Akhir-akhir ini pembahasan toleransi kembali menggema. Sebuah kelompok sering menyalahkan kelompok lain hanyahanya gara-gara suatu tindakan yang dianggap intoleransi. Pemahaman toleransi semakin dikaburkan ketika kelomok pemikir liberal melebarkan pemahamannya hingga menjurus kepada paham pluralisme. Dari pemahaman itu sekaligus mereka memberikan ruang sebebas-bebasnya bagi agama-agama untuk ‘berpartisipasi’ pada ritual-ritual agama lain. Maka kita akan menemukan seorang yang bergama Yahudi mengikuti misa di Gereja, atau seorang Muslim mengikuti ritual lintas agama sebagai bentuk toleransi.

Beberapa waktu lalu sebuah perusahaan pembuat kue di Makassar dianggap melakukan tindak intoleransi garagara menolak pesanan seorang perempuan Kristen untuk menuliskan selamat natal di kuenya. Segera kasus tersebut ‘dihakimi’ oleh para pegiat media sosial yang hanya mendapat informasi dari lini masa media sosial. Satu alasan mengapa perusahaan ini menolak; karena bertentangan dengan ajaran agama. Jika toleransi hanya dipahami hanya dalam kasus-kasus di atas, betapa sempitnya pemahaman tersebut.

Dalam hal ini Islam memberikan pemahaman yang jelas tentang toleransi ini. Sejarah telah mengajarkan melalui kisah Rasulullah dan hubungannya dengan agama-agama di sekitar Jazirah Arab, hingga dengan munculnya Piagam Madinah, sebuah perjanjian yang tertulis dan disepakati oleh Rasulullah dan kaum Yahudi atau Nasrani di Madinah. Piagam Madinah ini dibuat dengan tujuan untuk mewujudkan kehidupan yang harmoni bagi seluruh unsur masyarakat Madinah, seperti; mengatur hubungan antar kelompok masyarakat, memberikan hak dan kewajiban dengan adil kepada masyarakat, saling menjaga sumber hukum, kebebasan memeluk beragama, tanggung jawab bersama dalam bidang sosial, ekonomi dan keamanan.

Toleransi beragama berarti saling menghormati dan berlapang dada terhadap pemeluk agama lain, tidak memaksa mereka mengikuti agamanya dan tidak mencampuri urusan agama masing-masing. Umat Islam diperbolehkan bekerja sama dengan pemeluk agama lain dalam aspek ekonomi, sosial, dan urusan duniawi lainnya. Dalam sejarah pun, Nabi Muhammad  telah memberi teladan mengenai bagaimana hidup bersama dalam keberagaman.

Dari Shahabat Abdullah ibn Amr, sesungguhnya dia menyembelih seekor kambing. Dia berkata, “Apakah kalian sudah memberikan hadiah (daging sembelihan) kepada tetanggaku yang beragama Yahudi? Karena aku mendengar Rasulullah berkata,

“Malaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku menyangka beliau akan mewariskannya kepadaku.” (HR. Imam Tirmidzi).

Toleransi adalah membiarkan orang lain berpendapat beda dengan kita, melakukan hal yang tidak sependapat dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. Istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompokkelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.

Akhir-akhir ini pembahasan tentang toleransi semakin banyak dibicarakan dan dikaji. Namun, tidak sedikit dari pembahasan tersebut berakhir dengan sebuah pemahaman yang tidak sesuai ajaran ulama salaf saleh karena minimnya keilmuan yang dimiliki. Pembahasan tentang toleransi semakin penting untuk dikaji terlebih di negaranegara dengan latar penduduk yang berbeda baik suku, ras, dan agama.

Jika diperhatikan, kesalahan dalam memahami toleransi bagi sebagian kalangan adalah mereka masih tetap memegang kuat pluralisme. Kenyataan ini semakin menguat saat masyarakat Barat miskin dengan nilai-nilai agama. Karenanya, mereka sangat sulit beradaptasi di lingkungannya jika nilainilai agama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dibenarkan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, pakar filsafat Barat saat lawatannya ke sebuah universitas di Viena yang diselenggarakan oleh Departemen Kajian Ketimuran (Oriental Studies). Dalam kuliahnya, beliau ditanyakan oleh salahsatu peserta, mengapa di Indonesia orang bisa toleran tapi di sini dan negara Eropa lainnnya tidak. “Saya dan keluarga saya dan saya kira juga kebanyakan keluarga Austria di sini tidak tahan bertetangga dengan keluarga Muslim.”  Pertanyaan itu dijawab bahwa hal itu disebabkan oleh masyarakat Barat terlalu kaku berpegang pada paham sekulerisme sehingga tidak toleran pada agama. Apapun yang berbau agama ditolak apalagi jika agama masuk ke ranah publik.

BACA JUGA: POLITIK ISLAM, SEBUAH USAHA MENJAUHKAN DARI SEKULARISME

Jika surat-surat yang dikirimkan oleh Nabi Muhammad kepada Persia, Romawi, hingga Mesir, diketahui oleh masyarakat post modern, barangkali hal tersebut dianggap sebuah bentuk intoleransi dan memunculkan benihbenih terorisme dan fundamentalisme. Hal itu karena bertentangan dengan doktrin pluralisme agama yang dipujapuja. Pluralisme disebut-sebut sebagai biang keladi mengapa hal tersebut tidak boleh dilakukan di zaman sekarang. Doktrin ini melarang menganggap agama atau kepercayaan orang lain salah, dan agama sendiri benar. Hal ini menyebabkan penyesatan massif yang bisa terjadi di dalam tubuh Islam sendiri. Maka jangan heran jika ada seseorang shalat di gereja dianggap sosok yang toleran, menjaga gereja saat natal dianggap toleran, dan sebagainya.

Siapa yang sebenarnya yang tidak toleran? Selama ini Islam dicap sebagai agama yang paling tidak toleran terhadap agama lain. Stigma Islam kini telah dikenal sebagai agama yang penuh dengan benih-benih terorisme. Hal ini diperparah ketika media-media yang bersebrangan dengan Islam menurunkan beritanya. Setiap hari, saban waktu masyarakat dicekoki dengan berita-berita sampah yang berbau kebencian. Namun, fakta berbicara lain. Di Barat agama dipenjara dalam bilikbilik rumah. Agama hanya boleh dibahas dengan bisik-bisik. Agama tidak boleh dibawa ke dalam ranah publik, dan seseorang tidak boleh mengklaim bahwa agamanya paling benar. Hal itulah yang menyebabkan sikap intoleran merebak di mana-mana.Tapi, tidak halnya dengan Islam. Agama ini telah mengajarkan tata cara berhubungan dengan pemeluk agama lain sejak ribuan tahun yang lalu.

Isom Rusydi/sidogiri

Spread the love