Masjid adalah tempat central kegiatan keagamaan umat Islam. Bukan hanya terkait dengan ibadah shalat dan dzikir, tetapi juga aktivitas dakwah dan pendidikan. Dari itu, berbagai kegiatan keagamaan sering diselenggarakan di masjid. Akad nikah pun dianjurkan di masjid. Hanya kemudian yang menjadi problem dalam setiap kegiatan adalah sampah makanan setelah acara, padahal sebagai tempat ibadah, masjid harus bersih dan nyaman. Ada larangan yang jelas soal mengotori masjid.

Dasar utama menjaga kebersihan masjid ini adalah sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang menceritakan seorang Arab pedalaman kencing di masjid. Setelah menyiram dengan air, Rasulullah mengatakan:

إن هذه المساجد لا تصلح لشيء من هذا البول ولا القذر وإنما هي لذكر الله والصلاة وقراءة القرآن

“Sesungguhnya, masjid-masjid ini tidak layak untuk sesuatu dari air seni ini dan (kotoran yang) menjijikkan. Masjid untuk mengingat Allah, shalat dan membaca al-Quran.” (HR. Bukhari Muslim).

Larangan mengotori masjid demikian jelas pada hadis ini. Ada dua kata kunci pada pada larangan tersebut: benda najis dan sesuatu yang terbilang jijik. Jijik bukan berarti najis, karena benda yang dihukumi suci pun bisa terbilang jijik. Semuanya harus terhindar dari masjid.

Akan tetapi, di samping ada hadis ini ada hadis lain riwayat Ibn Majah yang menyebut para shahabat makan roti dan daging di masjid. Selain itu, Rasulullah juga makan dan minum saat melakukan i’tikaf. Shahabat Shuffah juga makan dan minum di dalam masjid. Soal riwayat Ibn Majah, datang dari Abdillah bin al-Harits yang menceritakan bahwa dulu pada masa Nabi, para Shahabat makan roti dan daging dalam masjid. Ia bercerita:

كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ الْخُبْزَ وَاللَّحْمَ.

“Dahulu di masa Nabi e kami makan roti dan daging di dalam masjid”. (HR. Ibnu Majah).

Inilah yang kemudian menjadikan aktivitas makan dan minum di masjid terjadi khilaf ulama. Perbedaan tidak hanya pada kesimpulan hukumnya, tetapi kondisi dan syarat yang ditetapkan juga berbeda. Namun, pada intinya, hukum makan dan minum di dalam masjid ini erat kaitannya dengan masalah kebersihan masjid.

Lumrahnya, makan di dalam masjid berpotensi membuat kotor masjid akibat sisa makanan yang jatuh, terlebih jika makanannya berminyak atau berkuah. Dari itulah, beberapa pandangan terkait dengan hukum makan makanan di dalam masjid ini juga mempertimbangkan jenis makananya, apakah berpotensi mengotori?

Dari kalangan Malikiyah, misalnya, mereka membolehkan makan dan minum di masjid selama yang dimakan bukan makanan yang berpotensi mengotori masjid. Kurma, adalah di antara makanan yang dicontohkan mereka dalam kebolehan makan di masjid, karena tidak berpotensi mengotori masjid. Sebaliknya, buah semangka tidak boleh dimakan di masjid, karena beresiko mengotori masjid.

Akan tetapi, kondisi orang makan, juga dipertimbangkan dalam mazhab ini. Para musafir yang tidak memiliki tempat singgah dan orang yang beri’tikaf, larangan itu tidak berlaku. Alasannya, mereka memang dalam kondisi yang menuntut untuk berada di dalam masjid.

Pandangan ini, sejalan dengan Hanafiyah yang menyatakan makruh makan dan minum di dalam masjid. Akan tetapi, bagi musafir kemakruhan itu tidak berlaku. Pandangan yang sama dengan Hanafiyah dari kalangan Hanabilah, hanya memberi saran untuk memberi alas saat makan di masjid agar tidak mengotori masjid.

