Islam memosisikan harta benda sebagai penopang dalam menyukseskan kepentingan akhirat. Bukan sebaliknya. Selain itu, Islam tidak hanya mengurusi spiritual. Masalah dunia juga diatur dengan sedemikian rupa. Hanya saja, urusan dunia dinomer-duakan dalam Islam. Lebih tepatnya lagi, urusan duniawi hanya sebagai ladang bercocok pahala yang nantinya akan dipanen di akhirat.

Tidak heran jika setelah mengisahkan kedurhakaan Qarun yang tidak menyukuri anugerah harta yang melimpah, Allah berpesan kepada kita semua untuk menjadikan harta benda itu sebagai sarana menggapai ridha-Nya semata dan keselamatan di hari kemudian (QS. AlQashash: 77). Jangan sampai kita enggan menykurinya nikmat-Nya.

Dalam banyak kalam-Nya Allah menyatakan harta benda sebagai sesuatu yang melengahkan dan membutakan sebagian kalangan. Tidak sedikit seseorang yang terperangkap dalam jebakannya dan sulit melepas kekangannya. Akhirnya, mereka pun merugi dan berakhir dengan kepedihan di akhirat.

Dalam masalah harta warisan, misalnya, karena kecintaan terhadap dunia yang amat besar sebagian orang sampai bermusuhan karena rebutan harta warisan. Si adik enggan bertutur sapa dengan si kakak, juga si paman dengan si ponaan. Akhirnya, saling menjatuhkan pun sudah biasa ditemukan di sekitar kita. Bahaya memang!

Oleh karena itu, penting kiranya kita memahami hal terkait dengan harta warisan ini. Berbagai problem di dalamnya yang perlu diketahui begitu banyak. Di antaranya masalah ‘aul, pemetaan hak warisan dan cara membagi-baginya kepada ahli waris, hak waris janin yang masih ada dalam kandungan, orang yang tidak ketahuan nasibnya (hilang entah kemana), khuntsa musykil dan yang lain.

Untuk melengkapi pengetahuan kita terkait ilmu Faraid ini, sangat baik jika buku al-Bidâyah fî ‘Ilmil-Mawarîs dijadikan bahan bacaan. Di dalamnya yang hanya memuat pembahasan penting masalah warisan sangat tepat bagi para pemula guna menemukan kesimpulan yang tepat, akurat dan tentunya to the point.

Penyajian buku yang ditulis oleh Wahîd bin Abdissalam Bâlî ini sangat mudah dipahami dan sistematis tanpa harus mengerutkan dahi. Pembahasannya yang runut dan langsung pada akar masalah menjadikan buku ini bertambah nilai apiknya.

Sebelum masuk dalam pembahasan, buku ini terlebih dahulu selalu menyajikan skema yang akan diulas. Karenanya, sebelum pembaca mulai membaca sudah memiliki sedikit kesimpulan terkait tema yang hendak dikupas tampa merasa sukar sedikit pun.

Di sela-sela pembahasannya, buku ini selalu dilengkapi dengan tabel guna mempermudah dalam memetakmetak masalah yang tengah dibahas. Apalagi, buku ini sudah dua kali direvisi sehingga sajiannya benar-benar mapan.

Di penghujung setiap pembahasannya, buku al-Bidâyah fî ‘Ilmil-Mawarîs ini dilengkapi dengan evaluasi dengan bentuk pertanyaan guna menguji sebatas mana penguasaan pembaca dalam memahami dan mencerna setiap tema kajiannya. Yang seperti ini diupayakan karena memang ilmu Faraid merupakan cabang ilmu yang membutuhkan latihan ulet guna merangsang hafalan dana pemahaman yang telah terekam di memori para pelajarnya.

Memang, sebelum seseorang merumuskan hak waris yang terkait dengan tirkah terlebih dahulu harus menyelesaikan masalah yang terkait dengan mayit. Semisal, tanggung jawab utangnya, wasiat yang dilakukan oleh si mayit sebelum mati dan yang lain. Beberapa masalah yang serupa dengan ini harus terlebih dahulu diselesaikan sebelum kemudian tirkah dibagi-bagikan kepada ahli waris. Dan sayangnya, pembahasan ini tidak dikupas dalam buku ini. Inilah mungkin nilai minus dari karya Wahîd bin Abdissalam Bâlî ini.

Demikian itu karena memang fokus kajian buku ini hanya mengerucut membahas ahli waris yang akan menerima tirkah serta kadar bagian yang akan didapat. Selebihnya dari itu tidak dibahas dalam buku ini. Dengan begitu, ada korelasi kuat antara muatan buku dan judulnya, al-Bidâyah fî ‘IlmilMawarîs; permulaan dalam ilmu yang terkait dengan hak waris. Tidak lebih!

Spread the love