Sejarah mencatat Andalusia secara penuh jatuh ke tangan Salib Spanyol pada tahun 1492 M, namun hal itu bisa terjadi tiga abad lebih cepat andai saja seorang pahlawan dari Maroko tidak datang ke Andalusia, dia adalah Yusuf bin Tasyfin Panglima besar Islam dari Maghrib.

Nama lengkapnya Abu Ya’qub Yusuf bin Tasyfin bin Ibarahim al-Lamtuni ash-Shanhaji. Dilahirkan  pada tahun 400 H di Mauritania, di area perkampungan Padang Sahara yang tandus, iklim perkampungannya yang keras menjadikannya orang yang gigih dan pantang menyerah yang kelak membantunya dalam menyatukan agama islam di wilayah barat Afrika dan Andalusia.

Lingkungan tempat tumbuh Yusuf sangat tandus dan terpencil, ilmu agama kurang bergaung di sana. Beruntung ia bertemu dengan Abdullah bin Yasin, seorang pemuka agama dari Maroko, yang menuntunnya untuk mendalami ilmu agama, khususnya fikih mazhab Maliki dan akidah Mazhab Asy’ari.

Setelah dewasa Yusuf bin Tasyfin menikah dengan Zainab binti Ishaq, seorang janda dari sepupunya sendiri, Abu Bakar bin Umar. Latar belakang Zainab yang berasal dari keluarga pedagang memberi banyak pengaruh pada kehidupan Yusuf bin Tasyfin dalam bidang administrasi dan ekonomi. Setelah wafatnya Zainab, Yusuf bin Tasyfin menikah dengan perempuan Andalusia yang bernama Qamar, kemudian menikah lagi dengan Aisyah.

Karir Politik

Yusuf mengawali karirnya sebagai kepala tentara biasa yang hanya melaksanakan intruksi militer dari atasannya, setelah dianggap berhasil, ia diangkat menjadi komandan yang dibebaskan bertindak susuai kebijakannya, ditahap ini bakat militer Yusuf sudah semakin tampak, puncaknya saat kekeuasaan Dinasti Murabithun meluas, yang menyebabkan antar wilayah sulit untuk dikordinasikan, sehingga Abu Bakar bin Umar- penguasa Murabithun saat itu- mengangkat Yusuf sebagai wakilnya yang mengurusi wilayah perkotaan sedangkan Abu Bakar sendiri fokus di pedalaman Sahara. Pada fase ini Yusuf membangun pemukiman baru yang diberi nama Marakesh.

Setelah melihat kepemimpinan Yusuf yang menonjol dan juga akhlaknya yang baik, Abu Bakar berpikir untuk menyerahkan tampuk kekuasaan penuh kepada Yusuf. Kemudian hal ini dimusyawarahkan bersama dengan para kepala suku dan tokoh agama setempat, yang menghasilkan keputusan bahwa Abu Bakar resmi meletakkan jabatannya dan Yusuf bin Tasyfin naik menjadi pemimpin Murabithun.

Saat resmi menjadi pimpinan tertinggi Dinasti Murabithun, yang dilakukan Yusuf pertama kali adalah menyatukan wilayah Maghrib di bawah kekuasaannya. Dimulailah ekpedisi militer ke kota Meknes, kemudian Fez, Cueta, Nekkour, Telemcan sampai Ausja yang berada di Tunisia

Menyeberang ke Andalusia

Saat kekuasaan Dinasti Murabitun sudah menyebar di tanah Maghrib, umat Islam di Andalusia justru di ambang kehancuran. Mu’tamid bin Ibad- penguasa Thawaif dari Sevilla- mendengar bahwa di Maghrib ada panglima bernama Yusuf yang berhasil menyatukan Islam, yang membuat Mu’tamid yakin untuk meminta bantuan kepada Yusuf.

