Krisis kemanusiaan yang menimpa umat Islam Rohingya barangkali merupakan kejahatan kemanusiaan paling brutal yang kita saksikan di zaman ini. Terlihat dengan jelas dari foto-foto dan video-video yang senantiasa viral di media sosial, bagaimana para teroris dari kalangan militer dan biksu-biksu Budha di Myanmar itu membunuhi mereka yang tidak berdaya, mulai dari balita, wanita hingga orang-orang tua renta, dengan cara-cara yang benar-benar mengerikan, membikin kita yang menyaksikan dari kejauhan tak bisa berkata apa-apa, selain berpikir bahwa mereka yang tega melakukan tindakan-tindakan seperti itu bukanlah manusia, melainkan syetan yang tak punya hati nurani.

Celakanya, horor di wilayah Arakan yang dipertontonkan ke dunia itu, tidak lantas membikin dunia heboh, setidaknya tak seheboh saat terjadi ledakan ‘petasan’ di jantung kota Paris. Dunia-dunia Barat yang biasanya rajin menghambur-hamburkan slogan kemanusiaan, kesetaraan dan keadilan, kali ini tampak irit berbicara, apalagi untuk menerjunkan pasukan perdamaian. Akhirnya, negaranegara yang membebek ke Barat juga jadi salah tingkah. Barangkali mereka berpikir, apa untungnya membela etnis yang tak dihiraukan oleh negara-negara Barat? Maka tak heran jika banyak orang yang bilang, bahwa minimnya respons terhadap krisis kemanusiaan di Rohingya itu tak lebih karena korbannya adalah Muslim.

Dan, lebih celaka lagi, genosida atau pembersihan etnis di Myanmar yang merupakan masalah super serius itu, justru mendapatkan respons yang konyol dari sebagian orang di negeri kita ini. Bagaimana tidak? Ketika umat Islam di Myanmar sedang diburu layaknya binatang, diusir dari tanah kelahiran mereka dan diperlakukan secara tidak manusiawi, sebagian orang di negeri ini justru membikin komentar konyol yang tak perlu, di antaranya menyamakan teroris Budha di Myanmar itu dengan Front Pembela Islam (FPI) di Indonesia. Memangnya, ketika kita menyaksikan begitu banyak orang dibunuh di Myanmar, lantas siapakah yang telah dibunuh FPI?

Sebagian yang lain justru mengkiritik umat Islam yang marah dan mengecam tindakan para teroris Budha di Myanmar, dengan mengatakan bahwa kelompok seperti itu hanya bisa marah-marah, tidak bisa menghadapi persoalan dengan kepala dingin, tidak melakukan kajian mendalam untuk mengetahui akar persoalan yang sebenarnya, dan seterusnya. Olok-olok itu kemudian direspons balik dengan mengatakan bahwa lapak sebelah hanya bisa cuap-cuap, bertopeng di balik kajian-kajian kosong, yang akhirnya tidak pernah bisa beraksi sama sekali. Dan lebih daripada itu, secara garis besar hiruk-pikuk problem kemanusiaan di Myanmar itu malah dijadikan sebagai ajang peperangan oleh kubu-kubu partai politik yang saling berseberangan di negeri ini.

Pertanyaannya adalah, apakah umat Islam Rohingya yang sedang menderita itu membutuhkan ini semua? Jawabannya jelas tidak. Karena itu kebanyakan orang yang terlalu banyak berbicara tentang Rohingya di sosial media, tapi isi pembicaraannya justru tidak mengarah pada pembelaan terhadap umat Islam di sana, sebenarnya mereka tidak memberikan kontribusi apa-apa selain menambah rumitnya persoalan. Kelompok seperti itu sama nilainya dengan orang yang justru menyalahkan minoritas Rohingya yang melakukan pembelaan diri dari kezaliman para teroris. Ibaratnya, mereka itu seperti pengamat politik Timur Tengah gadungan yang justru menyalahkan Muslim Palestina karena melakukan perlawanan terhadap teroris Israel yang telah merampas segala apa yang mereka miliki.