MADIUN AFFAIRS: KONFLIK YANG DIMANFAATKAN BELANDA (2-HABIS)

Kemudian pada 21 Juli 1948 telah diadakan pertemuan rahasia di hotel “Huisje Hansje” Sarangan, dekat Madiun yang dihadiri oleh Soekarno, Hatta, Sukiman, Menteri Dalam Negeri, Mohamad Roem (anggota Masyumi) dan Kepala Polisi Sukanto, sedangkan di pihak Amerika hadir Gerald Hopkins (penasihat politik Presiden Truman), Merle Cochran (pengganti Graham yang mewakili Amerika dalam Komisi Jasa Baik PBB). Dalam pertemuan Sarangan, yang belakangan dikenal sebagai “Perundingan Sarangan”, diberitakan bahwa Pemerintah Republik Indonesia menyetujui Red Drive Proposal (proposal pembasmian kelompok merah). Dengan bantuan Arturo Campbell, Sukanto berangkat ke Amerika guna menerima bantuan untuk kepolisian RI. Campbell yang menyandang gelar resmi Atase Konsuler pada Konsulat Jenderal Amerika di Jakarta, sesungguhnya adalah anggota Central Intelligence Agency (CIA).

Pada 19 September 1948, Presiden Soekarno dalam pidato yang disiarkan melalui radio menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, untuk memilih: Musso-Amir Syarifuddin atau SoekarnoHatta. Maka pecahlah konflik bersenjata, yang pada waktu itu disebut sebagai Madiun Affairs (Peristiwa Madiun), dan di zaman Orde Baru terutama di buku-buku pelajaran sejarah kemudian dinyatakan sebagai pemberontakan PKI Madiun.

Kekuatan pasukan pendukung Musso digempur dari dua arah: Dari barat oleh pasukan Divisi II di bawah pimpinan Kolonel Gatot Subroto, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Wilayah II (Semarang-Surakarta) tanggal 15 September 1948, serta pasukan dari Divisi Siliwangi, sedangkan dari timur diserang oleh pasukan dari Divisi I, di bawah pimpinan Kolonel Sungkono, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, tanggal 19 September 1948, serta pasukan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, di bawah pimpinan M. Yasin.

Panglima Besar Sudirman menyampaikan kepada pemerintah, bahwa TNI dapat menumpas pasukanpasukan pendukung Musso dalam waktu 2 minggu.

Tanggal 30 September 1948, kota Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Pasukan Republik yang datang dari arah timur dan pasukan yang datang dari arah barat, bertemu di Hotel Merdeka di Madiun. Namun pimpinan kelompok kiri beserta beberapa pasukan pendukung mereka, lolos dan melarikan diri ke beberapa arah, sehingga tidak dapat segera ditangkap.

Baru pada akhir bulan November 1948 pemberontakan berhasil dipadamkan seluruhnya. Musso yang melarikan diri ke Sumoroto, sebelah barat Ponorogo berhasil ditembak mati. Sedangkan Amir Sjarifuddin dan tokoh-tokoh kiri lainnya berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi pada 20 Desember 1948. Amir sendiri tertangkap di daerah Grobogan, Jawa Tengah. Sedangkan sisa-sisa pemberontak yang tidak tertangkap melarikan diri ke arah Kediri, Jawa Timur. Merekalah yang kelak di tahun 1965, berhasil menjadikan PKI kembali menjadi partai besar di Indonesia sebelum terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Akibat dari pemberontakan PKI Madium sendiri, diperkirakan terdapat ribuan orang tewas dan ditangkap pemerintah akibat pemberontakan ini.

Setelah itu, di bulan Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi militer II secara besar-besaran, dan mendekat menuju Yogyakarta, Ibukota sementara. Di lain sisi, Yogyakarta tidak terdapat pasukan yang kuat yang bisa membendung pasukan Belanda, dikarenakan pasukan pemerintah yang berhasil menumpas Pemberontakan Madiun masih belum kembali ke Yogyakarta.

Meskipun nantinya pasukan RI tetap bisa mengatasi Agresi Militer Belanda untuk kedua kalinya namun tentu rangkaian peristiwa mulai dari Peristiwa Madiun dan juga Agresi Militer Belanda II beserta kejadian intrik didalamnya jelaslah ada keterkaitan. Peristiwa Madiun ini dapat dilihat sebagai bentuk manuver Belanda dalam mengalihkan konsentrasi seluruh pasukan TNI, baik dari jawa Tengah, Jawa Timur, dan termasuk Brimob kepolisian, yang mengakibatkan Ibukota Republik Indonesia tidak dijaga pasukan yang cukup kuat sehingga hal ini menjadi peluang bagi Belanda dalam upayanya merebut kembali RI melalui Agresi Militer Belanda yang keduanya. Selain itu terjadi penghianatan yang menyebabkan lapangan udara Maguwo lumpuh, sehingga tentara Belanda dengan mudah menguasai Maguwo yang menjadi basis serangan terhadap Yogyakarta.

Fauzan Imron/sidogiri