DI awal tahun 2021 ini, Indonesia menghadapi cobaan yang amat berat. Persoalan Covid – 1 9 belum mereda, dan justru cenderung meningkat, sejumlah bencana dan musibah bertubi-tubi. Mengutip laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB, tercatat selama 20 hari bulan Januari, telah terjadi 169 bencana alam plus satu bencana non-alam, yaitu Covid-19.
Di Kalimantan Selatan, kita saksikan saudara kita demikian berat berjuang akibat luapan banjir yang sangat dahsyat. Per tanggal 14 Januari 2021,BNPB mencatat ada 67.842 jiwa yang terdampak dari total 57 peristiwa banjir sejak awal tahun. Khusus untuk bangunan rumah warga yang terdampak sebanyak 19.452 unit.
Persoalan banjir di Kalimantan Selatan belum selesai, kita dikejutkan oleh gempa dahsyat terjadi di Sulawesi Barat, pada Jumat (15/01/2021) pukul 01:28:17 WITA. Ratusan rumah hancur, akibat gempa berkekuatan 6,2 SR ini. Sejumlah bangunan roboh, termasuk Kantor Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) yang terletak di Mamuju juga roboh akibat goncangan gempa. Gedung Rumah Sakit Mitra Manakarra Mamuju juga roboh. Ustaz Das’ad Lathif, yang saat kejadian berada di sana, berharap agar peduli kemanusiaan bisa bangkit dan tidak mempedulikan urusan politik.
Gempa Sulawesi, kemudian dilanjutkan dengan erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur. Gunung yang dikelilingi empat Kabupaten, Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang ini, mengeluarkan asap tebal pada Sabtu sore, 16 Januari 2021, mengeluarkan awan panas dengan jarak luncur kurang lebih 4,5 kilometer pada Sabtu sore, 16 Januari 2021, pukul 17.24 WIB. Di hari yang sama, Manado juga diterjang banjir. Sejumlah pemukiman terendam air.
Inilah yang terjadi pada Indonesia saat ini. Kita tidak bisa menyalahkan alam, apalagi sepenuhnya berserah pada takdir. Karena bagaimanapun, pola hidup dengan pekerjaan manusia juga memiliki ekses yang erat dengan serangkaian bencana itu, lahir maupun batin. Akibatnya, seolah kita terus dihantui oleh bencana, saat musim hujan tiba. Musim kemarau pun, kita disibukkan dengan bencana kekeringan.
| BACA JUGA : PARA REVOLUSIONER ISLAM
Bagaimanapun, sebuah ketenangan hidup, tidak hanya menyangkut ketersediaan sarana dan prasarana penunjang untuk menikmati hidup, tapi juga aman dari segala ancaman, menjadi hal yang amat penting. Bencana alam yang terus menghantui negeri ini, setidaknya menjadi catatan bahwa hidup tenang tidak hanya berkaitan dengan apa yang didapat saat ini, tapi juga terkait dengan ancaman ke depannya.
Di dalam lingkup keluarga yang disebut “sakinah” yang artinya ketenangan, juga tidak bisa hanya digambarkan sebagai keceriaan dalam keluarga yang ditandai kesuksesan materi dls. Namun, menyangkut kenyamanan dengan terhindar dari musibah bencana menjadi satu hal yang mendasar.
Terlepas dari pembacaan, itu sudah takdir ilahi, tetapi dari sudut ikhtiar, sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menghindari bencana alam. Tidak harus melalui aksi-aksi kolosal saja, tapi kegiatan-kegiatan sederhana yang bisa kita mulai dari sikap dan pola hidup di rumah, khususnya dalam lingkup keluarga. Ketika serangkaian bencana demikian gencar di bumi pertiwi, setidaknya komponen kecil dalam sebuah keluarga, dapat digugah untuk bergerak mengatasinya.
