Setiap orang pasti pernah merasakan musibah, meski mereka juga berusaha menghindarinya. Ragam tingkatan musibah dunia bisa menimpa siapa saja, tanpa mengenal waktu dan tempat, karena musibah bisa sebagai ujian atau teguran. Ini sudah taslim. Hanya kemudian, hal terpenting adalah bagaimana menyikapi musibah?

Ketika satu musibah menimpa seseorang, pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah menyebut kata “sabar”. Sabar ibarat formula yang memuat komponen dasar penyembuhan dari beberapa penyakit. Dari itulah, ketika saudara kita tertimpa musibah, apa pun jenisnya, kita disunahkan ta’ziyah yang intinya adalah menyabarkan. Kenyataannya, ta’ziyah tidak hanya berlaku pada keluarga yang ditinggal mati, tapi pada setiap orang yang tertimpa musibah secara umum.

Menyebut kata sabar memang mudah, tetapi ketika musibah menimpa, rasa menerima kenyataan kadang sulit terwujud. Karena itu, meski paham bahwa sabar merupakan obat penenang hati, biasanya sulit menerapkannya. Terlebih ketika musibah datang tiba-tiba, butuh banyak waktu agar pulih dan menerima kenyataan.

Pada masa Nabi, ada seorang perempuan menangis di dekat satu kuburan. Rasulullah menyapa dengan mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah dan sabarlah!” Perempuan itu menjawab, “Pergilah, karena engkau tidak merasakan cobaan saya ini!” Ia tidak tahu bahwa yang berkata adalah Rasulullah. Setelah diberi tahu, ia mendatangi Rasulullah dan meminta maaf. Saat itulah Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sabar itu ketika pukulan pertama.” (HR Imam Bukhari)

Artinya, kesabaran memang harus ada sesaat setelah musibah menimpa, sebab rasa menerima setelah detik-detik itu bukan nilai dari kesabaran, melainkan karena lupa atas kejadian atau jika tidak putus asa. Bagaimana kesabaran bisa dicapai sesaat setelah musibah terjadi? Inilah pentingnya memahami makna dibalik musibah, agar mudah menerapkan nilai sabar di hati.

Hal awal yang harus disadari ialah setiap musibah yang terjadi pasti atas izin Allah. Sebagaimana digambarkan oleh Allah, bahwa tak ada musibah yang terjadi tanpa seizin-Nya. Ayat ini kemudian diiringi informasi, bahwa orang yang beriman hatinya akan diberi petunjuk oleh Allah.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada satu pun musibah yang terjadi kecuali dengan izin Allah; barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”  (QS at-Taghabun [64]: 11)

Redaksi ayat ini menggunakan qashr yang menunjuk pada semua musibah, bukan sebagiannya musibah. Ini berbeda jika hanya mengatakan, “Musibah itu terjadi atas izin Allah”, karena ungkapan ini masih menyisakan ihwal musibah yang terjadi bukan atas izin Allah.

Walakin, ayat ini menegaskan semua musibah, bukan sebagian yang terjadi atas izin Allah. Lantas, apa tujuan Allah menakdir musibah yang terjadi? Tentunya, semua hal di dunia ini pasti memiliki tujuan, termasuk terjadinya musibah. Terdapat banyak dalil yang menggambarkan hikmah di balik musibah. Namun, lima makna dan tujuan berikut dapat mewakili pemahaman terkait terjadinya musibah, sebagaimana tergambar dalam Surah Ali Imran [03]: 140 dan 141:

اِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ. وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ

“Jika kalian (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafi r) itupun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafi r), supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orangorang yang beriman (dari dosa) dan membinasakan orang-orang kafir.”

Ayat ini turun terkait musibah kekalahan kaum Muslimin di Perang Uhud. 70 Shahabat gugur di medan perang. Akan tetapi, sebelum itu, umat Islam memenangkan peperangan di Badar. Melalui ayat ini, Allah memberi lima gambaran makna di balik musibah yang terjadi pada kaum muslimin saat itu.

Pertama, agar memperoleh pelajaran di balik musibah yang terjadi. Harus disadari, kemajuan teknologi yang berkembang hingga detik ini lebih banyak berawal dari musibah. Maka inovasi pengobatan terus dilakukan hingga perkembangan dunia medis demikian pesat. Termasuk kemajuan transportasi, semuanya berangkat ketika ditemukan musibah, baik tabrakan atau keamanan saat berkendara. Semuanya terjadi karena dinamika perubahan terjadi di setiap ada kejadian; manusia akan berpikir dan belajar bagaimana caranya agar musibah itu tidak terulang lagi.

Kedua, membedakan antara yang beriman dan tidak. Orang beriman, pasti meyakini bahwa setiap musibah itu atas izin Allah (QS at-Taghabun [64]: 11), sehingga akan bersabar. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak beriman, akan putus asa disebabkan musibah yang menimpa (QS: Yusuf [12]: 87). Bagaimana cara mengukur seorang, apakah beriman atau tidak? Jawabannya, dari ujian musibah yang menimpa padanya. Dengan musibah, akan nampak nyata apakah ia beriman atau tidak.

Ketiga, Allah menjadikan sebagian dari kita sebagai orang mati sebagai syuhada’. Telah maklum, syahid tidak hanya berlaku dalam perang membela agama Allah, tetapi ada juga syahid fil-akhirah. Dengan musibah, yang tentunya jika dijalani dengan sabar dan ikhlas, ada balasan disisi Allah. Konteks ayat tadi memang sebagai syahid fi sabilillah, tetapi jika ditarik pada kata syahid maka berlaku umum, yaitu juga berlaku pada syahid fil-akhirah.

Keempat, Allah tidak akan pernah berbuat zalim kepada manusia. Ketika Allah memberi musibah, pasti Allah akan memberikan jalan terbaik. Ketika ada keyakinan bahwa Allah yang memberi musibah, pasti melahirkan keyakinan baru bahwa penyelesaian atas musibah itu juga ada pada Allah. Akan tetapi, semuanya bisa terjadi jika ada rasa iman di hati. Dari itu, Allah menyebut bahwa petunjuk kesadaran di hati ada pada orang yang beriman, terutama Qadha’ dan Qadar Allah.

Baca juga: Masa Emas Mendidik Anak

Kelima, Allah menjadikan musibah sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati hamba-Nya yang beriman. Saat seorang berada di posisi atas, penyakit hati semisal sombong sering menghinggapi. Obat pembersihnya hanya satu, musibah. Oleh karena itu, kita lihat kebanyakan orang akan lebih mendekat kepada Allah saat terpuruk dalam musibah. Zikir dan ibadah justru lebih ajeg saat terjadi musibah. Pada saat itu ia akan mendapat ampunan dan penghapusan dosa dari Allah. (QS asySyura [42]: 30).

Tentunya, banyak hikmah yang terdapat dalam musibah yang pada inti poinnya adalah bagaimana seorang yang beriman bisa bersabar atas musibah yang menimpa. Walakin, hal terpenting untuk mendorong seorang untuk sabar adalah rasa iman di hati. Dengan iman, ia bisa sadar bahwa dirinya adalah hamba yang tidak mampu menolak ketetapan Allah. Dengan iman, seorang meyakini bahwa tidak ada kekuasaan absolut pada dirinya, hingga diperlukan pendekatan batin untuk selalu tunduk dan taat pada Rabbil-‘Alamin. Wallahu a’lam

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri