Soekarno lahir pada 6 Juni 1901. Pria asli Blitar itu mendapat julukan Putra Sang Fajar. Sebagai presiden pertama Indonesia, nama Soekarno terkenal hingga ke mancanegara sebagai orator yang ulung (Istimewa)

Agustus merupakan bulan bersejarah bagi Indonesia. Ya, karena di bulan inilah, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Nah, untuk mengingat jasa-jasa sang Proklamator, Ir. Soekarno, tidak ada salahnya kita mendatangi peninggalan sejarahnya. Apa dan dimana jejak sejarah yang ditinggalkan Ir. Soekarno ?

  • Facebook
  • Twitter
  • Gmail

1. Sel Banceuy

Usaha Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia acap kali membuatnya dipenjara dan diasingkan ke beberapa daerah di Indonesia. Soekarno pernah di penjara di Sel Banceouy. Penjara ini dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1877. Pada 29 Desember 1929, Soekarno serta tiga rekan dari PNI, Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepraja ditangkap di Yogyakarta dan kemudian dijebloskan ke penjara Banceuy selama kurang lebih 8 bulan.

2. Gedung Indonesia Menggugat (Landraard)

Gedung ini tempat Bung Karno membacakan pledoi atau pembelaan dalam sebuah sidang atas tuduhan pemerintah Belanda yang menggap sudah membahayakan negara. Bangunan ini berdiri pada 1906, namun masih digunakan sebagai rumah tinggal. Dan sejak 1971 bangunan yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan tersebut menjadi Gedung Pengadilan Belanda atau Landraad. Gedung ini akhirnya dinamai Indonesia Menggugat sesuai dengan judul pledoi yang ditulis Bung Karno pada persidangan 18 Agustus hingga 22 Desember 1930.

3. Sel Bung Karno di Lapas Sukamiskin

Selanjutnya Sel di Lapas Sukamiskin tempat dimana Bung Karno menjalani masa tahanan setelah putusan pengadilan di Gedung Indonesia Menggugat menyatakan bapak prokmalator kita bersalah. Di sel nomor 223 yang terletak di Blok Timur Lantai II tersebut Bung Karno menjalani masa tahanan sejak Desember 1930 hingga Desember 1931.

  • Facebook
  • Twitter
  • Gmail

4. Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

Salah satu tempat di mana Soekarno pernah diasingkan, adalah Bengkulu. Sebelum sampai ke Bengkulu, Soekarno terlebih dulu diasingkan di Ende, Flores. Dia diasingkan di Flores selama empat tahun. Rumah itu ditinggali oleh Soekarno sejak tahun 1938 sampai 1942.

  • Facebook
  • Twitter
  • Gmail

5. Rumah Pengasingan di Ende

Soekarno pun pernah diasingkan ke Ende bersama keluarganya. Di Ende, dia dan keluarganya ditempatkan di sebuah rumah yang dimiliki oleh Abdullah Ambuwaru. setelah Indonesia dinyatakan merdeka, Soekarno kembali mengunjungi Ende. Di sana, dia pun bertemu Abdullah Ambuwaru, dan meminta supaya rumah yang dulu dia tinggali sewaktu pengasingan hendaknya dijadikan museum. Dan pada tanggal 16 Mei 1954, presiden pertama RI itu kembali ke Ende untuk meresmikan rumah tersebut sebagai Situs Bung Karno.

6. Rumah Bung Karno Berastagi

Selain Ende dan Bengkulu, Soekarno juga pernah diasingkan oleh Belanda ke Berastagi, Kabupaten Karo. ketika pihak Belanda melancarkan Agresi Militer II. Rumah bergaya Belanda itu ternyata dulunya adalah tempat tinggal dari orang perwira Belanda.

7. Rumah Bung Karno Parapat

Soekarno juga pernah diasingkan hingga ke Sumatera Utara di Parapat. Di Parapat, Sang Proklamator Indonesia diasingkan oleh Belanda di sebuah rumah bergaya Eropa. Pengasingan tersebut terjadi ketika penjajah melancarkan agresi Militer II. Rumah pengasingan Soekarno itu berada tepat di tepian Danau Toba.

8. Rumah Rengasdengklok

Tepat pada tanggal 16 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta “diculik” oleh para pemuda dan kemudian dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Hal ini terpaksa dilakukan karena para pemuda takut Jepang akan mengingkari janjinya tentang kemerdekaan Indonesia. Selain itu, Indonesia juga sedang mengalami kekosongan kekuasaan karena Jepang kalah dalam perang. Kesempatan itu dianggap sebagai momen terbaik untuk merumuskan kemerdekaan Indonesia dan segera mengumumkannya ke rakyat. Setelah Soekarno dan Hatta dibawa oleh para pemuda, mereka lantas ditempatkan di sebuah rumah milik Djiauw Kie Siong, salah seorang dari pasukan Pembela Tanah Air (Peta).

Sumber: wikipedia; viva.co.id; merahputih.com; travel.kompas.com; dll

Alil Wafa/sidogiri