Seorang laki-laki mendatangi seorang sufi di desanya. Di hadapan sang sufi, ia mengutarakan keluhannya berkaitan dengan problem kehidupan yang dideranya. “Syekh, saya bosan hidup. Saya ingin mati saja,” keluhnya.

Syekh tersebut tersenyum dengan pernyataan lugu itu. “Sepertinya kamu sedang sakit, dan penyakitmu itu bisa disembuhkan.”

“Tidak syekh. Tubuh saya dalam keadaan sehat. Saya sudah tidak ingin hidup lagi. Saya ingin mengakhiri hidup saja,” timpal laki-laki tersebut.

“Jika memang itu keinginanmu, ambil racun ini. Minumlah setengah botol malam ini, sisanya besok sore. Malamnya, kamu akan mati dengan tenang.”

Mendengar saran itu, laki-laki tersebut sedikit bingung. Dalam pikirnya, seorang syekh biasanya memberikan nasihat bijak dalam semangat hidup. Ini justru memberikan saran sebaliknya. Akan tetapi ia tetap pulang, dan sesampainya di rumah ia minum setengah botol racun pemberian sang sufi.

Malam itu, ia makan malam bersama keluarga dengan masakan yang lezat. Ia ingin meninggalkan kesan bahagia di tengah keluarganya. Dengan riang ia bersama keluarga, dan menjelang tidur ia pun mencium semua keluarganya dengan penuh kasih sayang.

Pagi harinya, ia merasakan hawa tenang saat membuka jendela. Ia pun membuat minuman untuk istri dan dirinya. Sang istri merasa aneh dan heran dan bertanya-tanya. Ia sampai beranggapan ada yang salah pada dirinya hingga minta maaf jika ada kekeliruan. Laki-laki tersebut hanya menimpalinya dengan senyuman.

Sikap yang sama ia tunjukkan di tempat kerja, hingga membuat teman-temannya merasa heran. Ia sangat menghargai siapa saja yang ia temui, seolah mohon izin untuk pergi selamanya. Sore setelah pulang kerja, sang istri menyambutnya dengan pelukan hangat. Sekali lagi ia minta maaf jika ada kekeliruan dalam keluarga.

Tiba-tiba, ia merasa hidup begitu indah. Ia bermaksud mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan racun yang terlanjur sudah ia minum? Bergegas ia mendatangi sang sufi , dan bertanya cemas mengenai racun yang telah sebelumnya ia minum kemarin. Sang Sufi dengan enteng mengatakan, “Buang saja botol itu. Isinya hanyalah air biasa. Saya bersyukur bahwa ternyata kau sudah sembuh.”

***

Hidup penuh bahagia adalah impian semua orang. Seandainya kita bertanya kepada orang-orang di sekeliling kita, apa pun agama, bangsa, profesi dan status sosialnya tentang cita-cita mereka hidup di dunia ini tentu jawaban mereka sama “ingin bahagia”, sebab bahagia adalah keinginan semua orang. Tak seorang pun menginginkan ada masalah terhadap kebahagiaan hidupnya, baik di dunia maupun akhirat.

Hanya kemudian yang berbeda adalah mengenai sumber kebahagiaan itu. Apa yang membuat seorang itu bahagia? Ada yang menilai, kebahagiaan berada di kecukupan materi, sehingga penyelenggaraan pendidikan pun banyak diarahkan pada kesejahteraan biaya hidup. Ada pula yang mengukur kebahagiaan dari jabatan dan pangkat, sehingga harus diburu dan dikejarkejar.

Sebanding dengan bahagia, setiap orang pasti menginginkan terbebas dari masalah, karena dalam keyakinannya masalah adalah penghambat terbesar kebahagiaan. Oleh karena itu, mereka terus berusaha untuk menghindari masalah, meski masalah menjadi hal yang niscaya, karena di dunia ini tidak selamanya mulus tanpa masalah.

