NU itu bukan faham. NU adalah salah satu ormas yang ada di Indonesia yang mewadahi fahamAhlussunnah wal Jamaah.

Fungsi NU jelas. Dari sisi dakwah, NU memberikan pelayanan (khidmah) memberdayakan warganya. Berupaya melindungi dari faham-faham lain (bukan ormas lain), yang tidak sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Ibarat penjual produk, targetnya adalah laku. Terkenal dan ternama, itu soal brand yang tidak terlalu penting dan bukan substansi.

Dari sisi kemanusiaan dan kebangsaan, NU paling menonjol. NU menempatkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar tertinggi dalam berbangsa dan bernegara. NU mengusung sikap moderat, penyeimbang dan tidak mau terlibat dalam satu konfl ik isu SARA kemanusiaan, dengan konsep “toleransi”.

Sisi lain dari NU yang berkembang saat ini, adalah implementasi dari paham yang dianut: yakni Asy’ariyah, Maturidiyah, Madzahibul-Arba’ah, Ghazaliyah dan Junaidiyah. Komite Hijaz tujuan terpentingnya adalah menyelamatkan faham Aswaja internasional dari aliran Wahhabi yang mungkin mempengaruhi Indonesia. Inilah substansi dari NU dimaksud, N sebelum berbicara kebangsaan dan perlawanan terhadap kolonial.

Tentu menjadi warga NU adalah kebanggaan tersendiri bagi batin, terlepas dari peran-peran ganda yang sering dibuat-buat oleh beberapa oknum yang tidak memahami Ahlussunnah wal Jamaah seutuhnya.

Dewasa ini, NU sering menjadi sorotan berbagai pihak dan kalangan. Semakin tingginya popularitas yang disandangnya, semakin tertantang menjawab persoalan-persoalan bangsa dan polemik di dalamnya. Saya menganggapnya wajar, karena ini dinamika organisasi menuju kedewasaan dan kematangan yang absolut.

Namun, ada hal dan poin-poin yang sering diabaikan: substansi. Kembali pada tujuan awalnya, “Mewadahi paham Aswaja”, NU sering terjebak konfl ik dengan ormas lain yang berbeda, sekalipun dalam satu faham. NU lebih menitikberatkan pembelaannya kepada NU secara organisasi, ketimbang paham yang menjadi substansi.

Pandangan saya, NU berkhidmah melindungi warganya dari fahamfaham yang tidak sama dengan NU. Di antaranya, Wahhabi, Syiah, Ahmadiyah dan lain-lain, tanpa membela mereka dan memerangi secara fi sik. Terkait ormas-ormas baru di luar NU, selama masih dalam satu faham, biarkan. Mereka ibarat penjual produk milik kita, hanya logo dan mereknya saja yang mereka rubah. Insyaallah, ketulusan semakin berpeluang menjadi jariyah.

Sebab itu, kita yang sudah besar harus tetap rutin berbenah diri. Jangan biarkan kita larut oleh pemikiran orangorang yang tidak memahami NU secara substansi, karena berkemungkinan besar akan merugikan NU yang sudah besar saat ini.

“Minoritas cenderung lebih kreatif daripada mayoritas yang menikmati kebesarannya.”

Tulisan ini, saya tegaskan, adalah tulisan cinta. Tulisan ini lahir atas dasar cinta saya kepada NU, organisasi yang lahir dari Kiai sepuh dan melahirkan tokoh-tokoh Nasional. Saya bangga menjadi bagian dari NU, karena itu, saya menulis tentang NU.

Spread the love