Oleh: M. Fauzan Imron*

Setelah Lembah Aash Jatuh ke tangan Salibis, Sultan Boabdil mencoba meminta bantuan pada dinasti-dinasti Islam di wilayah timur, mulai dari dinasti Marinid (Banu Marin) di Maroko, dinasti Zayyanid di al-Jazair, dinasti Hafsiyun di Tunisia, dinasti Mamluk di Mesir dan dinasti Ottoman di Turki.

Dari sekian permintaan hanya dinasti Marinid yang mengirimkan bantuan pasukan, namun pasukan mereka tak cukup memadai untuk membendung kekuatan Salibis Spanyol. Sedangkan dinasti Zayyanid di Aljazair dan dinasti Hafsiyun di Tunisia memberikan dukungan moral untuk mempertahankan kota Granada namun keduanya tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tak punya cukup kekuatan untuk mengirim bantuan pasukan. Adapun dinasti Mamluk di Mesir dan dinasti Ottoman di Turki tidak bisa memberikan bantuan militer karena keduanya sedang terlibat saling berperang di timur Anatolia, Turki. Juga jarak mereka yang terlampau jauh untuk sampai ke Granada, hanya saja dinasti Mamluk sempat mengirimkan diplomat kepada Raja Ferdinan II untuk menghentikan kekejamannya pada orang-orang muslim di Spanyol, namun tidak memberikan pengaruh yang signifi kan terhadap kebijakan-kebijakan Raja Ferdinan atas umat muslim di Spanyol.

Granada Menyerah pada Tentara Salib

Setelah dikepung selama berbulan-bulan benteng kota Granada akhirnya runtuh dan Sultan terakhir Granada, Boabdil alias Abu Abdullah menyerahkan kunci kota Granada pada tanggal 2 Rabi’ul Awal tahun 897 H (2 Januari 1492 M). Setelah meninggalkan istananya, Boabdil menangis, hal ini ditanggapi oleh ibunya dengan berkomentar, “Kamu menangis seperti perempuan untuk sesuatu yang tak pernah kamu pertahankan layaknya laki-laki!”

Setelah penyerahan itu, Abu Abdullah diasingkan ke Alpujarras (al-Basyarat), di dekat Sierra Nevada, Provinsi Granada. Ia lalu pindah ke Maghrib (Maroko) dan berdiam di Fez. Ia menjalani sisa hidup di sana sebagai rakyat biasa hingga wafat pada tahun 1037 H / 1533 M.

Dekrit yang Merugikan Umat Islam

Sultan Boabil menyerahkan Granada dengan syarat penduduknya tetap diizinkan menjalankan keyakinan dan agama mereka. Awalnya Ferdinand dan Isabella menyetujuinya, namun setelah hampir 10 tahun Perjanjian Granada, atas pengaruh gereja, Ferdinand dan Isabella mengingkari perjanjinan dan mengeluarkan beberapa dekrit yang merugikan umat Islam.

Di antara isi dekrit itu adalah:

1). Pada hari Selasa, tanggal 20 Juli 1501 M (4 Muharram 907 H), raja mengeluarkan dekrit yang isinya melarang umat Islam berada di wilayah kerajaan Granada kecuali mereka yang mau merubah agamanya. Dan yang sudah masuk agama Kristen dilarang melakukan hubungan apapun dengan orang yang beragama Islam. Bagi mereka yang menentang peraturan ini akan diganjar hukuman mati dan seluruh harta bendanya dirampas.

2). Pada hari Selasa, tanggal 12 Februari 1502 M (13 Ramadhan 908 H), raja mengeluarkan peraturan bagi setiap muslim, untuk meninggalkan Granada sebelum awal Mei tahun itu juga. Barangsiapa yang menentang peraturan ini diganjar hukuman mati, penjara, atau dijadikan budak belian dengan dirantai kakinya.

Sebelumnya, pada tahun 1499 di bawah pimpinan Kardinal Ximenes de Cisneros, memulai kampanye gerakan yang mempengaruhi orang Islam agar menganut agama Kriten, kemudian berusaha menyingkirkan semua buku Arab yang menguraikan agama Islam dengan jalan membakarnya.

Perlawanan yang Sia-Sia

Tidak kuat terus-menerus tertindas, akhirnya umat muslim di Granada mencoba melakukan pemberontakan dan perlawanan. Perlawanan pertama diprakarsai oleh kelompok Bayyan. Mereka berhasil membunuh beberapa penguasa, namun pemberontakan ini berhasil dipadamkan.

Pada tahun 1563 M, terjadi pemberontakan yang kedua, dikomandani oleh Faraj bin Faraj dari keturunan Bani Sarraj. Mereka menyebar di pegunungan yang kemudian diikuti oleh kelompokkelompok muslimin di Granada, diantaranya adalah Hadonando Duflur, keturunan dari Khalifah Cordoba. Ia lalu diangkat sebagai pemimpin dengan nama baru Muhammad bin Umayah. Pemberontakan pun kian meluas di daerah-daerah pegunungan. Lamanya hingga dua tahun. Korban banyak berjatuhan dari kedua pihak.

Namun pada perkembangannya, Muhammad bin Umayah dicopot dari kepemimpinannya oleh kaum muslimlin. Dia dinilai sangat lamban. Pimpinan yang baru diserahkan kepada Abdullah bin Abihi, seorang tokoh yang terkenal kegigihannya.

Kaum muslimin meneruskan pemberontakannya dan peta pembrontakan semakin menyebar. Namun Abdullah, pemimpin mereka gugur. Dan oleh Salibis, kepala pemimpin Islam ini digantung di salah satu pintu gerbang Granada selama tiga puluh tahun.

Setelah itu Salibis Spanyol meningkatkan kekejamannya pada kaum muslimin. Menurut data para sejarawan, sebanyak kurang lebih tiga juta kaum muslimin dibantai setelah jatuhnya Granada. Akibatnya, pertanian, perindustrian, dan perdagangan pun hancur lebur karena ditinggal para ahlinya.

Akhirnya semua perlawanan kaum muslimin bisa dipatahkan. Banyak dari orang-orang Islam akhirnya setuju untuk dibaptis. Hanya saja mereka tetap mempertahankan tradisi ArabMuslim mereka, dan sebagian lainnya tetap menjalankan ajaran Islam secara sembunyi-sembunyi. Orang-orang ini dikenal sebagai Moriscos, yakni kaum terbabtis yang mirip orang-orang Moor Islam (Moor-like). Mereka inilah yang kemudian menjadi sasaran utama penyiksaan dewan inkuisisi Spanyol dengan berbagai bentuk mulai dari dibakar hidup-hidup, disalib, dipancung dan lain sebagainya. Kaum Moriscos terus mendapat tekanan dan siksaan. Mereka kembali melakukan perlawanan, namun pada akhirnya tetap kalah.

Pada akhirnya di tahun 1609, Raja Philip III (1598–1621) mengusir secara paksa semua kaum Moriscos dan orang yang beratribut Islam dari Andalusia. Mereka dihadapkan pada dua pilihan: masuk Kristen dengan meninggalkan segala atribut keislamannya, atau keluar dari Andalusia. Dengan demikian habislah sejarah umat muslim di seluruh wilayah Spanyol.