تَشَوُّفكَ اِلىَ ما بطَنَ فيْكَ مِنَ العُيُوبِ خَيرٌ منْ تَشَوُّفِكَ الى ماحُجِبَ عَنْكَ منَ الغُيُوبِ

Upayamu untuk menghilangkan aib-aib dari dalam dirimu lebih baik dari upayamu untuk menyingkap tabir ghaib yang terhalang darimu.

Berbagai musuh utama yang jelas bagi seluruh umat manusia (QS. Al-Baqarah: 168), setan memiliki banyak akses yang dapat digunakan untuk memperdaya mereka. Setan tak akan menyakiti manusia secara langsung tapi ia hanya akan memperdaya dan berupaya menjerumuskan mereka ke neraka.

Akses yang ditempuh oleh setan untuk memperdaya manusia yang taat kepada Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya tentu lebih hebat dari pada akses yang ia tempuh untuk memperdaya manusia yang suka bermaksiat. Ketika hendak menggoda manusia pecinta maksiat, setan mampu menciptakan banyak tipu muslihat yang menyebabkan manusia itu makin terjerumus dalam kegelapan, seperti menjauhkannya dari hidayah Allah dan membuatnya larut dalam kelalaian (melupakan Allah). Sedangkan ketika hendak menggoda manusia yang taat kepada Allah, melaksakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, setan tentu tak akan menempuh akses yang sama. Akan tetapi, ia memiliki akses lain yang rumit dan tak mudah dipahami, membuat semacam jebakan, sebuah kejahatan yang berbalut kebaikan, yang menyebabkan manusia itu terpeleset dan terjerumus ke dalam kondisi manusia pelaku maksiat.

Demikian pula ketika hendak menjerumuskan manusia yang berada di level lebih tinggi lagi yaitu manusia yang selain taat kepada Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, juga menegakkan “amar ma’ruf nahi munkar” seperti para syekh, mursyid, kiai dan dai, maka setan akan mencari akses lain yang lebih hebat lagi, lebih jitu dan lebih ampuh untuk menyukseskan tipu muslihatnya. Misalnya, membisikan suara rayuan tentang betapa pentingnya posisi syekh, mursyid, kiai dan dai. Jika rayuan itu berhasil, maka orang tersebut akan berusaha memperlihatkan urgensitas keberadaannya, berusaha menarik perhatian, mendapatkan pujian dan membuat orang-orang mengakui dirinya dengan melakukan hal-hal yang membuat mereka takjub kepadanya seperti mempertontonkan kekeramatan, keajaiban dan ucapan serta tingkah laku yang menyalahi kebiasan.

Sehingga terkadang, baik yang syekh, mursyid, kiai ataupun yang dai, saat menjalani rutinitas berupa berdzikir, beribadah, ataupun membaca hizib-hizib khusus, mereka melakukan semua itu bukanlah dengan niatan ingin menjalankan kewajiban mereka kepada Allah dan bukan pula untuk memenuhi hak-hak seorang hamba Allah, melainkan untuk mencapai sebuah level yang membuat mereka memperoleh berbagai macam kekeramatan dan kehebatan serta hal-hal yang menyalahi kebiasaan.

Para ulama Tasawuf yang berlandaskan dengan al-Quran dan sunah Rasul semisal Syekh al-Junaid alBaghdadi, Imam al-Muhasibi dan Imam al-Qusyairi penulis kitab “Ar-Risâlah al-Masyhûrah”, setiap kali menganjurkan agar memperbanyak membaca al-Quran, memperbanyak shalat sunah, dan rutin membaca wirid atau hizib siang petang, mereka juga memperingatkan kepada murid-murid mereka agar mewaspadai bisikan-bisikan setan yang dapat menghentikan perjalanan mereka menuju Allah seperti halnya terpedaya oleh kekeramatan dan hal-hal menakjubkan.

Seorang salik tidak boleh merasa aman dari tipu muslihat setan sedikitpun. Miris sekali jika pengkaburan niat dan pencemaran hati oleh setan ini dibiarkan menjalar. Lama-lama akan muncul praduga bahwa kekeramatan dan keajaibanlah yang menyebabkan majlis ilmu dan zikir itu semakin ramai dan murid-murid semakin membludak serta tunduk patuh. Padahal, semua itu merupakan salah satu trik setan untuk menghalangi seorang salik untuk semakin dekat dengan Tuhannya. Inilah kenapa kemudian Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari menegaskan dan mengingatkan bahwa upaya seorang salik untuk menghilangkan aib-aib dari dalam dirinya lebih baik dari upayanya untuk menyingkap tabir gaib yang terhalang darinya. Kenapa lebih baik? Sebab, di dalam upayanya untuk menyingkap tabir gaib terdapat interfensi setan melalui hawa nafsu yang sulit dideteksi. Ada bagian-bagian nafsu yang selalu menjerumuskan pada kejelekan.

Maka, bila salik telah mengetahui penyakit-penyakit yang diselundupkan oleh setan dalam hatinya, keharusan setelahnya adalah mengobati. Metode pengobatannya selalu memohon perlindungan kepada Allah dan fokus beribadah serta rutin membaca alQuran, wirid dan hizib, dengan tujuan untuk memenuhi kewajiban sebagai hamba. Yang dituntut dari seorang salik sebenarnya adalah upayanya untuk mengobati dan membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang menggrogoti, bukan terbukanya tabir keajaiban. Allah berfiman (artinya): “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” (QS. Al-A’la: 14-15)

(Atinya): “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS: Asy-Syams: 9-10)

(Artinya): “Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (QS. An-Nazi’at: 18-19)