Sementara ini tidak sedikit orang yang tidak mengetahui predikat istimewa yang dimiliki keturunan Rasulullah. Atau, memang mereka tidak tahu-menahu mengenai hal itu. Terbukti, sumpah serapah sering kali dilontarkan oleh sebagian orang yang ditujukan kepada keturunan Rasulullah, baik sengaja atau tidak. Parahnya, mereka tidak merasa bersalah dengan hal itu semua.

Kelompok Wahabi, contohnya, mereka menafikan predikat istimewa yang disandang oleh semua keturunan Rasulullah. Kelompok ini dengan lantang menyatakan, semua manusia itu sama. Yang membedakan di antara mereka adalah nilai ketakwaannya kepada Allah. Karenanya, kata-kata yang kurang pantas sering terlontarkan dari mereka. Sungguh sangat disayangkan!

Kata-kata seperti ‘semua manusia itu sama. Yang membedakan di antara mereka adalah nilai ketakwaannya kepada Allah’ merupakan sebuah statemen yang benar namun tidak pada tempatnya. perbandingannya, ‘yang mematikan yang hidup adalah Allah. Bukan ular yang berbisa’. Maka, sangat bodoh orang yang menjulurkan tangannya pada kotak yang berisi ular kobra untuk dipatuknya.

Oleh karena itu, di sini dibutuhkan sebuah penjelasan terkait predikat istimewa yang dimiliki para keturunan Rasulullah agar terminimalisir sesuatu yang tidak diinginkan mengenai mereka. Atau, kalangan yang sudah tahu namun masih menginginkan penjelasan lebih mengenai mereka. Bagaimana keterjagaan mata rantai silsilah keturunan mereka dan hal lain yang masih ada hubungannya dengan mereka.

Buku Syamsudz-Dzahîrah fî Nasabi Ahlil-Bait min Banî ‘Alawi wa Amîril-Mu’minîn Alî Radhiyallahu ‘Anhu sangat cocok untuk masalah keinginan tadi. Di dalamnya yang mengupas tuntas jalur silsilah nasab para habaib sangat penting diketahui oleh semua kalangan, utamanya dari jalur ‘Alawi bin Ubaidillah bi Ahmad al-Muhajir bin Isa. Sebab bagaimanapun juga, beliaulah yang pertama kali mendapat gelar (marga) Bâ Alawi.

Secara umum, buku ini menjelaskan silsilah keturunan Sayidina Ali, baik dari jalur Sayidina Husain maupun dari jalur Sayidina Hasan. Dengan membaca buku ini, sebagian orang yang menafikan keturunan dari Jalur Sayidina Hasan—seperti kelompok Syiah—akan menemukan jawabannya. Juga, dalam buku ini sedikit disinggung siapa saja putra Rasulullah dan dari jalur siapa para habaib pada saat ini.

Adapun penyajian uraian dalam buku ini cukup sistetamis. Diawali dengan menjelaskan semua putra Sayidina Ali, Sayidina Hasan lalu Sayidina Husain.  Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan keturunan masingmasing dari mereka dan dimana saja keturunannya berdomisili.

Dengan kata lain, buku setebal 801 ini membeber silsilah keturunan dari para habaib dan julukan yang disandangnya. Al-Haddad, misalnya, siapa saja yang masuk dalam rentetan keturunan marga ini dan siapa yang tidak masuk. Sehingga, pengkotak-kotakan marga dari para habaib pun kita akan mengetahui dengan membaca buku ini.

Baca juga: Jejak Sadah Ba Alawi (03)

Karya as-Sayid asy-Syarif Abdurrahman bin Muhammad bin Husain al-Masyhur ini pembahasannya hanya terfokuskan pada penjelasan terkait para habaib pada kurun waktu abad 13 H. ke bawah. Adapun masa setelahnya tidak disinggung karena memang buku ini ditulis pada saat itu. Jadi, ini nilai minusnya, sehingga para pembaca pada zaman sekarang tidak bisa langsung bisa mengetahui para habaib yang hidup pada masa setelahnya.

Meski begitu, setidaknya buku ini sudah cukup untuk dijadikan referensi untuk kemudian kita lengkapi dengan mendeteksi sesuai rumusan dan informasi yang ada dalam buku ini. Semisal, kita ingin melacak seorang habib yang ada di Indonesia, maka kita cukup mencari marga mereka lalu dilanjutkan dengan mencari ayah dan mencocokkannya dengan apa yang ada dalam buku ini, insyaallah ketidaktahuan kita akan terjawab.

Terlebih lagi, buku Syamsuzh-Zhahirah fi Nasabi Ahlil-Bait min Bani ‘Alawi wa Amîril-Mu’minîn Ali Radhiyallahu ‘Anhu ini sudah dilengkapi dengan skema. Sehingga, kita pun akan mudah memahami dan menghafalnya. Selamat membaca!

Achmad Sudaisi/sidogiri