Imajinasi itu sangat liar, seliar rajawali di hamparan sabana. Sehingga, apa yang kita bayangkan seringkali lebih seru daripada apa yang kita lihat; apa yang kita simak lebih menjanjikan daripada apa yang kita saksikan.

Imajinasi itu berkelindan dengan rasa yang tak pernah bisa didefinisikan dengan jelas dan terukur. Sesuatu yang hanya kita dengar selalu memberikan ruang yang bebas bagi khayalan untuk berkreasi; menciptakan bentuk-bentuk imajinasi seluas-luasnya.

Bangsa kita pernah menjadi penggandrung sandiwara radio, kisah-kisah ksatria yang menjadi ‘betapa seru’ karena visualisasinya kita ciptakan sendiri dalam khayalan. Pada saat kita tidak melihat sesuatu secara langsung, maka lebih mudah bagi kita untuk membuat khayalan-khayalannya hingga pada tingkat yang paling liar sekalipun.

Karena itulah, ketika sebuah kisah dalam novel atau sandiwara radio diangkat menjadi film, maka begitu banyak orang yang kecewa. Ekspektasi dan khayalan penonton seringkali tidak bisa terwakili oleh visualisasi terbatas yang disajikan oleh sutradara.

Suara dubbing Ferry Fadli yang merajai sandiwara radio di era 80an jauh lebih mengesankan bagi generasi setengah tua ketimbang akting lincah  Rico Verald dalam berbagai sinema kolosal di era milenial ini.

Kita adalah umat dan bangsa yang kadangkala memang enggan untuk menyaksikan realita dengan mata kepala, lantaran takut kecewa. Realita seringkali tak seindah ekspektasi dan khayalan.

Maka kita kadangkala lebih suka mendengarkan cerita yang tentu saja penuh dengan bumbu di sana sini. Kita lebih suka mendengar cerita ular naga yang dusta ketimbang ular sanca yang nyata. Kita kadangkala lebih menyukai kebohongan yang manis daripada kejujuran yang pahit; kepalsuan yang seru daripada kesungguhan yang datar. Sebagaimana pula kita lebih menikmati keragu-raguan yang menyisakan harapan semu, kembang cambuk kepastian yang melenyapkan angan-angan fatamorgana.

Seseorang terlihat enteng dan merasa aman-aman saja Ketika melakukan keburukan karena dia lebih buka menikmati angan-angan pengampunan yang kemungkinannya sangat kecil, daripada menyadari dan menakuti yang kemungkinannya sanga besar, bahkan pasti.

Hal itu karena kebenaran dan kenyataan, sepasti apapun, seringkali diposisikan berada di bawah selera, satu, dua atau beberapa grade di bawahnya. Kebenaran itu terasa sebagai kepentingan lain, sedangkan selera adalah kepentingan sendiri. Sementara itu, masing-masing dari kita memiliki egosentrisme dengan tingkat ketebalan yang berbeda-beda.

Baca juga: “Terpaksa…”

Karena itulah kebenaran yang sudah pasti sekalipun kadangkala masih diopinikan sebagai sesuatu yang tidak pasti. Banyak bermunculan penganut relativisme bermuka dua. ‘’Surga dan neraka itu urusan Tuhan, bukan urusan kamu!’’. ‘’jangan suka menghakimi orang! Jangan berlagak jadi tuhan!’’

Apakah kalimat ini terlontar karena luapan Iman kepada tuhan? Barangkali tidak! Justru di situ tersirat Skeptisisme terhadap sekian banyak wahyu Tuhan yang jelas-jelas menegaskan bahwa tempat kekafiran, kesesatan dan kemaksiatan itu adalah di neraka! Hanya saja mereka melakukan eufemisme sekaigus pretensi, takut untuk terang-terangan. Tak siap dengan sanksi sosialnya yang terlalu tinggi. Skill hipokrisi yang sangat lihai!

Di negeri 62 ini memang banyak hal semu, termasuk orang beragama yang terkesan sangat alergi terhadap agamanya. Tentang itu, setidaknya, kita telah mendengar diksi bahwa ‘’Agama adalah musuh besar pancasila’’, padahal sebelum dan sesudahnya kita dak pernah mendengar kalimat ‘’pancasila adalah musuh besar agama. ‘’Sebuah diksi yang terlontar dari meja birokrasi punya potensi untuk menjadi diktum, jika kita melewatkannya begitu saja.

MAS DWY SADOELLAH

Spread the love