Oleh: Ibnu Imron*

Filipina adalah Negara bekas jajahan Spanyol dan Negara Mayoritas Kristen Terbesar di Asia, Nama Filipina sendiri diambil dari kata Philipe, nama salah satu raja Spanyol yang berkuasa di masa itu. Sedangkan Manila merupakan kota terbesar di Filipina. Namun bila kita melihat sejarah ke belakang, diketahui bahwa Manila berasal dari kata berbahasa Arab fi amanillah yang artinya dalam lindungan Allah. Dari sana kita bisa tahu bahwa jauh sebelum negara ini menjadi negara berpenduduk Mayoritas Kristen, negara ini pernah menjadi negara berpenduduk mayoritas Muslim, namun kedatangan penjajah Spanyol membuat agama Islam terdesak dan terusir dari wilayah utara menuju selatan.

Sejarah Islam di Filipina

Sejarah masuknya Islam di Filipina di mulai pada abad 14 M. tepatnya pada tahun 1380 M. Seorang tabib dan ulama keturunan Arab bernama Karimul Makhdum datang ke kepulauan Sulu di Filipina Selatan, sepuluh tahun kemudian Pangeran keturunan Minagkabau bernama Raja Baguinda mendatangi pulau-pulau selatan Filipina, mereka mulai menyebarkan ajaran agama Islam sedikit demi sedikit islam hingga menyebar di seluruh kepulauan selatan Filipina, sedangkan masjid yang pertama dibangun adalah masjid Karimal Makhdum yang didirikan pada Abad ke-14, masijid yang diberi nama sesuai dengan nama penyebar islam pertama kali. Pada abad 16 Islam sudah menyebar jauh ke pulau-pulau Filipina bagian utara, penguasa setempat adalah keturunan Pangeran-pangeran Suku Minang, yang paling terkenal adalah Raja Sulaiman, dia merupakan pembuat pemukiman baru di pulau Luzon yang ia beri nama fi Amanillah (Manila) yang berarti dalam lindungan Allah, pemukiman ini kelak menjadi ibu kota negara Filipina.

Melawan Penjajah Sepanyol

Pada tahun 1521 penjelajah Spanyol kelahiran Portugis bernama Ferdinand Magellan mendarat di Pulau Samar dan Pulau Leyte dan mengklaim kedua pulau itu milik Spanyol. Akan tetapi kaum pribumi melakukan perlawanan, karena merasa hak mereka telah dirampas, Ferdinand Magellan berhasil dibunuh, dan tentaranya kabur kembali ke Spanyol dan mempersiapkan armada yang lebih kuat untuk menaklukkan Filipina.

Tahun 1565 Spanyol datang lagi dengan tentara yang lengkap yang dipimpin Miguel Lopez de Legazpi dan mereka membentuk permukiman Eropa pertama di pulau Cebu. Tahun 1571 mereka menyerbu Kesultanan Manila dan Tondo di Filipina utara, dan menyatakan Manila sebagai ibukota Spanish East Indies atau Negara Spanyol di Hindia timur. Raja Sulaiman yang memimpin kesultanan Manilla mempertahankan kota itu, tak pelak perang Kristen-Spanyol melawan IslamPribumi akhirnya terjadi, sampai Raja Sulaiman dikalahkan pada tahun 1574. Dan orang-orang Islam yang selamat memilih untuk pergi ke wilayah selatan, tempat yang lebih kokoh untuk melawan penjajah Spanyol.

Setelah berhasil menguasai bagian utara, Spanyol mulai gencar melakukan Kristenisasi. Mereka mulai memasukkan unsur-unsur Barat, seperti hukum Barat, aksara latin, kalender Gregorian dan agama Katholik. Selanjutnya, dengan trik kekerasan terkadang juga persuasi (menundukkan secara halus dengan hadiah-hadiah), orang-orang Spanyol dapat dengan mudah memperluas kedaulatannya ke hampir seluruh kepulauan Filipina. Hanya saja mereka cukup kesulitan untuk menundukkan Filipina selatan yang masih dipimpin sultan-sultan Muslim

Mereka kemudian memiliki trik yang licik, mereka mendengungkan perang ‘Perang Moro’ atau tepatnya perang Kristen melawan orang-orang Moro (sebutan untuk pribumi yang beragama Islam karena mereka mempunyai kepercayaan yang sama dengan orangorang Moor Spanyol). Politik perang sebangsa pun digulirkan. Para penjajah Spanyol membuat peta pertempuran antara indo Kristen (para pribumi Filipina yang telah ter-Kristenkan) dengan orang-orang Moro. Kemudian konflik ini berlanjut bahkan sampai saat Filipina merdeka.

Akhirnya, perang kedua kelompok yang masih sedarah itu menimbulkan pengaruh luar biasa di kemudian hari. Ratusan tahun kemudian, ketika masa akhir kolonial Spanyol mulai surut dan Amerika datang menggantikan Spanyol, Perang Moro masih terus berlangsung. Meskipun dengan bentuk dan isi yang berbeda, namun tetap bertujuan sama.

Perang Melawan Amerika

Pada tahun 1898 Spanyol takluk kepada Amerika dan menjual Filipina ke Negeri Paman Sam, Ironisnya Spanyol tetap menganggap Mindanao dan Sulu merupakan bagian dari teritorialnya, sekalipun pada kenyataannya Spanyol gagal menundukkan kedua wilayah itu. Secara licik, Spanyol kemudian menyerahkan Filipina kepada Amerika Serikat seharga US$ 20 juta pada tahun 1898 M melalui Traktat Paris.

Setelah berpindah tangan mula-mula Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri sebagai seorang sahabat yang baik dan dapat dipercaya. Dan inilah karakter musuh-musuh Islam sebenarnya. Hal ini dibuktikan dengan ditandatanganinya Traktat Bates (20 Agustus 1898 M) yang menjanjikan kebebasan beragama. Namun ini hanya taktik mengambil hati orang-orang Islam agar tidak memberontak, karena pada saat yang sama Amerika tengah disibukkan dengan pemberontakan kaum revolusioner Filipina Utara pimpinan Emilio Aguinaldo. Terbukti setelah kaum revolusioner kalah pada 1902 M, kebijakan AS di Mindanao dan Sulu berubah sikap menjadi intervensi dan penjajahan terbuka.

Periode berikutnya tercatat pertempuran antara kedua belah pihak. Tercatat dalam kurun waktu enam tahun (1914-1920) terjadi 19 kali pertempuran. Bahkan di tahun 1921-1923, terjadi 21 kali pertempuran.

Setelah dirasa peperangan tak cukup efektif meredam perlawanan Bangsa Moro, Amerika akhirnya menerapkan strategi penjajahan melalui pendidikan dan bujukan. Dan ini terbukti sangat efektif dalam meredam perlawanan Bangsa Moro. Sebagai hasilnya, persatuan diantara masyarakat Muslim Moro mulai berantakan dan budaya asli mereka mulai terkontaminasi oleh norma-norma Barat. (Bersambung)

*Penulis adalah alumni santri Sidogiri Asal pasuruan