Dirasa sementara ini, kita hanya menikmati hasil bumi tanpa ada upaya untuk mengimbanginya dengan pemulihan terhadap alam. Kita tebangi hutan, tanpa ada penanaman ulang. Kita kuras tambang bumi tanpa memikirkan nasib generasi selanjutnya. Padahal, jika bumi tidak dirawat dengan baik akan mempercepat kerusakan itu. Alih-alih kita mencari planet lain untuk dijadikan tempat tinggal, sementara tempat yang sudah pasti saja kita rusak.
Untuk itu, yang kita perlukan saat ini adalah kesadaran bersama dalam upaya merawat alam yang sudah akut ini sehingga kecerobohan yang mungkin telah kita lakukan dapat dihentikan, atau paling tidak diminimalisir. Setidaknya, upaya itu bisa dimulai dari lingkup yang paling kecil; keluarga. Setidaknya, lingkup keluarga berperan mengantisipasi bencana melalui empat langkah berikut:
Pertama, biasakan untuk membuang sampah pada tempatnya. Rasanya tak perlu dalil agama tingkat tinggi soal langkah yang harus dikerjakan dan dibiasakan ini. Sampah yang berserakan, tentunya bakal membawa masalah. Bukan hanya jijik saat melihatnya, tapi juga menciptakan lingkungan yang tidak sehat.
Sampah adalah hal yang sementara ini mungkin dianggap remeh sehingga kita buang begitu saja, tetapi ternyata memiliki efek yang luar biasa. Banjir yang terjadi di sebagian wilayah salah satu sumber masalahnya adalah penumpukan sampah di saluran air.
| BACA JUGA : OTAK-ATIK TAFSIR TEMATIK
Kedua, budayakan menanam pohon. Orang-orang terdahulu kita, demikian semangat menanam, meski hasilnya tidak dinikmati oleh mereka, melainkan anak cucunya, mereka gencar menanam. Apa yang kita nikmati saat ini, dengan ragam buah-buahan, merupakan hasil dari penanaman orang-orang yang hidup sepuluh atau dua puluh tahun silam. Sementara pertanyaannya, apakah yang kita wariskan kepada anak cucu kita kelak, saat pohon-pohon banyak kita tebangi?
Hukum alam, pohon membantu menahan air hujan melalui penyerapan akar yang menancap sehingga mencegah tanah longsor dan banjir. Selebihnya, air hujan dapat diserap oleh pohon-pohon hutan sehingga menjadi air tanah dan muncul menjadi mata air bersih yang mengalir membentuk sungai, danau, dan untuk air sumur sehingga dapat mencegah kekeringan. Ini terjadi karena pohon memang memiliki kemampuan untuk mengatur tata air.
Karena itu, langkah ketiga, tidak mudah menebang pohon yang sudah ada. Pohon-pohon yang ditebangi sedemikian rupa, dapat menyebabkan cadangan air tanah menipis atau bahkan di sebagian tempat menghilang. Terlebih akibat penebangan yang berlebihan menyebabkan kawasan menjadi rentan terhadap bencana, seperti kekeringan, banjir dan tanah longsor. Memang, dampak ini tidak langsung terasa. Tapi, sebagaimana yang telah dibuktikan oleh ilmuwan di berbagai belahan dunia bahwa antara bencana banjir, longsor, dan kekeringan, memiliki hubungan langsung dengan penebangan pohon berlebihan, meskipun tidak secara spontanitas.
Tentu saja, langkah berikutnya (keempat) adalah menambah sikap takwa dan instrospeksi diri dengan memperbanyak istighfar. Bisa mungkin, bencana alam ini juga berkaitan erat dengan maksiat yang meraja lela. Pembacaannya, musibah yang terjadi, akibat teguran atas ulah kita bersama.
Artinya, kita upayakan sebisa mungkin untuk mengatasi bencana alam yang sering melanda di negeri ini. Semuanya, kita mulai dari ruang lingkup kecil dalam keluarga kita. Semoga kita semua terhindar dari bencana. Amin



