Pada bulan Juni 1957, tepat 60 tahun silam, seorang pendidik perempuan dari tanah Sumatera berangkat ke Timur Tengah. Usai menunaikan haji, ia mengunjungi Mesir memenuhi undangan khusus dari Syekh Abdurrahman Taj (1896- 1975), setelah dua tahun sebelumnya Imam Besar Al-Azhar itu berkunjung ke lembaga yang didirikan tokoh perempuan tersebut.

Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, ia mendapat gelar kehormatan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar. Sejarah mencatat, bahwa inilah untuk kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan “Syekh” kepada seorang perempuan.

Perempuan itu, adalah Syaikhah Rangkayo Rahmah al-Yunusiyah, pendiri Diniyah Putri, reformis pendidikan Islam, sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia. Hamka mencatat, Diniyah Putri mempengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kulliyah Lil Banat, bagian Universitas Al-Azhar yang dikhususkan untuk putri pada 1962.

Kehadiran Rahmah seiring dengan arus pembaruan Islam pada awal abad ke-20, ketika sejumlah sekolah agama berdiri di berbagai daerah Minangkabau, melengkapi pendidikan tradisional berbasis surau.

***

Syaikhah Rangkayo Rahmah al-Yunusiyah lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 29 Desember 1900, bertepatan tanggal 1 Rajab 1319 H. Rahmah adalah anak terakhir dari pasangan Muhammad Yunus alKhalidiyah dan Rafia, memiliki dua kakak perempuan dan dua kakak lakilaki.

Keluarga Yunus adalah penganut agama yang taat. Yunus adalah seorang ulama yang pernah menuntut ilmu di Makkah selama 4 tahun. Ia bekerja sebagai qadi di Pandai Sikek, 5 km dari Padang Panjang. Sedangkan keluarga Rafia memiliki hubungan darah dengan Haji Miskin, ulama pemimpin Perang Padri pada awal abad ke-19. Rahmah memiliki sepupu dari keluarga ibu, Isnaniah Saleh, yang kelak meneruskan kepemimpinannya di Diniyah Putri.

Rahmah ditinggal wafat ayahnya saat berusia 6 tahun. Keluarganya memilihkan salah seorang murid Yunus sebagai guru mengaji Rahmah. Dua abangnya yang pernah belajar di Sekolah Desa mengajarkan Rahmah baca tulis Arab dan latin. Di bawah asuhan ibu dan kakakkakaknya, Rahmah tumbuh sebagai anak yang memiliki kemauan kuat. Lewat kemampuannya membaca, ia mempelajari buku-buku yang dimiliki dan ditulis abangnya, Zainuddin Labay al-Yunusi. Menginjak usia 10 tahun, Rahmah sudah gemar mendengarkan kajian yang diadakan di beberapa surau. Ia mengambil perbandingan dari kajiankajian yang diikutinya, berpindahpindah ke berbagai surau yang ada di Padang Panjang.

Mengikuti tradisi adat, Rahmah dalam usia 16 tahun dinikahkan oleh keluarganya dengan Bahauddin Lathif, seorang ulama dari Sumpur, Kab Tanah Datar, Sumatera Barat. Pernikahan mereka berlangsung pada 15 Mei 1916 dan berakhir pada 22 Juni 1922 tanpa meninggalkan anak.

***

Saat belajar di Diniyah School, sebuah madrasah yang dipimpin abangnya, Zainuddin, Rahmah merasa tidak puas dengan sistem koedukasi yang mencampurkan pelajar putra dan putri. Dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, perempuan tidak bebas dalam mengutarakan pendapat dan menggunakan haknya dalam belajar. Ia mengamati banyak masalah perempuan terutama dalam perspektif Fikih tidak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene laki-laki, sementara murid perempuan malu dan enggan bertanya.

Rahmah lantas mendatangi beberapa ulama Minangkabau untuk mendalami ilmu agama, satu hal yang tidak lazim bagi seorang perempuan pada awal abad ke-20 di Minangkabau. Bersama dua temannya Siti Nansiah dan Djawana Basyir, Rahmah mempelajari Fikih lebih dalam kepada Abdul Karim Amrullah, ayahanda Hamka, di Surau Jembatan Besi.

Ketika bersekolah di Diniyah School, pada saat bergabung dengan Persatuan Murid-Murid Diniyah School (PMDS), Rahmah merundingkan gagasannya untuk mendirikan sekolah perempuan sendiri kepada teman-teman perempuannya di PMDS.

Kesungguhan untuk mewujudkan gagasannya ia sampaikan kepada abangnya, “Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika kakanda bisa, kenapakah saya, adiknya, tidak bisa? Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?”

Bersambung…Moh. Yasir/sidogiri