Tidak Mencela Makanan

Sunah memuji makanan dan makruh mencelanya. Dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah berkomentar buruk terhadap makanan. Jika beliau ingin, beliau memakannya, jika tidak, beliau tidak memakannya (tanpa berkomentar negatif tentang makanan tersebut).

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ )متفقٌ عَلَيْهِ(

 “Nabi sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau suka, beliau memakannya, jika tidak suka, beliau meninggalkannya.”

Imam Nawawi menyebutkan bahwa “tidak mencela makanan” adalah tata krama penting ketika makan. Beliau mencontohkan kata-kata yang tergolong negatif yang termasuk menghina makanan adalah semisal mengatakan “Makanan ini kurang gurih”, “Makanan ini masam”, “Masakan ini kurang matang”, “Makanan ini terlalu asin”, “Makanan ini terlalu manis”, dan semacamnya.

Imam Ibnu Batthal menyatakan bahwa menjaga ucapan terhadap makanan adalah tata krama baik kepada Allah. Sebab, makanan adalah nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Ketika seseorang mencela makanan yang tidak ia suka, maka sesungguhnya, ada orang lain yang menyukai makanan tersebut. Setiap makanan yang boleh dikonsumsi secara syariat (halal) maka tidak ada kejelekan baginya.

Catatan: Larangan mencela makanan di atas tertuju pada makanan yang halal dikonsumsi.

(Lihat, Fathul-Bârî Syarhu ShahîhilBukhârî, VI/577; al-Minhâj Syarhu Shahîh Muslim bin al-Hajjaj, XIV/26)

Sambil Ngobrol

Ketika makan bersama sunah berbincang mengenai hal-hal baik, berbincang semisal kisah orang-orang saleh yang berkaitan dengan makanan atau yang lainnya. Namun perlu diperhatikan bahwa kesunahan berbicara tersebut bukan ketika mulut berisi suapan makanan, akan tetapi ketika mulut kosong.

حدثني عبد الله بن عبد الرحمن الدارمي أخبرنا يحيى بن حسان أخبرنا سليمان بن بلال عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال  نِعْمَ الأُدْمُ أو الإدام الخَلُّ )رواه مسلم(

 “Sebaik-baik lauk adalah cuka”

Dalam kitab al-Minhâj Syarhu Shahîh al-Muslim bin al-Hajjaj disebutkan bahwa hadis riwayat Imam Muslim di atas menunjukkan kesunahan berbicara ketika makan.

Di samping sunah berbincangbincang mengenai hal-hal baik ketika makan, disunahkan pula menyedikitkan perkataan dalam perbincangan. Artinya, jangan terlalu panjang dalam obrolan ketika makan, akan tetapi cukup sebentar saja sekadar untuk mendapat kesunahan. Imam al-Ubbadi menukil bahwa Imam ar-Rabi’ meriwayatkan dari Imam Syafii, adalah termasuk dari tata krama makan yaitu menyedikitkan perkataan.

(Lihat, Ihya ‘Ulumidîn, II/12; Tarsyîh al-Mustafîdîn, 327; Asnal al-Mathâlib fi Syarhi Raudlat at-Thâlib, I/574)

Berhenti Sebelum Kenyang

Mengonsumsi makanan dengan kadar yang banyak adalah hal tidak baik, ditinjau dari sisi syariat begitupun dari sisi medis.

حدثنا سويد بن نصر أخبرنا عبد الله بن المبارك أخبرنا إسمعيل ابن عياش حدثني سلمة الحمصي و حبيب بن صالح عن يحيى بن جابر الطائي عن مقدام بن معدي كرب رضي الله عنه  قَالَ  سَمِعْتُ رسولَ الله  صلى الله عليه وسلم يقول  مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاء شَرّاً مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابنِ آدَمَ أُكُلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ  فإنْ كانَ لا مَحالةَ فثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسه )رواه الترمذي وقال حديث حسن(

“Tidaklah seorang manusia memenuhi satu wadah yang lebih berbahaya dibandingkan perutnya sendiri. Sebenarnya seorang manusia itu cukup dengan beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Namun jika tidak ada pilihan lain, maka hendaknya sepertiga perut itu untuk makanan, sepertiga yang lain untuk minuman dan sepertiga terakhir untuk nafas.”

Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa haram makan lebih dari kadar kenyang (fauqa syiba’). Sedangkan Imam Nawawi dan Imam Rafii menyatakan makruh.

Ulama menyebutkan bahwa memenuhi perut dengan makanan dapat merusak agama seseorang; membuat malas beribadah dan meningkatkan gejolak syahwat. Untuk itu, ulama menyarankan sebaiknya tidak terlalu banyak dalam mengonsumsi makanan. Dan kadar maksimal adalah sepertiga ukuran perut. Al-Ghazali menganjurkan untuk berhenti makan sebelum perut merasa kenyang.

(Lihat, Tuhfatul-Ahwâdzî bi Syarhi Jâmi’it-Tirmidzî, VII/44; I’anatuthThâlibîn III/416-417)

M Romzi Khalik/sidogiri