Berbicara tasawuf berarti berbicara tentang penjernihan hati. Tentang bagaimana seseorang menjalani alur kehidupan sekiranya terus menanjak di dalam kebaikan dan perbaikan amal hari demi hari. Berbicara Tasawuf tidak bisa terlepas dari pembahasan mengenai konsep dan praktik. Nah, sekarang kita tinggalkan pembahasan mengenai konsep, dengan membiarkannya menjadi materi perdebatan yang tak berkesudahan. Di sini kita akan mengulik lebih dalam tentang Tasawuf sebagai amaliyah. Lebih-lebih di zaman akhir seperti ini. Relevankah nilai-nilai Tasawuf untuk terus dijadikan landasan amal di tengah carut marut huru hara akhir zaman? Anda segera mendapat jawabannya di buku ini.

Buku yang ditulis dengan penuh keikhlasan tentu lebih mendapatkan tempat dihati penikmatnya. Selayaknya Karya-karya Habib Abdullah al-Haddad lainnya, buku yang kita kupas saat ini sarat akan pesan moral yang baik untuk dijadikan prinsip mengarungi kehidupan. Sekali lagi, lebih-lebih di era seperti sekarang, di mana krisis keteladanan terus menggerus nilai ajaran salaf untuk tampil sebagai percontohan bagi generasi mendatang. Terbagi menjadi 12 pembahasan, masing-masing memiliki pokok pembahasan yang penting untuk dikaji.

Pembahasan awal tentang ketakwaan. Takwa merupakan landasan awal penerapan ilmu tasawuf. Hal yang senantiasa diwasiatkan oleh Allah kepada generasi awal maupun generasi akhir. Takwa adalah. Dalam buku ini dijelaskan, bahwa di antara malaikat-malaikat ada yang tak henti-hentinya bersujud, bertasbih dan menyucikan Allah. Meski demikian kelak di hari kiamat, malaikat-malaikat itu berkata: “Maha suci Engkau, Aku belum mengenali-Mu dengan sebenar-benarnya, ku belum menyembah-Mu dengan sebenar-benarnya.” Di sisi lain kita melihat dari keteladanan Rasulullah, dengan stadium ketakwaan paling paripurna di antara makhluk sejagad raya. Kendati demikian Rasulullah senantiasa memperbaiki interaksi ketakwaan terus menerus. Hal ini bisa dilihat dari untaian bait-bait munajat yang beliau panjatkan yang sepantasnya hal itu diucapkan oleh hamba hina selain Rasulullah.

Setelah mengupas perihal ketakwaan, buku ini berbicara banyak tentang amal-amal yang difardukan. Seperti shalat misalnya. Pentingnya menjaga adab di dalam shalat juga termasuk keteladanan salaf yang perlu dilestarikan. Berangkat lebih awal bahkan sebelum masuk waktu adalah termasuk keutamaan. Suatu keterangan menyebutkan: “Di antara tanda-tanda orang yang lalai adalah berangkat menuju tempat shalat setelah adzan di kumandangkan. Karena sejatinya adzan adalah penginat bagi mereka yang lupa dan lalai.”

Selanjutnya, buku ini berbicara tentang hal-hal yang membuat orang celaka, dan hal-hal yang membuat orang selamat. Di sinilah bagian paling esensial dari kajian Tasawuf yang mesti digencarkan dewasa ini. Menjaga perut dari makanan haram dan syubhat, menjaga mulut dari ucapan kotor dan keji, menjaga kelamin dari zina dan yang paling penting menjag hati dari penyakit-penyakit hati. Di zaman yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, ruh Tasawuf amat perlu ditingkatkan dalam jiwa seseorang. Jika tidak, ancaman jatuh ke lembah penistaan bukan menjadi isapan jempol belaka.

Abdullah bin Umar berkata: “Seandainya kalian shalat hingga (tubuhmu melengkung) seperti busur, dan seandainya kalian berpuasa hingga (kurus) laksana benang gitar, hal itu tidak akan di terima kecuali dengan sifat wara’.” Ibnu al-Mubarak berkata: “Menolak satu dirham dari perkara syubhat lebih disukai oleh Allah dari pada sedekah ratusan ribu dirham.” Al-Imam Sufyan as-Sauri mengatakan: “Orang yang bersedekah dengan perkara haram ibarat mencuci pakaian dengan kencing.” Dan termasuk pola pikir yang salah jika seseorang menganggap boleh bermuamalah dengan perkara syubhat dan haram lantaran kita hidup di zaman yang tidak ada perkara halal kecuali sedikit.

Spread the love