beberapa waktu yang lalu beredar pernyataan salah seorang tokoh masyarakat, bahwa para ulama telah mengkonsep sistem bernegara di Indonesia ini dengan mengambil dari konsep-konsep Islam. Misalnya, para ulama menyebut masyarakat dengan sebutan “rakyat” dengan mengadopsi dari kata “ra‘iyyah”. Nah, karena bangsa Indonesia ini secara keseluruhan sudah disebut ra’iyyah atau rakyat, maka tak ada lagi kata kafi r di Indonesia.

Bagaimana kita menanggapi pernyataan sedemikian?

Jawaban

Pertama, sebagai seorang tokoh masyarakat, seharusnya ia berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan-pernyataannya kepada masyarakat awam. Jangan sampai ia menyampaikan sesuatu yang bisa menimbulkan kontroversi, membingungkan masyarakat, atau membikin mereka harus bertanya ulang tentang apa yang sudah menjadi pemahaman mereka selama ini. Karena tokoh masyarakat itu adalah tempat masyarakat berlabuh. Jika pelabuhannya ternyata tidak aman, tentu ini akan sangat membahayakan.

Kedua, terkait dengan pernyataan tokoh itu, bahwa tidak ada kata “kafir” di Indonesia, karena Indonesia sudah memakai kata “rakyat” yang diadopsi dari kata “ra’iyyah”. Pernyataan ini juga masih ambigu dan mungkin dipahami secara berbeda-beda. Yang pertama, pernyataan itu bisa dipahami bahwa maksudnya, undang-undang dan hukum di negara kita ini menyamaratakan seluruh masyarakat Indonesia, tanpa melihat perbedaan agama mereka. Jadi secara hukum dan administrasi negara, mereka semua dikategorikan sebagai “rakyat” tanpa terkecuali, baik yang Muslim maupun yang non-Muslim.

Nah, jika pernyataan tokoh tadi kita pahami seperti itu, maka tentu tidak masalah. Yang bisa bermasalah itu adalah, jika pernyataan tadi dipahami sebagaimana pemahaman kedua berikut: bahwa di Indonesia ini sudah tidak ada orang kafir dalam pandangan agama Islam. Sebab negara sudah menyebut semua orang di negeri ini dengan sebutan “rakyat” yang diadopsi dari kata “ra‘iyyah”. Karena itu kita tak boleh menyebut orang-orang non-Muslim di Indonesia ini dengan sebutan “kafir”.

Pemahaman yang kedua ini tentu sangat fatal dan menyesatkan, dan bahkan bisa membahayakan akidah umat Islam. Sebab umat Islam wajib meyakini bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Sedangkan agama di luar Islam adalah agama yang bathil. Orang-orang yang tidak memeluk agama Islam adalah orang-orang kafir yang diancam dengan neraka yang kekal di akhirat. Nah, jika ada orang Islam yang tidak meyakini bahwa non-Muslim itu kafir, maka ia telah menjadi kafir. Karena itu kita harus berhati-hati dalam masalah ini.

Di sini perlu ditambahkan, bahwa meyakini kekafiran orang-orang non-Muslim itu tidak berarti menutup ruang untuk berbuat baik kepada mereka di ranah sosial. Artinya Islam mengajarkan umat Islam untuk bersikap baik kepada siapa saja, termasuk kepada orang-orang non-Muslim, kendati dalam waktu yang bersamaan kita juga wajib berkeyakinan bahwa orang kafir itu berada pada jalan yang salah; agama yang dipeluknya adalah agama bathil yang tidak diridhai oleh Allah.

Baca juga: Kupas Tuntas Asal Kata Kafir

Spread the love