta, membuka percakapan.
Beliau memiliki sejumlah landasan soal pemilihan tanah untuk dijadikan pesantren. Pertama, memastikan sumber air yang memadai. Maka, beliau melihat daerah yang kini dijadikan sebagai pesantren memiliki kekuatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air santri kendati harus melalui sumur bor dan sebagainya. Kedua, dekat dengan masjid. “Ada beberapa tanah yang ditunjukkan ketika itu, tapi jaraknya jauh dengan masjid. Hal itu tentu akan menjadi kendala bagi pesantren karena santrinya kan pasti shalat Jumat. Jadi, kita memilih lokasi ini karena dekat dengan masjid meskipun harga tanahnya relatif mahal,” ujarnya.
Inisiatif pembelian tanah dan pendirian pesantren didasari atas pesan dan wasiat guru-guru Abiya Muhammad Hatta semasa nyantri di Pondok Pesantren Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah (MUDI) Mesjid Raya Samalanga, Bireuen, Aceh agar selalu belajar dan mengajarkan ilmu yang telah didapatnya.
Dari tahun ke tahun, jumlah santri Pondok Pesantren Madani al-Aziziyah terus mengalami peningkatan. Menjelang tahun kedua jumlah santri sekitar 30-an, tetapi memasuki tahun ke empat sudah lebih meningkat lagi yang ketika itu mencapai dua lokal atau sekitar 70 anak, dan itu terus meningkat.
“Dari situ saya berusaha mewujudkan apa yang telah diamanahkan semampu yang Allah berikan di mana ketika itu hanya berbekal sebuah balai atau kamar santri yang terbuat dari kayu, sangat sederhana. Pada awal pendiriannya ada sekitar 16 anak yang nyantri di pesantren ini. Baru setelah memasuki tahun ketiga, dengan sejumlah perkembangan dan pembangunan yang kita lakukan, jumlah santri mencapai sekitar 100 orang.”
| BACA JUGA : IMAM TAQIYUDDIN AL-HISHNI
Sejak tahun 2014 di mana santri terus bertambah, bahkan wali santri minta adanya pendidikan sekolah untuk anak-anaknya. Tentu hal ini menjadi masalah baru bagi pesantren di mana fasilitas dan finansial yang ketika itu masih belum stabil. Akan tetapi, dengan penuh keberanian dan keyakinan, Abiya Muhammad Hatta menyanggupi permintaan para wali santri. Artinya mereka tidak akan ditinggal dengan pendidikan formal.
Ketika tim dari Kementerian Pendidikan tingkat kabupaten datang untuk meninjau dan melihat fasilitas pesantren yang ada, mereka merasa ragu-ragu karena keterbatasan dan kurang lengkapnya fasilitas pesantren. Tetapi, berkat anak kecil-kecil yang begitu semangat untuk belajar, melihat sendiri keseriusan mereka, akhirnya pihak Kementerian Pendidikan tingkat kabupaten mempersilakan untuk membuka pendidikan formal. “Maka di lembaga ini lahirlah pendidikan pesantren sekaligus pendidikan formal hanya berbekalkan balai-balai atau asrama santri yang sangat sederhana,”kisah Abiya Muhammad Hatta.
Beliau melanjutkan, “Awalnya kami mencari santri-santri karena memang sebagai sebuah pesantren yang baru yang fasilitasnya sangat minim sekali, segala keterbatasan itu sangat terasa sekali. Lokasi yang begitu kecil, hanya berbekalkan 1000 meter persegi ketika itu, maka saat itu tidak mudah untuk bisa menghadirkan santri yang mau mondok, karena masih banyak pesantren atau dayah lain yang sudah lebih berkecukupan fasilitasnya dan persaingan dalam arti positif. Tentunya orang tua lebih mengarah untuk memondokkan anak-anaknya ke pesantren yang fasilitasnya sudah jauh lebih baik, baik dari segi fasilitas asrama, maupun dari segi tenaga guru,”
Adapun kompleks atau asrama putri dibangun ketika masuk di tahun kedua. Baru tahun pertama kemarin diresmikan santri perdananya mencapai 70 orang, dan tahun kemarin masuk santri gelombang kedua 100 lebih.
Maka, luas area pesantren saat ini juga semakin bertambah berkat doa para santri, ada sekitar 1 hektar. Untuk putranya sekitar 7000-an meter, untuk putrinya ada sekitar 4000-an meter yang dari awalnya lahan pesantren hanya 1000 meter. Dan semua lahan itu memang dibeli perlahan-lahan dengan bantuan teman-teman, donatur walaupun dengan kondisi yang kebetulan di daerah tersebut adalah harga tanah termasuk pada mencapai 1-2 juta permeter dan itu diawali pembeliannya dulu 500-an ribu permeter.
Hikmah yang di rasakan oleh Abiya Muhammad Hatta, santri dan pesantren berkat lokasi pesantren yang berada di pusat kota adalah banyak tamu-tamu dari Jakarta bahkan juga dari Yaman yang singgah di Pondok Pesantren Madani al-Aziziyah untuk sekadar bersilaturahim dengan para santri. Bahkan bisa dikatakan, pesantren tersebut merupakan tempat singgahnya para habib, baik dari dalam ataupun luar negeri ketika berkunjung ke Banda Aceh, seperti Habib Jindan Jakarta, Habib Abdurrahman al-Ahdal Yaman dan habaib yang lain.





