PENYEBARAN SIHIR DAN TUDUHAN TERHADAP NABI SULAIMAN

Sihir adalah sesuatu yang buruk dan menyalahi aturan Allah. Ilmu sihir tersebar dikarenakan ulah tangan-tangan manusia yang kufur kepada Allah dan percaya kepada setan. Dalam beberapa kitab tafsir disebutkan bahwa penyebaran ilmu sihir paling semarak dilakukan oleh golongan Bani Israil. Pasca Nabi Sulaiman wafat, golongan Bani Israil mengambil kitab-kitab sihir—hasil sitaan Nabi Sulaiman dari dukun-dukun yang mempelajari sihir dari tipu muslihat setan—yang berada di bawah singgasana beliau sesuai arahan (tipuan) setan yang berwujud manusia. Kemudian tersebarlah sihir mistis tersebut ke tengah-tengah manusia bersamaan dengan tersebarnya tuduhan bahwa Nabi Sulaiman adalah seorang ahli sihir. Pada zaman Nabi Muhammad, golongan Yahudi Madinah mendakwa Nabi Sulaiman sebagai tukang sihir—sebagaimana tuduhan Bani Israil kepada Nabi Sulaiman pada masa sebelum Nabi Muhammad terutus. Untuk menjawab tuduhan itu, kemudian turunlah ayat QS. al-Baqarah ayat 102:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa Nabi Sulaiman bukanlah seorang kafir (melakukan sihir), namun setanlah yang kafir (mengerjakan sihir) dan mengajarkan sihir kepada manusia.

Dalam ayat di atas juga disebut tentang Harut dan Marut. Sebagaimana eksplisit dalam ayat, Harut dan Marut adalah bagian dari malaikat langit. Keduanya diturunkan ke dunia berkaitan dengan maraknya praktek sihir pada zaman Nabi Sulaiman. Mereka berdua tidaklah mengajarkan amalan sihir, melainkan mereka turun memberikan peringatan. Sedangkan Ibnu Ishaq dan yang lainnya menyebutkan bahwa kisah Harut dan Marut terjadi sebelum zaman Nabi Nuh.

Dalam al-Mîzân fi Tafsîril-Qur’ân disebutkan bahwa keberadaan dua malaikat tersebut adalah untuk menepis tuduhan kepada Nabi Sulaiman yang mampu menguasai jin, manusia, angin dan sebagainya adalah karena sihir. Bahwa kekuatan dan kekuasaan Nabi Sulaiman bukanlah karena sihir, namun merupakan mukjizat yang telah diberikan Allah kepada beliau. Turunnya Harut dan Marut adalah untuk mengajarkan ilmu ‘sihir’, sehingga masyarakat tahu mana yang disebut mukjizat dan mana yang disebut dengan sihir. Bagaimana mungkin Nabi Sulaiman melakukan sihir, padahal sihir tersebut merupakan bentuk kekufuran kepada Allah. Sebagai seorang Rasul, Nabi Sulaiman memiliki sifat ma’shum; terjaga dari perbuatan yang melanggar aturan Allah.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Malaikat Harut dan Marut diperintahkan Allah untuk turun ke dunia. Tepatnya di tanah Bâbîl (Babilonia) dengan membawa ujian dan cobaan kepada manusia berbentuk ilmu sihir. Siapa saja yang hendak belajar ilmu sihir kepada keduanya (Harut dan Marut), maka dia akan diberi peringatan terlebih dahulu bahwa ilmu ini adalah kufur dan syirik. Apabila orang tersebut membangkang, maka keduanya mengatakan kepadanya, “Datanglah kamu ke tempat anu dan anu lalu kencinglah. Ketika orang tersebut kencing, maka keluarlah nur (cahaya) dari dirinya, lalu terbang ke langit hingga tidak tampak lagi. Nur tersebut adalah iman, dan datanglah sesuatu berwujud asap, lalu asap itu memasuki kedua telinganya dan setiap lubang yang ada pada tubuhnya; hal tersebut merupakan murka dari Allah. Ketika orang tersebut menceritakan apa yang dialaminya kepada Harut dan Marut, barulah keduanya mengajarkan ilmu sihir. Sunaid meriwayatkan dari Hajjaj, dari Ibnu Juraij, sehubungan dengan takwil ayat ini, “Tiada seorangpun yang berani mengajarkan sihir melainkan hanya orang yang kufur”. (Lihat, Ibnu Katsîr, Tafsîrul-Qurân al-‘Azhîm jilid I hal. 313).

Meski identik dengan dimensi kegelapan, sihir tampak selalu menarik dan banyak disukai manusia. Pada berbagai zaman, sihir selalu mendapat space cerita, sejak zaman terutusnya Nabi Musa hingga saat ini. Abdurahman bin Khaldun dalam Al-Muqaddimah-nya menjelaskan bahwa Ilmu sihir dan mantera itu mucul pada masa penduduk Bâbil yang terdiri dari orang-orang Syiria dan Caldea (penyembah tujuh bintang yang beredar). Ilmu-ilmu tersebut juga muncul di kalangan penduduk Mesir, yaitu dari orang-orang Qibthi (Koptik) dan selain mereka. Mereka memiliki pengetahuan mengenai ilmu-ilmu sihir dan mantera dari kitab-kitab dan atsar-atsar leluhur. Kitab tersebut seperti Al-Filâhah An-Nabathiyah karya penduduk Bâbil, Mushaful-Kawâkib as-Sab’ah dan Thumthum al-Hindî fîs-Shuwar ad-Darj wal-Kawâkib. Lalu muncullah di daerah Timur, Jabir bin Hayyan. Dia adalah seorang master sihir dari kalangan Muslim. Jabir bin Hayyan meneliti kitab-kitab ilmiah kaumnya dan menemukan suatu seni (kerajinan sihir dan kimia). Dia mempelajari esensi sihir tersebut. Jabir juga menulis sejumlah karya dalam ilmu sihir, dan kebanyakan pembicaraan dalam sejumlah karyanya meliputi seni sihir dan kimia yang beriringan dengan ilmu sihir itu sendiri. Selain Jabir bin Hayyan, ada pula Maslamah bin Ahmad al-Majrithi, seorang pemimpin di negeri Andalusia (Spanyol) yang terkemuka dalam matematika (ilmiah) dan ilmu sihir. Lalu dia meringkas semua kitab-kitab itu (kitab-kitab ilmu sihir), mengkoreksinya, dan mengumpulkan metodologi-metodologinya dalam kitabnya yang dia beri nama Ghâyatull-Hakîm. Setelah itu, tidak ada seorang pun yang menulis karya mengenai ilmu sihir (Lihat, al-Muqaddimah, jilid III, hal. 108).

M Romzi Khalik/sidogiri

Baca juga: Haji Dan Risalah Peradaban

Spread the love