Dasar yang dijadikan landasang bagi Mu’takif (orang yang beri’tikaf) boleh makan di masjid, karena saat Rasulullah i’tikaf beliau makan dan minum, bahkan tidur di masjid. Berarti potensi mengotori pada jenis makanan tertentu tidak menjadi pertimbangan hukum dalam kondisi demikian.

Kedua mazhab di atas sepakat bahwa hukum makan dan minum di dalam masjid tidak sampai pada tingkatan haram. Hanya berbeda pada jenis makanan dan kondisi orang yang makan. Sejalan dengan itu, dalam madzhab Syafii dan Hambali. Pandangan umum dalam mazhab ini adalah, boleh makan roti atau buah-buahan di dalam masjid.

Meski demikian, sisi kebersihan masjid tetap harus dijaga, sehingga dalam mazhab Syafi’i ada saran untuk memberi alas, agar tidak mengotori masjid. Sebab, jika sampai mengotori masjid sehingga masjid terlihat jijik, maka makan di masjid berhukum haram, meski makanan tersebut dihukumi suci. Jika hanya sekedar mengotori, tidak sampai terbilang menjijikkan, karena makanannya kering, semisal kulit kacang, maka berhukum makruh. (al-Fiqh ‘alal Madzahib al-Arba’ah: 149).

Hal yang menjadi titik pertimbangan lain pada kasus ini adalah jenis makanan yang memang bersifat mengganggu pada jamaah lainnya, semisal bawang putih atau rokok. Makanan jenis ini berpotensi mengganggu kekhusyuan mushalli akibat bau dan aroma tidak sedap yang ditimbulkan dari makanan tersebut. Terlebih, makan makanan demikian juga terbilang makruh. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasullah memerintahkan orang yang makan bawang untuk menjauhi masjid. (HR. Bukhari Muslim).

Memang, soal merokok di masjid ini, jika sisi pandangnya ada pada makanan, merokok di dalam masjid minimal makruh. Bau tidak sedap yang ditimbulkan rokok, menjadi titik poin hukum makruh ini, karena bisa menyebabkan jamaah masjid terganggu. Hal ini sama dengan jenis makanan yang dapat menimbulkan bau tidak sedap, sebagaimana dikatakan oleh asySyarwani, dalam Hawasyi Tuhfatul Muhtaj bahwa rokok sama dengan bawang merah dan bawang putih.

Akan tetapi, ada sisi pandang lain terkait dengan tempat, yaitu masjid sebagai tempat ibadah yang harus dimuliakan. Dalam hal ini, Syaikh Isma’il Utsman al-Yamani, misalnya, dalam kitab tanya jawab Qurratul ‘Ain bi Fatawa Isma’il az-Zain menyatakan bahwa merokok di dalam masjid hukumnya haram.

Hukum haram ini, belum memandang dari sudut mengotori masjid oleh abu rokok, sehingga menjadikan masjid terlihat kotor dan jijik. Jika sudah sampai menjijikkan pada kondisi masjid, jelas berhukum haram disebabkan telah mengotori masjid. Dalam hal ini, Syaikh Ism’ail mengatakan: “Apabila merokok dilakukan di dalam masjid, sebagaimana yang ditanyakan, atau ditempat lain seperti majlis ilmu maka hukumnya haram, karena perbuatan tersebut merusak keagungan tempat, sebab Allah telah berfirman:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“(Bertasbih kepada Allah) di masjidmasjid yang diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu malam dan petang” (QS. An-Nur: 36)

Pada intinya, masjid sebagai tempat ibadah harus terlihat bersih dan nyaman. Kenyamanan masjid menjadi hal yang sangat penting, karena terkait dengan kekhusyuan beribadah. Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam harus berupaya menghindari tindakan mengotori masjid, termasuk makan dan minum yang kemudian menyebabkan kotor. Jikapun itu dilakukan, sampah makanan harus diwaspadai khawarir mengotori masjid dan menyebabkan jijik. Wallahu a’lam.

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri