Pada tahun 1145 Hijriyah atau 1732 Masehi, di kota Bilgram, sebuah kota kecil dekat Kannaut, Negara Bagian Attur Paradihs, wilayah India. lahirlah seorang bocah ajaib yang bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq al-Wasithi az-Zabidi al-Husaini, yang dikenal dengan sebutan al-Murtadha dan merupakan salah satu dzurriyah Rasulullah. Nasab beliau sampai kepada As-Sayyid Al-Imam Ahmad bin Isa bin Al-Imam Zaid bin ‘Ali bin Al Hasan bin ‘Ali bin Abi Tholib. Sedangkan kakek-buyut beliau berasal dari kota Wasith, sebuah wilayah di negara Irak.

Sejak kecil az-Zabidi terdidik dengan ilmu agama yang kuat, berasal dari keluarga Penghafal al-Quran dan pakar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang al-Quran dan ilmu tajwid. Kemudian belajar bahasa Arab dan Persia kepada ulamaulama Bilgram saat itu, setelah itu az-Zabidi melanjutkan ke kota Khairabad kemudian Allahabad, kemudian menuju Akbarabad dan dilanjutkan ke Delhi. Di Delhi az-Zabidi belajar kepada Muhaddis Syeikh Muhammad Fakhir bin Yahya Al-Ilhabadi, dan Muhaddis Syah Waliyullah Ad-Dihlawi dan beliau berhasil mendapatkan ijazah sanad dari keduanya. Setelah itu dia menuju kota Gujarat, untuk berguru kepada Syaikh Khoiruddin Muhammad Zahid.

Tidak merasa cukup dengan ilmu yang ia dapatkan di anak benua India, az-Zabidi ingin menimba ilmu lebih luas pada ulama-ulama yang berada di Semenanjung Arab, disamping juga untuk melaksanakan ibadah Haji. Dan pada tahun 1161 atau 1748 M atau sekitar berusia 15 tahun az-Zabdi menyiapkan diri untuk menuju Jazirah Arab, ia berangkat melalui pelabuhan Gujarat, India menuju pelabuhan Mukham, Yaman. Saat pertama kali sampai ia singgah di kota Mizjajah kemudian meneruskan perjalanannya menuju Zabid, daerah Hudaidah, wilayah Yaman selatan. Ia belajar pada mendalami bahasa Arab kepada Syekh besar di sana, yaitu Syaikh Radiyuddin Abdul Khaliq al-Mizjaji dan Muhammad bin Ala’uddin al-Mizjaji, dan darinya mendapat ijazah sanad kitab Qamus al-Muhith karya monumental al-Firuzabadi, yang nantinya menjadi inspirasinya dalam mengarang kitab kamus Tajul Arus Minjawahiril Qamus mahakarya az-Zabidi dalam bidang kebahasaan.

Dan dalam bidang fikih az-Zabidi belajar kepda Ahmad bin Muhammad. Ia tumbuh berkembang di sana dan menetap beberapa tahun, sehingga orang-orang di sana lebih sering memanggilnya dengan sebutan AzZabidi dari pada menisbatkan kepada tanah kelahirannya. Dan juga karena nama tempat kelahirannya terlalu asing bagi orang-orang Arab.

Kemudian meneruskan perjalanannya menuju Tanah Haram. Di sana az-Zabidi bertemu dengan Sayid Umar bin Ahmad al-Husaini dan meriwayatkan banyak hadis darinya utamanya hadis musalsal tepat di sisi Babur-Rahmah di Masjid Nabawi, kemudian bertemu dengan Abi Abdillah Muhammad bin Muhammad asy-Syarafi. Kemudian bertemu dengan Syekh Abdurrahman al-Idrusi, belajar kebahasaan dan mengaji Ihya Ulumuddin. Atas saran beliau azZabidi pegi ke tanah Mesir dan belajar kapada ulama-ulama di sana. Namun sebelumnya dia kembali kembali lagi ke Yaman selama satu tahun.

