Tidaklah ibadah-ibadah dalam Islam disyariatkan, melainkan untuk memberikan kemanfaatan, kemaslahatan, dan kebahagiaan pada umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan dalam Manhajul-Hadhârah fil-Qur’ân, Syekh Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buthi lebih tegas mengatakan, bahwa ibadah-ibadah dalam Islam berperan membawa umat pada tingkat peradaban yang tinggi.

Apa yang dinyatakan al-Buthi itu tidaklah berlebihan, terutama jika kita bisa mengurai pesan-pesan universal yang tersurat dan tersirat di dalam masing-masing ibadah. Dan, khusus berkaitan dengan ibadah haji, Syekh Usamah al-Azhari mencatat setidaknya ada dua pesan penting yang terkandung di dalamanya, yang berfungsi sebagai motor bagi umat Islam untuk sampai pada peradaban yang gemilang.

Pesan pertama adalah pesan aman. Hal ini menyiratkan bahwa umat Islam adalah umat yang cinta damai dan bisa memberikan jaminan keamanan kepada orang lain; tidak menyakiti dan merugikan kepada siapapun, apalagi sampai mencederai dan membunuh. Bahkan umat Islam memberikan kemanfaatan kepada semua orang. Hal itu bisa kita lihat dari sekian banyak ayat al-Quran, di mana Allah melekatkan kata “aman” dalam syiarsyiar Islam yang melekat erat dengan ibadah haji, sebagaimana tampak dari ayat-ayat berikut:

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. (QS. Al-Baqarah [2]: 125)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa. (QS. Al-Baqarah [2]: 126)

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. (QS. Ali Imran [3]: 97)

Pesan yang sama secara tegas juga dapat kita tangkap dari QS. Ibrahim [14]: 35, QS. Al-Qashash [29]: 57, QS. Al-‘Ankabut [29]: 67, QS. Al-Fath [46]: 27, QS. At-Tin [95]: 3, dan QS. Quraisy [106]: 4, yang semuanya menunjukkan bahwa betapa risalah Islam yang diturunkan ke dunia ini adalah risalah aman, yang memberikan jaminan keamanan dan keselamatan kepada umat manusia, sehingga pada hakekatnya umat Islam adalah dutaduta keamanan bagi umat-umat yang lain, bahkan bagi alam semesta.

Dalam konteks ini, al-‘Allamah Syekh ‘Abdullah bin Bayyah mengatakan, bahwa keamanan adalah asas bagi tercapainya maqâshidusy-syarî‘ah yang lima. Tanpa adanya keamanan, sulit bagi umat Islam untuk mewujudkan maqâshidusy-syarî‘ah. Dan jika maqâshidusy-syarî‘ah tidak tercapai, maka tak ada peradaban gemilang yang akan dicapai oleh umat Islam.

Pesan kedua, bahwa Allah memerintahkan umat Islam untuk memperbanyak berzikir, dalam kaitannya dengan menunaikan ibadah haji. Bahkan dalam rentetan ayat haji dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 198-200, terdapat kata berzikir yang diulang-ulangi sebanyak empat kali, yang menunjukkan betapa berzikir adalah hal yang sangat asasi di sini.

Lalu rahasia apa yang terkandung dalam perintah tersebut? Ternyata setelah kita meneliti ayat al-Quran yang lain, dapat kita jumpai bahwa zikir adalah kunci pembuka yang bisa mengantarkan umat Islam dalam memfungsikan pemikirannya secara maksimal, yang dari situ mereka bisa melakukan kajian, penelitian, observasi, menciptakan teori-teori ilmu pengetahuan, sehingga dengannya mereka bisa sampai pada taraf peradaban yang tinggi, sebagaimana dahulu pernah dicapai oleh umat ini.

Allah berfirman yang artinya: (yaitu) orang-orang yang berzikir pada Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (QS. Ali ‘Imran [3]: 191).