Jika pada edisi sebelumnya kita menjelajahi sejarah Makam Keramat Luar Batang Jakarta Utara, maka pada edisi kali ini, para pembaca tidak boleh melewatkan serpihan histori Batavia juga yang tidak jauh dari kawasan sebelumnya, terletak di Pelabuhan Tanjung Priuk yang merupakan pintu gerbang perekonomian Indonesia, aset dan devisa besar bagi Negara ini, yang tidak lain adalah Situs Makam Keramat Mbak Priuk.

Yang bersemayam dalam pusara tersebut adalah Al-Imam Al-‘Arif billah Sayyidina Al-Habib Hasan bin Muhammad Al-Hadad, seorang ulama kelahiran Ulu Palembang, Sumatera Selatan, pada tahun 1727 M, setelah hijrah ke Hadramut (Yaman Selatan)–menuntut ilmu untuk meneruskan dakwah datuknya yang dikenal sebagai Shâhibur-Râtib Al-Haddad–dan menetap beberapa tahun hingga kembali ke tanah kelahirannya. Dengan tekad kuat, beliau akhirnya menyebarkan Islam ke Pulau Jawa pada Tahun 1756 H di usianya yang kurang lebih 29 tahun.

Dalam perjalanan mengarungi lautan menuju Pulau Jawa, beliau ditemani adik kandungnya, Al-‘Arif billah Al-Habib Ali Al-Haddad bersama tiga orang Ajami. Begitu banyak rintangan yang menghadang. Belanda yang sedang menjajah terus mengejar dan menembakkan meriam, akan tetapi tidak satu pun peluru dan senjata meriam yang mengenai perahunya. Dalam serangan tersebut tidak terjadi apapun pada rombongan beliau, sehingga Belanda pun menghentikan serangan.

Berselang kurang lebih dua bulan dari perjalanan, setelah singgah di beberapa tempat, tiba-tiba perahu yang ditumpanginya diterpa badai ombak yang dahsyat. Tak ayal semua perbekalan terhambur ke laut, menyisakan ceceran beras yang hanya beberapa liter di atas priuk (alat menanak nasi, sebutan dalam bahasa Jawa). Untuk menanak nasi saja, beliau harus menggunakan petak-petak perahu sebagai kayu bakar, bahkan gagang dayung pun digunakannya. Tatkala perbekalan habis, beliau memasukkan jubahnya ke dalam priuk lalu berdoa. Ketika dibuka, tiba-tiba di dalam priuk itu terdapat nasi.

Beberapa hari kemudian, badai ombak dahsyat disertai hujan dan guntur menggelegar kembali memporak-porandakan perjalanan mereka, sehingga perahu pun tidak dapat lagi dikendalikan dan karam terbalik. Ketiga orang Ajami yang menyertai beliau harus menemui ajalnya seketika itu. Yang tersisa hanya Habib Hasan dan Habib Ali. Dengan terluntang-luntang diterpa dahsyatnya badai, mereka berdua bersusah payah untuk meraih perahu yang sudah dalam posisi terbalik. Di atas perahu, kedua Waliyullah itu melaksanakan shalat berjamaah bermunajat kepada Allah.

Namun, kondisi mereka saat ini sudah melemah. Selama 10 hari lamanya, tidak ada sesuap nasi pun yang dapat mengisi perut mereka. Hal itu membuat Habib Hasan Al-Haddad jatuh sakit dan tidak tertolongkan. Habib Hasan bin Muhammad AlHaddad wafat pada hari itu. Sementara adiknya, Habib Ali Al-Haddad, hanya bisa duduk lemas tanpa daya di atas perahu rusak bersama jenazah Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad. Di atas perahu rusak, ditemani potongan dayung dan priuk nasi, Habib Ali terombang-ambing oleh ombak, diiringi beberapa ikan lumba-lumba yang mengantarkan mereka, sehingga akhirnya sampai ke tepian pantai semenanjung.

Rupanya, di tepian pantai itu, ada beberapa orang yang menyaksikan kejadian tersebut, sehingga ketika perahu mendarat, mereka langsung menolongnya. Di antara mereka ada beberapa kuli berasal dari Banten yang segera mengurus jenazah Habib Hasan Al-Haddad untuk disemayamkan. Sebagai tanda batu nisan, ditancapkanlah sisa dayung yang pendek di bagian kepalanya dan sebatang kayu kecil di bagian kaki yang kemudian tumbuh menjadi pohon Tanjung. Sementara priuk nasinya diletakkan di sisi pusara beliau yang lambat laun bergeser sedikit demi sedikit hingga akhirnya sampai ke lautan. Banyak riwayat yang menceritakan 3 atau 4 tahun sekali, priuk itu muncul di permukaan laut dalam ukuran besar, sebesar rumah. Kejadian itu pernah disaksikan oleh Seorang Perwira TNI, Sersan Mayor Ismail, yang sedang bertugas di malam hari. Lantaran kejadian ini terjadi berkali-kali, banyak orang mengatakan daerah ini dengan sebutan “Tanjung Priuk”. Namun ada pula yang menyebutnya “Pondok Dayung” yang artinya dayung pendek dalam bahasa Sunda.

Sementara adik kandungnya, Habib Ali Al-Haddad melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumbawa dan menetap selamanya di sana. Berselang 23 tahun setelah wafatnya Habib Hasan Al-Haddad, para penjajah Belanda mengalami kejadian ganjil dalam setiap melakukan pembagunan pelabuhan di kawasan tersebut. Bahkan, saat hendak dilakukan pengekeran, tampak ada sebuah maqam yang ditunggu oleh dua orang berjubah putih seraya terusmenerus memutar tasbih. Atas wangsit dari para normal yang melakukan khalwat ketika itu memberi dua kesimpulan; 1) Apabila daerah tersebut akan dijadikan pelabuhan maka jenazah Habib Hasan Al-Hadda tersebut hendaklah dipindahkan terlebih dahulu. 2) Untuk memindahkannya, harus mengubuhungi adeknya yaitu Habib Zain Bin Muhammad Al-Haddad yang tinggal di Ulu Palembang, Sumatra Selatan.

Akhirnya, Pemerintah Belanda pun mengirimkan utusan untuk menjemput Habib Zein bin Muhammad Al-Haddad ke Palembang. Dibawalah beliau ke Pulau Jawa dan dalam khalwatnya beliau menuturkan “Ini adalah Pusara Saudaraku Al-Imam Al-‘Arif billah Al-Quthub Al-Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad yang sudah lama tiada kabarnya.” Pada akhirnya, diputuskan jenazah Habib Hasan dipindahkan ke Jl. TPU Dodo Koja, Jakarta Utara yang sekarang menjadi Jl. Makam Keramat Syekh Sayyid Mbah Priuk. Dalam pemindahan ini, jenazah beliau dalam keadaan utuh disertai aroma yang memawangi.

Kisah kekeramatan beliau tidak hanya sebatas semasa hidupnya saja. Ada ribuan kisah yang menjadi pelengkap kekeramatannya. Bahkan sampai kini, keajaiban-ajabaiban itu masih kerap disaksasikan oleh masyarakat setempat. Ketika keberadaan makam beliau selalu diusik oleh oknum pemerintah yang kerap terjadi dari masa ke masa. Hanya sekelumit tanpa bisa diulas secara luas karena keterbatasan space.

Ali Wafa Yasin/sidogiri