Akhirnya pada tahun 475 H Yusuf ibn Tasyfin mendapat surat permohonan dari Andalusia untuk mempertahankan wilayah Andalusia dari serangan tentara Salib pimpinan Alfonso VI dari Castilla, yang sebelumnya telah berhasil merebut Toledo dan wilayah-wilayah utara. Yusuf pun menerima permintaan penduduk Andalusia dan berangkat membawa banyak tentara untuk berperang.

Setelah sampai di Algericas, Yusuf berkirim surat kepada Alfonso IV, yang isinya mengajaknya masuk Islam atau membayar jizyah, bila tidak mau, maka perang. Alfonso IV –yang saat itu sedang mengepung Zaragoza- dengan tegas memilih opsi yang ketiga.

Perang Penentuan

Sebelum peperangan dimulai, seorang ulama yang bernama Ibnu Rumailah bermimpi bertemu Rasulullah yang mengabarkan kepadanya bahwa kemenangan akan datang dan ia akan gugur syahid di jalan Allah. kemudian berita itu cepat menyebar yang membuat motivasi para pasukan semakin meningkat dan mimpi itupun menjadi kenyataan.

Awalnya terjadi kesepakatan bahwa perang dimulai pada hari senin 15 Rajab 479 H, namun Yusuf waspada karena melihat gelagat buruk yang dipelihatkan Alfonso, atas bantuan Mu’tamid, Yusuf mengirimkan mata-mata, dan benar saja pada hari Jumat 12 Rajab mata-mata utusan Yusuf melaporkan keberangkatan Alfonso VI untuk menyerang Muslimin, ini langsung direspon oleh Yusuf dengan menyiapakan tentara gabungan Andalusia-Murabithun dalam menghadapi gempuran pasukan Alfonso. Perang pun tak bisa dihindari, jumlah kaum Muslimin tidak lebih dari 48 ribu sedangkan pasukan Salib berjumlah 80 ribu yang berakhir dengan kemenangan kaum Muslimin.

Pertempuran ini disebut perang Zallaqah lantaran para pasukan yang gugur cukup banyak dan darah yang mengalir dari mereka membuat kakikaki kuda pasukan terpeleset jatuh beserta penuggangnya. Kemenangan dalam perang  ini cukup penting, karena andai saja muslimin kalah saat itu maka kejatuhan Andalusia akan terjadi lebih cepat.

Pemimpin yang Dikagumi Ulama

Yusuf bin Tasyfin merupakan pribadi yang dipenuhi akhlaq terpuji, Di antara akhlaqnya adalah teguh pendirian, sangat teliti dengan bawahannya, pemberani, berwibawa, dekat dengan ulama, melindungi yang lemah, suka berjihad dan zuhud, bahkan pakaian sehari-hari yang dipakai oleh Yusuf adalah pakaian terbuat dari bulu kasar.

Yusuf juga tawadhu’. Dia tidak mau dijuluki Khalifah, atau Amirul Mukminin, karena pemimpin Abbasiyah lebih berhak pada panggilan itu, sebagai gantinya dia dipanggil Amirul Muslimin dan Nasiruddin.

Konon ketika al-Ghazali mendengar tentang Yusuf bin Tasyfin, ia penasaran dan segara berangkat ke Maghrib, sayang saat berada di Iskandariyah, terdengar kabar tentang wafatnya Yusuf bin Tasyfin.

Akhir Hayat

Setelah sakit selama kurang lebih 1 tahun, Akhirnya di hari senin 3 Muharram 500 H Yusuf bin Tasyfin wafat di usia 100 tahun, Yusuf mengabiskan waktu 40 tahun menjadi pemimpin. Beliau dimakamkan di Marakesh, ibukota Dinasti Murabithun. Pada saat wafat, wilayah kekuasaannya mencangkup Valencia di utara, Tunisia di timur dan Senegal sampai Sudan di wilayah selatan.

Fauzan Imron/sidogiri

Spread the love