Jika Anda, maaf, Muslimah yang berbesar hati berbagi cinta. Hidup berumah tangga meski Anda bukan satu-satunya bidadari yang dirindu suami Anda. Sanggupkah hati Anda berlapang dada serahkan waktu ‘gilir’ kepada perempuan lain di istana suami Anda?

Muslimah mulia itu bernama Saudah binti Zam‘ah. Kala itu, ia mengikuti suaminya hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama keluarga besar Bani Amir. Rombongan yang berjumlah delapan orang dengan tiga di antaranya memboyong istri itu berangkat dari kota Makkah. Kedelapan orang tersebut adalah Malik bin Zam‘ah (saudara kandung Saudah), Sakran bin ‘Amr (suami Saudah), Salith dan Hathib (ipar Saudah), dua putra lelaki ‘Amr bin Abd. Syams, serta saudara sepupu Sakran yang bernama Abdullah bin Suhail. Rombongan berjalan kaki menyusuri gurun sahara. Bermodal kobaran imam di dada, mereka pergi dari kampung halaman menuju kehidupan baru di tengah orang-orang asing.

Saudah sendiri memilih dikucil keluarga dan bergabung dengan famili suami. Ia terpaksa menjauh dari orangorang terkasihnya demi menjaga agama dan akidah. Susah-getir ia tepis demi hidup damai bersama Sang Utusan, Nabi Muhammad. Malang, dalam masa perantauan, musibah besar menyapa. Suami yang meneguhkan hati dan menghiburnya kala jauh dari keluarga meninggal dunia. Saudah begitu berduka ditinggal belahan jiwa. Apalagi ia hidup di negeri orang. Sebatang kara memikul tanggung jawab berat mengasuh anak. Tiada batu tempat berpijak. Tiada tali tempat bergantung.

Nabi Muhammad yang ketika itu juga sedang berkabung akibat ditinggal istri tercinta, Khadijah binti Khuwailid, bergetar hati ketika Khaulah menyebut nama Saudah untuk dipersunting. Berkelebat seketika penderitaan wanita tua yang begitu setia memeluk Islam itu.

Lamaran Nabi Muhammad membuat Saudah berkaca-kaca tak percaya. Janda tua yang kecantikannya mulai luntur tersebut tidak bisa berkata-kata. Bumi tempat berpijak serasa miring bergoyang. Tak pernah terbesit olehnya akan menjadi wanita paling mulia dan bersanding dengan makhluk sempurna. Bahkan, lamaran itu sempat gempar jadi topik perbincangan. Orang-orang penuh tanya tak menduga; benarkah Nabi Muhammad akan menikahi Saudah binti Zam‘ah, Janda Sakran bin ‘Amr? Apa gerangan Baginda cari dari perempuan berpostur agak subur itu?

Pernikahan tersebut bagai mimpi bagi Saudah. Mendung-mendung kesedihan berganti awan cerah menyejukkan. Semula, Saudah minder, tak percaya diri bersanding dengan Nabi. Terlebih kala teringat mendiang istri Baginda yang cantik paras dan budi luhurnya disanjung penduduk langit. Beruntung Baginda Nabi pandai membesarkan hatinya, sampai Saudah sangat nyaman berada di sisi Suami barunya. Mengatur rumah tangga Nabi dan mengasuh putra-putri Nabi adalah bahagia tiada tara. Kini, hari-hari yang dijalaninya penuh butir-butir tawa, sampai Aisyah binti Abu Bakar hadir dalam rumah tangganya.

Walau selisih pernikahan Saudah dan Aisyah hanya berhitung hari, akan tetapi, Saudah sempat menjadi istri satusatunya Baginda dalam waktu cukup lama. Sebab, Aisyah masih berusia muda dan tinggal bersama orang tua. Baru setelah peristiwa hijrah, Aisyah menyusul Nabi dan berkumpul dengan Beliau. Kehadiran Aisyah disambut hangat oleh Saudah. Ia sama sekali tidak terganggu oleh sosok Aisyah yang masih muda dan cantik. Justru, Saudahlah yang membimbing Aisyah dalam hal berumah tangga. Bahkan, ia menyilakan Aisyah mengatur penuh rumah tangga Baginda. Semua itu ia lakukan demi cintanya kepada Baginda. Saudah tahu betul kehadiran Aisyah sudah lama ditunggu suaminya.

Hidup dalam balutan poligami sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan Saudah. Hari-harinya tetap berhias suka-cita layaknya sebelum Aisyah datang. Saudah begitu rendah hati mengutamakan Aisyah dalam segala hal. Sama sekali ia tak besar kepala karena statusnya sebagai istri tua. Dan klimaksnya, dengan segala kelapangan dan ketulusan, ia menyerahkan waktu “gilirnya” kepada Aisyah ketika ia merasa usianya kian senja. Ia rela melakukan semua itu demi membahagiakan suaminya. Aisyah kian segan dengan istri tua Baginda tersebut. Aisyah sampai bertutur, “Aku tidak pernah menemukan perempuan yang paling kucintai dan aku selalu ingin bersamanya lebih dari Saudah binti Zam‘ah.”

Sampai akhir hayatnya, Saudah hidup serempun dengan istri-istri Baginda lain selain Aisyah. Sejarah mencatat, Rasulullah menikahi lima belas wanita mulia dengan latar belakang dan status sosial berbeda sepanjang hidupnya. Sebelas di antara mereka, pernah hidup bersama-sama membangun mahligai rumah tangga bersama Rasulullah, salah satunya adalah Saudah. Namun, sampai tutup usia, Baginda hanya mempertahankan sembilan orang saja. Dua istrinya terpaksa dicerai sebab bersikap tidak pantas; satunya menolak permintaan Rasulullah untuk merajut kasih, yang lain berucap sesuatu tak terpuji ketika putra Baginda dari Mariyah Qibtiyyah, Ibrahim, wafat. Lima dari sembilan perempuan pilihan tersebut berasal dari bangsa Quraisy. Mereka adalah Saudah binta Zam‘ah, Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar, Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah, dan Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan. Adapun empat sisanya yang bukan keturunan Quraisy adalah Maimunah binti Harits al-Hilaliyyah, Juwairiyah binti Harits al-Khuza’iyyah, Zainab binti Jahsyi al-Asadiyyah, dan terakhir Shafiyah binti Huyay anNadhariyyah.

Sosok Sayidah Saudah binti Zam‘ah adalah potret wanita sempurna dalam rumah tangga poligami. Bagaimana ia bersikap begitu bijak dengan tidak egois sok kuasa lantaran statusnya sebagai istri tua. Justru, ia begitu terbuka dan mengalah kepada istri-istri Baginda yang berdatangan satu persatu.

Saharudin Yusuf/sidogiri