Sebuah kisah ditulis oleh adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyâru A’lâmin- Nubalâ’, tentang seorang saleh bernama Shafwan bin Sulaim (w. 132 H). Kebiasaan unik terlihat pada diri Shafwan. Selama beberapa hari, ia sering pergi ke pemakaman Baqi’. Muhammad Shalih bin at-Tammar, sumber kisah ini, suatu hari mengikutinya. Muhammad Shalih ingin tahu, apa yang dilakukan Shafwan di pemakaman Madinah tersebut.

Di pemakaman tempat para shahabat Rasulullah dimakamkan itu, Shafwan menundukkan kepalanya. Ia duduk di samping sebuah makam. Tidak henti-hentinya ia menangis di samping makam itu. Muhammad Shalih menduga ia telah kehilangan salah satu keluarganya.

Di kesempatan lain, Muhammad Shalih membuntuti Shafwan masuk ke pemakaman Baqi’. Ia tercengang, karena objek yang dihampiri bukan kuburan yang sebelumnya. Shafwan melakukan hal yang sama; menunduk, duduk di samping makam dan menangis tanpa henti. Muhammad Shalihakhirnya menemui Muhammad bin al-Munkadir, seorang ulama kota Madinah.

Kepada Muhammad bin al- Munkadir, Muhammad Shalih menceritakan perihal kebiasaan Shafwan menangis di pekuburan Baqi’. Muhammad bin al-Munkadir menjelaskan: “Semua di pemakaman Baqi’ itu keluarga dan saudara Shafwan. Ia ingin menggugah hatinya dengan mengingat kematian, di saat ia merasa hatinya keras.”

***

Hati merupakan motor penggerak penentu sikap baik dan buruk seseorang. Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyebut hati sebagai “sepotong daging” (mudhghah) sumber energi tubuh; jika ia baik maka baik pula seluruh aktivitas tubuh, bila buruk maka buruk pula seluruh aktivitasnya. (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Karena posisi hati yang demikian vital, kajian tentang managemen hati banyak dibahas oleh para ulama, khususnya penyakit dan pengobatan hati. Imam al-Ghazali secara khusus mengupas item ini dalam kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn, pada pembahasan Rubu’ul- Muhlikât dan al-Munjiyât. Meski ada istilah populer yang mengklasifikasi penyakit hati sebagai Qaswatul-Qalb (kerasnya hati) dan Mautul-Qalb (matinya hati).

Hati yang mengeras di singgung dalam QS al-Baqarah [02]: 74 yang artinya. “Kemudian setelah itu hatimu mengeras, setelah itu lalu menjadi batu, bahkan lebih keras daripada batu.” Pengaruh kerasnya hati biasanya dipicu oleh sulitnya hati tersentuh kebenaran, sehingga sulit menerima nasihat baik. Ibarat batu keras yang tak bisa menyerap siraman air.

Dalam kehidupan, kita temukan banyak penganjur kebaikan melalui televisi, audio ceramah dan media sosial. Akan tetapi, mengapa ayat dan hadis yang disampaikan mereka seperti tak berpengaruh sama sekali?

Bisa jadi alasannya: karena penganjur kebaikan itu belum menata hati, terutama nilai ikhlas. Namun, dalam hal kebaikan, kita juga diarahkan agar melihat “apa yang disampaikan”, bukan pada penyampainya (unzhur mâ qîl, wa lâ tanzhur man qâl). Artinya, seburuk apapun pesan nasehat haruslah diterima, tanpa melihat siapa yang menyampaikannya.

Pada kondisi ini, penting melihat kondisi hati, barangkali ia telah sekeras batu? Deteksi awal penyakit keras hati ialah: hati jauh dari menerima kebaikan, khususnya dari nasehat al- Quran. Dalam QS Qâf; 45, misalnya, kita diperintah menasehati siapa pun agar takut pada ancaman Allah.

Efek hati yang sulit menerima kebaikan, kata ulama, akan mendorong malas beribadah; tak peduli sosial; hidup tidak tenang dan selalu mengedepankan urusan duniawi. Yang terbayang hanya bagaimana mendapat kekayaan, tanpa peduli akhirat atau nasihat bijak. Orang seperti ini, perlu resep pelembut hati (talyînul-qalb).

Di Indonesia dikenal istilah ini yang kemudian dipopulerkan oleh Opick lewat judul lagu Tombo Ati. Lima komponen Tombo Ati itu mencakup 1) membaca al-Quran menghayati makna, 2) shalat malam, 3) bergaul dengan orang saleh, 4) perut senantiasa lapar, 5) kerasan zikir malam.

Lima komponen ini sebenarnya bisa mendeteksi penyebab kerasnya hati. Membaca al-Quran tanpa menghayati maknanya tanda mengerasnya hati, lebih-lebih tidak pernah baca al-Quran. Sebagai pedoman beragama, al-Quran mestinya dipahami dan tidak sekadar dibaca. Selain, ada keyakinan membaca al-Quran bernilai pahala.

Zikir dan shalat di keheningan malam, bisa melembutkan hati. Penghayatan akan kehidupan diri, merupakan inti penting dari aktivitas shalat dan zikir malam. Jika hal ini tidak pernah dilakukan, bisa dimungkinkan hati akan mengeras.

Banyak makan juga penyebab hati menjadi keras, karena yang terus dipikirkan hanyalah urusan perut. Orang yang selalu mengedepankan isu “perut” biasanya suka menerobos rambu agama, tidak peduli apa berasal dari jalan haram atau halal. Maka butuh terapi lapar agar hati tersentuh kehidupan di luar, utamanya ketika kesulitan mencari makan. Terapi puasa ampuh melembutkan hati.

Teman juga demikian. Ia merupakan sumber perilaku yang menyerap hal baik dan buruk. Sering bergaul dengan teman yang keras hati, pasti hatinya ikut juga terpengaruh. Ada ungkapan menarik oleh Jakfar bin Sulaiman: “Jika aku temukan hatiku mengeras, pagi-pagi aku berangkat menemui Muhammad bin Wasi’. Aku lihat wajahnya, seakan ia selalu berduka.” Muhammad bin Wasi’ memang berkepribadian wara’, sehingga dengan memandangnya saja bisa membuat hati lembut.

Sebenarnya tidak hanya lima konsep tadi yang terkait pengobatan hati. Ada opsi lain yang juga bisa diterapkan sebagai resep ampuh mu’âlajatu qaswatil-qalb. Di antaranya berziarah ke pekuburan, seperti pengalaman Shafwan bin Sulaim dalam kisah di awal.

Suatu ketika, Ummul Mukminin Sayidah ‘Aisyah didatangi seseorang yang mengeluhkan penyakit keras hati. Sayidah ‘Aisyah mengatakan: “Itu seburuk-buruk penyakit,” Beliau lalu menganjurkan tiga resep: 1) sering mengunjungi orang sakit, 2) sering mengantar jenazah dan perhatikan bagaimana jenazah dimasukkan ke liang, 3) sering mengingat kematian. Semoga kita tetap bisa menjaga hati tetap hidup, lembut dan mencair. Amin.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri