“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang Apabila ditemukan obat yang tepat untuk sebuah penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah.” (HR Muslim)
Uraian lengkap hadis di atas adalah sebagai berikut :
حدَّثَنَا هَارُوْنَ بِنْ مَعْرُوْفٍ وَأَبُوْ الطَّاهِرِ وَأَحْمَدُ بْنُ عِيْسَى قَالُوْا حَدَثَّنَا اِبْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِيْ عَمْرٌو وَهُوَ اِبْنُ حَارِثِ عَنْ عَبْدِ رَبِهِّ بْنِ سِعِيْدٍ عَنْ أَبِىْ الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِر عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَهُ قاَلَ لِكُلٍّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِدْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Telah menceritakan kepada kami Harun bin Makruf Abuth-Thahir serta Ahmad bin ‘Isa, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku ‘Amru, yaitu Ibnul-Harits dari ‘Abdu Rabbih bin Sa’id dari Abuz-Zubair dari Jabir dari Rasulullah, Beliau bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang Apabila ditemukan obat yang tepat untuk sebuah penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah.” (HR Muslim)
Dalam gramatika Arab, kata kullun menyiratkan hukum menyeluruh. Maka, maksud hadis di atas adalah, semua jenis penyakit, sekalipun yang mematikan dan yang tidak bisa disembuhkan menurut ilmu kedokteran, sebetulnya ada obatnya. Sayangnya, pengetahuan tentang obat itu luput dari pantauan manusia. Hal itu karena tidak ada ilmu yang didapat oleh makhluk, kecuali yang telah Allah takar untuk mereka.
Penyakit dan obat ini adalah dua hal kontradiktif yang sudah menjadi bagian dari sunatullah, layaknya hitam dan putih serta susah dan senang. Maka, saat obat tepat didapat, sirnalah segala penyakit yang menjangkit. Karena itu, dalam hadis di atas, Rasulullah menyaratkan terwujudnya kesembuhan dengan ditemukannya obat tepat bagi penyakit tersebut. Tentu saja atas izin Allah.
Dalam hadis lain disebutkan, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Sa’id bin Abu Husain, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ‘Atha’ bin Abu Rabah dari Abu Hurairah dari Nabi, Beliau bersabda, “Allah tidak akan menurunkan penyakit melainkan menurunkan obatnya juga.” (HR. al Bukhari dan Muslim)
Hadis berbeda tertera dalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal dari Shahabat Usamah bin Syuraik :
ُ كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَاءَتِ الْأَ عْرَابُ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلُ اللهِ، أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: نَعَمْ يَاعِباَدَ اللهِ، تَدَاوَوْا، فَإِناَللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَه شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ قاَلُوْا: مَا هُوَ؟ قاَلَ: الْهَزْمُ
” Aku pernah berada di samping Rasulullah, lalu datanglah serombongan Arab Badui. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?” Beliau menjawab, “Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab, Allah tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya, “Penyakit apa itu?” Beliau menjawab, “Penyakit tua.” (HR. Ahmad)
| BACA JUGA : PENGOBATAN ALAMI DAN SYAR’I
Ikhtiar dan Tawakal
Melalui hadis-hadis shahih di atas, Islam menyuruh umatnya untuk berikhtiar dan melarang berpangku tangan pada takdir dengan kedok tawakal. Ikhtiar yang ditempuh oleh seorang hamba, sama sekali tidak mencederai tawakal yang ia genggam dalam jiwa. Justru orang yang beranggapan ikhtiar hanya mengurangi kualitas tawakal sungguh memiliki pikiran yang dangkal dan kerdil. Dia tidak memahami bahwa tawakal sejati adalah pasrahnya hati secara penuh kepada Allah atas hasil dan tidaknya usaha yang sudah ditempuh. Coba perhatikan, bagaimana Rasulullah mendorong orang Badui tadi agar menjalani ikhtiar dengan berobat, bukan justru menyuruh duduk manis menanti keajaiban.
Bagaimana kalau ada yang berceloteh “Jika kesembuhan itu sudah tertulis dalam takdir, maka tiada gunanya berobat. Toh meskipun tidak berobat, kita akan tetap sehat seperti semula. Begitu pula seandainya kesembuhan itu tidak tertulis dalam takdir. Mau berobat segigih apapun, kita tetap tidak akan pernah sembuh. Percuma juga kita berobat.
Celotehan tersebut tidak akan meluncur kecuali dari mulut-mulut orang yang tidak mau menerima kebenaran. Mereka selalu sibuk mencari celah untuk menolak data-fakta tak terbantahkan, layaknya orang kafir yang berkata: ‘Seandainya Allah menghendaki, niscaya kami dan nenek moyang kami tidak akan musyrik,’ sementara diri mereka menentang keras ajakan dan ajaran para utusan Allah. Tipikal orang semacam ini adalah pribadi yang suka ngeles dan banyak alasan. Orang-orang inilah sumber kehancuran agama dan dunia.
v Jawaban cerdas untuk membungkam celotehan tersebut ialah kita katakan pada mereka, “Ada satu hal yang belum kamu sebutkan. Yaitu, Allah menakdirkan sesuatu dengan sebab tertentu. Sesuatu itu akan terjadi sesuai takdir Allah, kalau sebab itu dilalui. Jika sebab itu tidak dijalani, maka sesuatu itu tidak akan pernah terjadi. Jadi Allah menakdirkan akibat dari adanya suatu sebab. Allah takdirkan sembuh, misalnya, dengan catatan berobat, umpamanya. Kalau tidak mau berobat, ya sembuh itu hanya ilusi dan mimpi.”
Jika mereka masih berceloteh, “Kalau Allah menakdirkan sebab itu bagi kita, maka kita pasti akan melakukannya. Begitu pula jika Allah tidak menakdirkannya, sampai kapanpun kita tidak akan pernah punya kesempatan untuk melakukannya. Tetap saja semua bergantung penuh pada takdir Allah.” Maka kita tinggal melempar pertanyaan kepada mereka, “Apakah alasan begitu akan engkau terima dari budak-budakmu dan para pembantumu, ketika mereka justru melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan perintah dan laranganmu? Semisal engkau menyuruh pembantumu membersihkan halaman agar bersih dan rapi, lalu dengan enaknya pembantumu menjawab, kalau Allah menakdirkan saya menyapu, tanpa engkau suruh saya akan tetap menyapu. Begitu pula kalau Allah menakdirkan saya tidak menyapu, sekalipun mulutmu sampai berbusa menyuruhku menyapu, saya tidak akan pernah menyapu. Jika engkau menerima alasan pembantumu itu, maka jangan salahkan siapapun jika tidak dihargai oleh mereka, perkataanmu tidak ada artinya bagi mereka, dan hak-hakmu dari mereka tidak satupun mereka tunaikan. Sementara kalau engkau tidak bisa menerimanya, bagaimana mungkin engkau menolak melakukan hak-hak Allah dengan menjalani ikhtiar beralasan logika itu?”




