Tahun 1979 menandai dua peristiwa besar dua negara kuat di Timur Tengah. Di Iran– negeri pusat Syiah Rafidhah, meletus revolusi besar yang berakhir dengan disahkannya sistem teokrasi baru, dimana Khomeini menjadi pemimpin tertinggi negara.

Sementara di negeri Wahabi Arab Saudi, terjadi aksi makar yang bertepatan dengan awal Muharam 1400 H atau 20 Nopember 1979 M. Tidak main-main, para pelaku makar membajak Masjidil Haram, kiblat suci umat Islam sedunia.

Kelompok ekstremis pelaku makar dipimpin oleh Juhaiman bin Muhammad al-Otaibi dari provinsi Qasim. Juhaiman lahir pada 1936 dan tumbuh dalam lingkungan Suku Otaibah yang dikenal radikal dan terampil dalam bidang militer. Ayah dan kakek Juhaiman adalah anggota milisi yang berperang melawan kerajaan Saudi pada 1929.

Juhaiman mengenyam pendidikan di Universitas Islam Madinah. Di sana ia bertemu Muhammad bin Abdillah al-Qahthani–murid kesayangan Syekh Abdul Aziz bin Baz–yang kelak menjadi iparnya. Meski demikian, ia tetap memegang teguh doktrin fundamental yang dipegang teguh kabilahnya. Dan karena itu ia menentang keras modernitas yang kian mewarnai pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia.

Jamaah Salafiyah al-Muhtasibah

Berawal dari sebuah masjid kecil di kota Madinah, Juhaiman bersama iparnya, Muhammad bin Abdillah alQahthani pada tahun 1965 membentuk satu kelompok yang diberi nama Jamaah Salafiyah al-Muhtasibah.

Tahun 1974, Juhaiman keluar dari Universitas dan pulang ke kampung halamannya di Sajir, Qasim. Ia mematangkan gerakan yang di bentuk dan menyebarkan pamflet-pamflet provokatif yang mencela pemerintah. Ia aktif berorasi mengajak masyarakat membangun Arab Saudi yang murni dan berpegang teguh pada syariat Islam.

Aksi-aksi Juhaiman coba diredam pemerintah. Oleh menteri dalam negeri waktu itu, Pangeran Nayef bin Abdul Aziz, Juhaiman dan pengikutnya diisolasi agar pemikiran ekstremnya tidak menyebar.

Juhaiman lalu pindah ke Riyadh. Tahun 1978, ia menggelar demonstrasi di ibukota kerajaan itu. Juhaiman lantas ditahan bersama ratusan pengikutnya. Namun karena kedekatannya dengan Syekh Abdul Aziz bin Baz, Juhaiman dibebaskan tak lama kemudian.

Sejak saat itu, ia pun merencanakan aksi besar. Selama berminggu-minggu, Ia dan pengikutnya mengamati situasi kota Makkah sebagai target aksi terbesar mereka.

Aksi Berdarah di Haram Memasuki awal abad ke-15 Hijriyah, menjelang Shalat Subuh, Juhaiman bersama 270 orang pengikutnya memasuki Masjidil Haram. Mereka membawa senjata dan perlengkapan lainnya dalam peti jenazah. Berpurapura sedang bersiap meyalatkan jenazah yang baru meninggal.

Selama Shalat Subuh berlangsung, pengikut Juhaiman mengunci pintupintu masjid dan menempatkan dua orang penjaga di masing-masing pintu. Sementara para sniper disiagakan di menara-menara masjid.

Usai shalat, Juhaiman mengambil mikrofon dan berdiri di hadapan para hadirin. Kepada para jemaah, Juhaiman mengumumkan bahwa Muhammad bin Abdillah al-Qahthani adalah al-Mahdi alMuntazhar dan mujaddid abad ini.

Berikutnya, Juhaiman dan pengikutnya menjalani prosesi membaiatan al-Mahdi palsu tersebut seraya menembakkan senapan ke arah udara agar para jamaah ikut membaiat. Para jamaah haji dipersilakan keluar dari masjid, sementara penduduk asli Saudi tetap disandera di dalam masjid dan dipaksa melakukan baiat.

Pihak keamanan masjid yang tidak bersenjata berusaha menindak, namun mereka semua dibunuh. Begitu pula jamaah yang berusaha melarikan diri. Maka tumpahlah darah di tanah haram, pada bulan haram, akibat keganasan Juhaiman dan pengikutnya.

Akhir Krisis

Berita cepat tersebar ke pihak istana. Raja Khalid bin Abdul Aziz segera mengumpulkan para ulama dan membahas persoalan ini. Demi menghormati bulan haram dan tanah haram, para ulama menyarankan agar kerajaan lebih mengutamakan jalan negosiasi dan pendekatan. Metode kekerasan baru bisa ditempuh jika langkah pertama tidak mendapatkan hasil.

Pangeran Nayef turun langsung memimpin operasi pembebasan Masjidil Haram. Warga di sekitar area masjid diminta meninggalkan tempat tinggal mereka. Pasukan kerajaan mengepung masjid dan menekan kelompok Juhaiman.

Memasuki hari kelima pengepungan, kelompok Juhaiman semakin terdesak. Belasan anggota menyerahkan diri. Apalagi, ketika tersiar kabar bahwa AlMahdi imam mereka tewas terbunuh.

Tanggal 5 Desember, pasukan Saudi dan Garda Nasional mulai memutus suplai air dan arus listrik ke Masjidil Haram, karena para sandera sudah terselamatkan.

Tanggal 10 Januari 1980, Juhaiman bersama puluhan pengikutnya dari berbagai kewarganegaraan dihukum pancung. Pangeran Nayef melaporkan 12 orang pegawai dan 115 tentara Saudi gugur. 402 pegawai serta 49 tentara lainnya terluka.

Moh. Yasir/sidogiri