Memelihara burung berkicau saat ini sudah menjadi budaya di tengah masyarakat. Berbagai jenis burung dipelihara, mulai dari perkutut hingga kakaktua. Toko penyedia burung dan pakan burung laris manis diserbu para pencinta burung. Burung yang pada era 80-an tidak laku, seperti Cendet, sekarang menjadi mahal. Pada akhirnya, kicauan mereka tidak lagi bisa dinikmati oleh petani di saat rehat, melainkan di perkampungan, di depan rumah-rumah.

Meski telah menjadi budaya, jarang orang melihat dari sudut hukum memelihara burung yang dikurung. Bukankah dengan disangkar, mereka sama dengan mengekang kebebasan? Atau bahkan membataasi makhluk untuk “berumah tangga”?

Dalam hal ini, suatu ketika, Imam al-Qaffal ditanya tentang hukum mengurung burung dalam sangkar untuk didengar suaranya? Hal itu tertulis dalam kitab Mughnil Muhtaj, (Juz: 5 Hal : 547) dengan redaksi demikian:

وسئل القفال عن حبس الطيور في أقفاص لسماع أصواتها وغير ذلك، فأجاب بالجواز إذا تعهدها مالكها بما تحتاج إليه، لأنها كالبهيمة تربط

 “Al-Qaffal ditanyakan tentang penangkaran burung di sangkar untuk tujuan mendengar suara atau lainnya. Imam Qaffal menjawab boleh, jika pemiliknya telah menyiapkan kebutuhan burung, karena burung demikian tak ubahnya hewan yang diikat.”

Dari redaksi di atas, setidaknya ada kejelasan hukum yang disampaikan oleh Imam al-Qaffal bahwa memelihara burung hukumnya boleh. Akan tetapi, dengan catatan semua kebutuhan burung, seperti minum dan makannya disiapkan. Hal ini tidak memandang tujuannnya, baik itu hanya untuk mendengarkan suara kicauan burung atau bersenang-senang dengan melihat warnanya.

Terkait dengan pemeliharaan burung ini, apa yang disampaikan oleh al-Qaffal didasarkan pada sebua hadis dari Shahabat Anas. Hadis ini banyak dikutip dalam hal pemeliharaan hewan atau pemburuan. Hadis dimaksud adalah:

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ – قَالَ: أَحْسِبُهُ – فَطِيمًا، وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: «يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ» نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ

“Dari Anas, dia berkata, ‘Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Saya memiliki seorang saudara yang biasa dipanggil Abu ‘Umair—perawi berkata, aku pikir, Abu ‘Umair anak yang baru disapih—Ketika datang bertemu Abu ‘Umair, Nabi memanggil, ‘Wahai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan oleh si Nughair (jenis burung), sementara anak itu sedang bermain dengannya”. (H.R. Bukhari, No. 6203).

Kata Nughair dalam hadis ini, menurut Imam ‘Iyadh, sebagaimana dikutip oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari-nya, sejenis burung yang mirip pipit. Ada pula yang mengatakan nughair adalah telur burung pipit. Akan tetapi, pendapat unggul (ar-Rajih), termasuk di dalamnya al-Khaththabi, mengartikan kata nughair adalah jenis burung kecil berparuh merah.

Dalam hadis di atas, Rasulullah membiarkan Abu ‘Umair bermain-main dengan burung kecil piaraannya. Nabi pun tidak memerintahkan keluarganya untuk melepas burung tersebut. Dari itulah, para ulama menyatakan boleh memelihara burung. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya, Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari (x/584), juga menyatakan bahwa hadis di atas menunjukkan kebolehan memelihara burung. Ibnu Hajar menulis:

جواز إمساك الطير في القفص ونحوه

“(Hadis ini) menunjukkan boleh menangkar burung dalam sangkar dan semacamnya”.

Kebolehan memilihara burung yang ditaruh di sangkar ini, sebagaimana juga dikatakan oleh al-Qaffal di atas dengan di-qiyas-kan pada hukum mengikat binatang, semacam kambing, kuda dan sapi. Sangkar tak ubahnya tali pengikat yang membatasi gerak hewan. Hanya kemudian, yang harus diperhatikan adalah kebutuhan hidup hewan piaraan harus diperhatikan.

Kebutuhan dimaksud adalah makan dan minum. Mengurung hewan dengan tidak memberi makan dan minum adalah bagian dari tindakan haram. Ulama mendasari tindakan illegal syar’i ini dengan sebuah hadis riwayat Imam Muslim:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَسَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

 “Dari ‘Abdullah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang wanita disiksa Allah lantaran dia mengurung seekor kucing sampai mati, sehingga ia masuk neraka karena kucing Karena itu, Allah memasukkannya ke neraka. Kucing itu dikurungnya tanpa diberi makan dan minum dan tidak pula dilepaskannya supaya ia dapat menangkap serangga-serangga bumi.” (Shahih Muslim, no. 4160)

Imam asy-Syaukani dalam Nailul Author-nya mengatakan bahwa hadits ini menjadi dalil tentang keharaman mengurung kucing atau hewan peliharaan lainnya tanpa memberi makan dan minum. Alasannya, karena hal itu merupakan bentuk penyiksaan pada makhluk Allah.

Baca juga: Serambi Masjid dalam Kaitan Wanita Haid

Hal yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah tidak dosa ketika kita tidak menyediakan pasangan untuk burung? Bukankah burung juga punya keingingan untuk berhubungan intim? Dalam hal ini, al-Bajuri saat memberi Hasyiah pada kitab Fathul-Qarib berjudul Hasyiyah Bajuri (II/187) menulis redaksi demikian:

فيفهم ان الرقيق لا يلزم اعفافه واولى به الحيوان

 “Dapat dipahami bahwa budak tidak wajib untuk dikawinkan, terlebih pada hewan.”

Maksudnya, tidak wajib bagi pemelihara burung untuk mengawinkannya. Hukum ini difaham dari ketidakwajiban mengawinkan budak oleh sayidnya. Kewajibannya hanyalah menyediakan kebutuhan hidup hewan piaraan.

Kesimpulannya, memelihara hewan seperti burung diperbolehkan, meski hanya sekadar menikmati kicauan atau bulu-bulu indahnya. Hal itu dengan catatan harus merawat dengan baik dengan cara mencukupi kebutuhan hidup hewan, yakni makan dan minumnya. Tidak wajib untuk mengawinkan hewan piaraan, atas faham aulawi bahwa kepemilikan budak tidak wajib mengawinkannya. Wallahu a’lam.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri

Spread the love