“Seorang imam yang menguasai banyak fan ilmu, punya kecerdasan tinggi, memahami makna-makna yang tersembunyi, sempurna akalnya, berkepribadian tenang, sempurna sifat wara’-nya, selalu berpegang teguh pada kesunnahan, tak pernal lepas dari muthalaah, pemaaf, dermawan, bersih jiwanya, jarang berbicara dan tak pernah ada dakwaan buruk terhadapnya”

Imam adz-Dzahabi ketika mengenang Ibnu Daqiq al-‘ied

Oleh: Wardatun Nafisah Imron*

Beliau bernama lengkap Qhadhi al-Qhudhat Taqiyuddin Muhammad bin Ali bin Wahab bin Muthi’ al-Qusyairi alQaushi, Seorang yang ahli Fikih dan Ushul Fikih, pakar Hadis, pakar dalam bidang sastra, dan gramatika Arab, juga menjadi Mujaddid abad Ketujuh. Darah keilmuan sudah melekat pada kedua orang tuanya. Ayahnya adalah Majduddin Ali bin Wahhab, seorang pemuka madzhab Maliki di kota Qus, sedangkan ibunya adalah putri dari Syaikh al-Imam Taqiyuddin bin alMuqtarah dari dataran tinggi Mesir.

Julukannya yang paling dikenal adalah Ibnu Daqiq al-Ied dikarenakan kakek-buyutnya sering memakai pakaian yang sangat putih mirip tepung pada saat hari raya. Maka keturunannya Masyhur dengan sebutan Ibnu Daqiq al-‘ied (Si anak tepung).

Beliau dilahirkan pada hari sabtu tanggal 25 Sya’ban 625 H bertepatan dengan 31 Juni 1122 M di lepas pantai Yanbu’, {wilayah Hijaz saat ini}, saat orang tuanya sedang menuju Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Ketika sampai di tanah haram, ayahnya berdoa agar kelak anaknya dijadikan orang yang alim serta bisa mengamalkan ilmunya, dan doa sang ayah betul-betul terkabul.

Pada masa kecilnya beliau menghafal al-Quran, serta belajar fi kih Maliki dan ilmu Hadis kepada ayahnya, dalam bidang Fikih Syafi i beliau belajar Bahauddin al-Qifthi, sedangkan dalam bidang Gramatika arab beliau belajar kepada Muhammad Abi Fadl al-Mursi. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan mencari ilmunya ke kota Kairo, di sana beliau belajar kepada Izzuddin bin Abdissalam untuk memperdalam Fikih Syafi ’i dan Ushul Fikih, beliau selalu menyertainya sampai Syaikh Izzuddin wafat. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya ke Iskandariyah kemudian ke Damaskus dan terakhir ke Hijaz sampai tahun 660 Hijriyah (1261 M).

Setelah dirasa cukup perjalanan mencari ilmumnya, beliau akhirnya kembali lagi ke tanah kelahirannya, di sana beliau memangku jabatan Qhadi Madzhab Maliki Kota Qus, tak lama kemudian beliau mengundurkan dan kembali ke Kairo untuk mendalami dan mengajarkan ilmu Hadis di sana. Saat menetap di Kairo beliau meneruskan kegiatan belajar-mengajarnya di Madrasah Darul Hadis al-Kamiliyah yang dibangun oleh Sultan al-Mansur Saifuddin Qalawun yang masyhur dengan sebutan al-Malik al-Kamil, sultan ketujuh dinasti Mamluk pada tahun 621 H / 1224 M. Tak butuh waktu lama akhirnya beliau menjadi Rektor di madrasah tersebut dan melahirkan beberapa karya di bidang ilmu Hadis.

Beliau juga mengajar di Madrasah an-Nashiriyah, madrasah yang didirikan oleh Shalahuddin al-Ayyubi, di dekat persemayaman imam as-Syafi ’i, di sana beliau fokus mengajar fi kih Syafi ’i. Selain itu beliau mengajar fi kih dua Madzhab: Maliki dan Syafi ’i di Madrasah al-Fadiliyah.