Pada tahun 1754 M/1156 H, az-Zabidi sampai ke tanah Mesir kemudian meneruskan perjalanannya ke dataran tinggi Mesir. Di sana bertemu dengan beberapa ulama besar di antaranya: al-Mudabighi, al-Hafni, al-Jauhari, alMalawi, ash-Shaiidi dan ulama al-Azhar serta mendapatkan sanad hadis dan sanad keilmuan dari mereka.

Kemudian az-Zabidi meneruskan perjalannnya ke daerah pesisir Mesir, mulai dari Iskandariyah, Rashid dan Dimyath, kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah barat, menuju Tunisia, Telemcan, Aljazair dan Fas dan beberapa daerah di Maroko.

Tekun Membaca dan Menulis

Az-Zabidi merupakan tipikal ulama yang produktif, bila dihitung jumlah tulisanya baik yang berupa kitab ataupun risalah mencapai seratus tujuh karya yang sebagian besar membahas tentang hadis atau ilmu yang berkaitan. Di dalam menulis beliau termasuk orang yang tekun, sebagai buktinya karya terbesar yaitu Tajul-‘Arusy min Jawahirul-Qamus, butuh 14 tahun 2 bulan untuk menyelesaikannya. Tak heran jika Tajul Arusy merupakan kamus Arab-Arab terbesar menurut para pakar kebasahaan, setelah Lisan al-‘Arab karya Ibnu Madzur. Sementara dalam menulis Ithafus-Sadah al-Muttaqin syarah Ihya Ulumiddin karya al-Ghazali, dibutuhkan waktu sebelas tahun untuk merampungkannya.

Di samping itu, az-Zabidi sangat gemar membaca serta senang mengoleksi karangan-karangan langka ulama terdahulu, bahkan beliau punya Perpustakaan pribadi yang di dalamnya terdapat karya-karya langka para ulama yang jarang ditemukan di tempat-tampat yang lainnya. Koleksi yang beliau dapat mulai dari timur negara India dan sekitarnya sampai ke wilayah Maghrib. Beliau menulis surat kepada para ulama untuk mengunjungi perpustakaannya. Agar bisa berbagi ilmu serta memberi tahu koleksi yang tidak ada di perpustakaannya. Setelah beliau wafat perpustakaannya dibeli Sultan Abdul Hamid I dan kemudian diwaqafkan untuk para pelajar yang berada di sana.

Mazhab Akidah dan Tarekat

Dalam Mazhab Fikih az-Zabidi mengikuti Mazhab Hanafi, seperti kebanyakan ulama-ulama dari Asia Selatan, walaupun guru-guru dan murid beliau banyak yang bermazhab Syafi’i. Sementara dalam bidang akidah beliau mengikuti akidah Ahlussunnah wal Jama`ah Mazhab al-Maturidi, hal ini jelas sebagaimana yang beliau terangkan didalam kitabnya Ithafus-Sadah al-Muttaqin, sementara tarikat beliau didalam ilmu Tasawuf adalah Tarekat Syadziliyah, dan beliau juga pernah mengambil tarekat Naqsyabandiyah.

Kehidupan Pribadi Beliau menikah dua kali, itu semua terjadi saat beliau sudah menetap di Mesir. Pernikahan pertama dilakukan pada tahun 1182 H atau 1769 M hingga isteri beliau wafat pada tahun 1196 H atau 1782 M. Pada tahun yang sama beliau menikah lagi, Dari dua pernikahan beliau tidak mempunyai keturunan. Pada tanggal 4 Syaban 1205 atau 13 September 1790, selepas menunaikan Shalat Jumat, tiba-tiba beliau tidak bisa menggerakkan lidahnya, ternyata itu merupakan efek penyakit tha’un yang melanda Mesir saat itu. Sebelumnya memang telah menelan banyak korban. Pada hari Ahad, dua hari kemudian beliau menghembuskan nafas terakhir.

M. Fauzan Imron/sidogiri