Setiap jengkal bumi Tuhan menyimpan budaya yang berbeda. Tak luput dengan bumi pesantren, bumi kaum sarungan, berjuta budaya layak disuguhkan kepada masyarakat nusantara dan dunia. Ini bumi kita, ini budaya kita, ini kearifan lokal kita. Nikmatilah!

Banyak cara yang dipakai manusia guna menyuguhkan hidangan budaya mereka. Salah satunya dengan sebuah genre yang digambarkan memiliki sejarah berkelanjutan dan komprehensif selama sekitar dua ribu tahun, novel. Ya, novel yang dalam istilah bahasa Italia adalah gambaran cerita singkat ini memang banyak diminati oleh banyak kalangan. Novel memiliki banyak keungulan. Dengan prosanya yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang secara detail, membawa para pembacanya berimajenasi bebas tak terkekang.

Pesantren pun punya hidangan, yang akan menjadi menu spesial seandainya orang-orang pesantren mau menggarapnya dengan serius. Lihatlah “99 Cahaya di Langit Eropa”, novel anggitan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Sebuah novel tentang perjalanan pencarian jejakjejak Islam dari barat hingga timur Eropa. Tidakkah tokoh itu bisa diganti perjalanan seorang santri mencari jejakjejak masyayikhnya di masa lalu?

Buatlah seperti “Laskar Pelangi”, novel fenomenal karya Andrea Hirata. Hingga sukses melahirkan tetralogi Laskar Pelangi; Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Tentang 10 anak di Bangka Belitung, dengan kondisi kelas yang sudah reot dan bocor. Namun semangat yang diberikan Bu Mus, guru hebat dan tidak pantang menyerah selalu memotivasi mereka. Bagaimana seandainya 10 anak itu adalah 10 santri kecil, dengan kondisi ekonomi yang mencekik, tapi berhasil menjadi tokoh sukses berkat semangat dan perjuangan mereka.

Lupakah kita dengan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”? Novel budaya buah pikir Buya Hamka? Tentang sebuah aturan adat yang berlaku di tanah Minangkabau, perbedaan latar belakang sosial yang membuat hubungan cinta sepasang kekasih menjadi terhalang hingga akhir kematian. Cerita dengan dua tokoh utama, Zainuddin (ayah Minang dan ibu dari Bugis) dan Hayati (asli Minang dan keturunan bangsawan).

Bayangkan seandainya Zainuddin adalah seorang santri asal tanah Jawa, miskin tak berada. Lalu mengenyam pendidikan pesantren di tanah Sulawesi, dimana budaya dan adatnya berbeda. Dia terpikat hati kepada putri sang kiai, Hayati. Bukankah budaya mereka berbeda? Akankah Zainuddin harus membayar 30 juta sebagai mahar layaknya budaya orang Sulawesi? Bukankah Zainuddin orang tak berada? Sepertinya asyik bila kisah kaum sarungan ini diangkat dari sisi budaya.

Maka saya sangat mengapresiasi novel “Negeri 5 Menara” inspirasi hati Ahmad Fuadi. Novel yang sudah diterbitkan dalam bahasa Inggris ini merupakan seri pertama dari Trilogi Negeri 5 Menara; Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara. Berkisah tentang Alif, seorang santri yang pada akhirnya meraih impiannya hingga ke luar negeri, meski pendidikan lanjutan yang ia tempuh bukan lewat jalur sekolah umum, melainkan pendidikan pesantren.

Ingatlah! Setiap jengkal bumi Tuhan menyimpan budaya yang berbeda. Tak luput dengan bumi pesantren, bumi kaum sarungan, berjuta budaya layak disuguhkan kepada masyarakat nusantara dan dunia. Ini bumi kita, ini budaya kita, ini kearifan lokal kita. Nikmatilah!

M. Muhsin Bahri/sidogiri