Selain karena kedalaman ilmunya, beliau juga terkenal kezuhudan dan ketekunan ibadahnya. Dikisahkan bahwa beliau tidak pernah tidur pada selama empat puluh tahun kecuali di waktu yang sebentar untuk persiapan salat tahajjud, dan membagi malammalamnya menjadi empat bagian: salat tahajjud, muthalaah, berdzikir dan membaca al-Quran.

Beliau juga seorang yang sangat pendiam, beliau berkata, “Tak satupun dari kalimat yang aku katakan, atau tindakan yang aku kerjakan kecuali aku harus menyiapkan jawabannya di hadapan Allah”. Dikisahkan dalam membahas suatu ilmu beliau tidak pernah memakai pendekatan berdebat (mira’). Pada suatu ketika Ibnu Tamiyah mendatangi Mesir. Beliau kagum akan kecerdasannya, namun ketika salah satu muridnya bertanya: “Kenapa anda tidak duduk bersama untuk membahas suatu ilmu?” beliau menjawab: “Karena dia orang yang lebih suka jadi pembicara, dan saya lebih suka jadi pendiam”.

Disamping itu beliau juga mempunyai banyak kekeramatan, diantaranya adalah saat pasukan Tartar mencoba menginvansi mesir, datang perintah dari Sultan agar para ulama membacakan Shahih Bukhari sampai hatam di masjid Jami Kairo. Pada hari terakhir pembacaan Shahih Bukhari datanglah Ibnu Daqiq dan berkata: “Untuk apa kalian membaca shahih bukhari?” diantara mereka ada yang menjawab: “Kami tinggal sedikit lagi hatam”, “Keadaan sudah membaik mulai sore kemarin” Ibnu Daqiq menjelaskan, berselang beberapa hari setelah itu datanglah kabar kemenangan kaum muslimin atas pasukan Tartar. Juga suatu ketika ada seorang yang berbuat kurang ajar di majlis ilmunya, setelah orang itu pergi Ibnu Daqiq berkata: “Sebentar lagi kalian akan mendengar kabar kematiannya”. Tiga hari kemudian apa yang dikatakannya benar-benar terjadi.

Beliau merupakan tipikal ulama produktif, diantara karangannya adalah: al-Imam fi Ahadis al-Ahkam, setebal duapuluh jilid, namun kebanyakan hilang karena ulah orang yang hasud setelah beliau wafat. Kitab tersebut adalah karangan paling monumental Ibnu Daqiq yang menunujukkan kapasitasnya dalam bidang hadis dan istinbatul ahkam. Al-Hafiz Qutbuddin al-Halabi -guru dari Ibnu Hajar al-Asqalani- berkata: “Tak seorangpun dari masa Sahabat sampai masa sekarang yang berbicara dalam bidang hadis menggunakan metode yang sama seperti metodenya Ibnu Daqiq al-Ied”.

Karangan beliau yang lain adalah Ihkam al-Ahkam beserta syarahnya, al-Iqtirah fi Bayan al-Istilah, Syarah Umdah al-Ahkam, Syarh Arbain an-Nawawi, Tuhfatul Labib fi Syarh at-Taqrib, al-Unwan fi Ushul al-Fiqh, Syarh Mukhtasar Ibn al-Hajib, Syarh Mukhtasar at-Tibrizi dan beberapa karangan yang lainnya.

Dipengujung usianya beliau menerima jabatan menjadi Qadhi pada tanggal 18 Jumadal Ula 695 H pada usia sekitar 70 tahun setelah beberapa kali menolak. Sempat juga berulangkali mengundurkan diri, namun beberapa kali juga pemerintah meminta Ibnu Daqiq agar sudi kembali memangku jabatan sebagai Qadhi, bahkan yang terakhir sampai-sampai Sultan Hussamuddin al-Mansur Lajin bin Abdullah datang sendiri dan mencium tangan Ibnu Daqiq agar bersedia menjadi Qadhi dan akhirnya beliau mau menerimanya.

Beliau wafat pada waktu pagi di hari Jumat 11 Safar 702 H atau 5 Oktober 1302 H dan disemayamkan pada hari Sabtu di Kota Kairo. Dihadiri banyak pelayat, mulai dari ulama, pejabat pemerintahan hingga rakyat biasa.

*Penulis adalah Staf pengajar di Pon Pes AN-NUR 02