Kebahagiaan itu soal rasa, kata seorang fi lusuf. Karena itulah, dalam menilai sumber kebahagiaan itu menjadi relatif pada masing-masing individu. Tergantung selera. Namun kemudian, apakah tidak ada rumus kehidupan dalam menata rasa tersebut sehingga kebahagiaan sejati bisa diraih?

Sebagai manusia yang beriman, tentunya kebahagiaan tidak hanya diinginkan pada kehidupan dunia saja, melainkan juga di akhirat. Inilah yang dimaksud kebahagiaan sejati. Dari itulah, penataan rasa harus diarahkan pada dua kebahagiaan tersebut. Setidaknya, ada tiga rasa yang perlu ditata agar senantiasa bahagia, baik di dunia maupun akhirat. Ketiganya adalah rasa syukur, rasa sabar dan rasa taubat. Artinya, bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapatkan cobaan dan bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Terkadang kita tidak sadar bahwa sumber kebahagiaan itu ada di sekitar kita. Kita tidak menyadarinya, lantaran tidak ada rasa syukur. Semua organ tubuh dalam keadaan sehat, anggota keluarga mencintai dan harta yang mencukupi, terkadang hampa dan kering. Padahal, ketika semua itu dinikmati dan disyukuri, akan menjadi sumber kebahagiaan.

Di samping ada nikmat yang harus disyukuri, juga ada ujian dari Allah. Dari itu, diperlukan rasa sabar ketika menghadapinya. Dengan rasa sabar, kebahagiaan akan segera diraih, karena rasa syukur akan tumbuh seiring tumbuhnya rasa sabar saat menerima ujian. Sering terjadi, rasa syukur hilang disebabkan tidak sabar menerima ujian dari Allah.

Hal seperti inilah yang kemudian terjadi pada seorang laki-laki dalam kisah di atas yang kehilangan rasa sabar saat diterpa masalah. Ketidaksabarannya telah menutupi semua sumber kebahagiaan di sekitarnya. Namun kemudian, ketika rasa sabar tumbuh yang diiringi dengan syukur, tabir yang menutupi kebahagiaan tersingkap kembali. Bunuh diri yang awalnya dijadikan solusi satusatunya menghindari masalah yang menutup kebahagiaan urung dilakukan.

Selanjutnya adalah rasa taubat. Kita tahu bahwa meratapi kesalahan secara terus-menerus memang menjadi sumber masalah yang menutup rasa bahagia. Akan tetapi, merasa enjoy dengan kesalahan dan dosa bukan berarti telah mendapat kebahagiaan. Justru dengan menumpuk dosa, rasa bahagia akan terkikis karena bagaimanapun rasa bersalah itu akan terus ada dan setiap kesalahan juga akan mengancam kebahagiaan di akhirat.

Dari itulah, Allah memberi jalan untuk mengatasi kesalahan melalui pintu taubat. Cara bertaubat pun Allah memberikan arahan: Jika bersangkutan dengan hak-hak Adami, melalui minta maaf dan mengganti kerugian materi; jika bersangkutan dengan hak Allah, melalui istighfar. Artinya, Allah memberi jalan kebahagiaan kepada hambanya melalui solusi taubat. Dengan bertaubat, setiap masalah yang ditimbulkan dari kesalahan akan sirna. Bukankah masalah itu kebanyakan timbul dari kesalahan?

Sebenarnya, soal rumus kebahagiaan banyak disampaikan oleh ulama. Di antaranya adalah tokoh sufi terkenal, Hasan al-Bashri yang menyebut kebahagiaan bisa diraih dengan tiga hal: shalat, dzikir dan baca al-Qur’an. Namun, setidaknya, dengan tiga rasa di atas insya Allah mampu mendatangkan kebahagiaan sejati, karena tidak hanya kebahagiaan di dunia yang didapat, tapi juga di akhirat. Wallahu a’lam.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri