Sebuah keluarga ingin menikmati hidup tenang di sebuah rumah mungilnya. Mereka membangun rumah minimalis dengan arsitektur kekinian. Tidak selang beberapa lama, sang suami melihat sebuah jendela rumahnya ada yang tidak tepat pemasangannya dan ia sebagai kepala rumah tangga langsung ingin merombak total rumahnya, mulai dari pondasi awal. Sang istri sebenarnya berkeberatan, tetapi sang suami bersikukuh ingin membongkar, akhirnya sang istri manut.

Dibongkarlah rumah tersebut dan setelah rumah kedua jadi, tiba-tiba salah satu daun pintunya rusak. Kembali lagi, sang suami merombak total rumah tersebut dan sang istri menuruti apa yang diinginkan sang suami. Terus berkali-kali, setiap ada kerusakan kecil di rumah itu, ia rombak total dan bangun ulang.

Pada akhirnya, keluarga tersebut sibuk dengan perombakan, tidak bisa menikmati kenyamanan rumah kecilnya. Ia tidak pernah merasakan traveling bersama keluarga, dan bahkan sang anak pun tak terurus, hanya fokus pada satu titik, rumah sempurna.

Ini hanyalah metafor dari cara menghadapi masalah. Bahasa sederhananya, atasi masalah sesuai dengan porsi masalah. Terkadang, masalah saat diselesaikan justru menimbulkan masalah lain. Untuk itu, mengatasi masalah harus betul-betul selesai, yang dalam bahasa pergadaian, “Mengatasi masalah tanpa masalah”.

Setiap orang pasti punya masalah, sebab manusia lahir ke dunia sudah membawa masalah. Dalam rangkaian kehidupannya, kadang memang menemukan persoalan, tidak berjalan mulus. Pasti akan ada batu sandungan, berupa masalah, ada yang bersekala kecil dan ada yang besar. Namun, apa pun itu, semua persoalan harus diatasi. Hanya yang menjadi perhatian adalah bagaimana cara menyikapi dan mengatasi persoalan tersebut.

Baca Juga: MENYADARI KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PASANGAN RUMAH TANGGA

Dalam mengatasi masalah, ada yang memiliki pandangan, apa pun masalahnya adalah harus disikapi serius. Ketika demikian, sekecil apa pun persoalannya akan disikapi dengan langkah besar, termasuk mengubah sistem yang telah ada dan bahkan membongkar dan merekonstruksi ulang adalah langkah tepat, meskipun kadang tidak memerlukan itu.

Masalahnya kemudian, perombakan terus akan menghabiskan energi dan tenaga. Atau bahkan, hal yang bukan menjadi sumber masalah diubah, sehingga menyebabkan mubazir. Praktis akan memulai dari awal lagi, sehingga hidup ini hanya memikirkan perombakan, bukan langkah perbaikan.

Sebaliknya, ada yang memandang enteng, atau bahkan terlalu enteng sehingga semua masalah disikapi ringan dan santai. Jika kemudian diatasi dengan baik, tidak hanya menyikapinya dengan enteng dan ringan, tetapi jika hanya menyikapi dengan enteng saja, tanpa ada langkah mengatasi, adalah salah juga.

Metafor di atas bisa digambarkan pada sebuah bangunan rumah tangga. Keluarga adalah sebuah rumah tempat orang tinggal. Dari itu, orang menyebutnya, rumah tangga. Ketika menikah, dua pasangan disebut berumah tangga dan disebut membangun rumah tangga. Ungkapan “Baiti Jannati” tidak hanya sekadar bermakna hakiki sebuah rumah, tetapi juga hubungan antar keluarga menyebarkan aroma surga, sakinah mawaddah wa rahmah.

Baca Juga: MEMAHAMI SUKA DAN BENCI PASANGAN

Setenang apa pun dalam rumah tangga, masalah pasti menimpa dan setiap masalah yang terjadi mestinya harus diatasi. Menumpuk masalah jelas akan mengarahkan pada masalah yang lebih besar. Untuk itu, diperlukan kecermatan sikap dan kejernihan pikir yang terlahir sikap moderat; tidak terlalu serius dan tidak terlalu enteng. Identifikasi masalahnya, kemudian atasi sesuai dengan porsi masalah yang ada.

Terkadang, suami-istri memandang masalah yang dihadapi adalah besar, yang kemudian cara mengatasinya dengan cara merombak total, melalui perceraian, padahal sebenarnya tidak mesti demikian. Hanya sisi pandangnya saja yang kemudian menganggap berat, sehingga cara mengatasinya adalah dengan hal paling berat dalam pernikahan, yakni perceraian.

Perceraian memang bagian dari solusi dalam rumah tangga manakala ikatan suami-istri sulit dipertahankan. Akan tetapi, tidak semua masalah kemudian bisa diselesaikan dengan perceraian. Perceraian adalah langkah besar dan efeknya pun juga besar.

Ada banyak langkah alternatif menyikapi dan mengatasi masalah. Pembongkaran rumah secara total, sebagaimana metafor di atas jelas bukan langkah tepat jika persoalannya hanya pada daun jendela. Merestart pernikahan dengan perceraian hanya karena ada masalah gesekan kecil berupa ketersinggungan ucap yang kadang tanpa disengaja, bukan langkah bijak karena itu bisa diatasi dengan kata maaf dan rayuan mesra.

Baca Juga: AGAR SUAMI TAK NIKAH LAGI

Ada juga, masalah dalam rumah tangga disikapi dengan pertengkaran. Seolah pertengkaran bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi, dengan cara mempertahankan ego masing-masing, padahal bukan menyelesaikan masalah, melainkan menambah masalah.

Sikap egois pastinya ada dalam diri setiap manusia, yakni perasaan tidak mau mengakui kesalahan dan merasa paling benar. Hanya kemudian, bagaimana rasa egois itu bisa diredam dan disetir ke arah yang positif. Dalam rumah tangga, sikap egois bisa menjadi pemicu pertengkaran secara terus-menerus. Istri tidak mau mengalah, suami tidak mau mengalah. Dua-duanya sama-sama keras kepala. Lalu bagaimana masalah tersebut bisa diselesaikan?

Berbanding dengan pertengkaran adalah rasa kasih sayang. Artinya, kasing sayang dan bumbu kemesraan di antara solusi menyelesaikan masalah. Candaan dan mengucapkan kata rayuan bisa menjadi peredam amarah. Layaknya api yang bisa dipadamkan dengan air, rasanya rayuan terbilang efektif mengatasi masalah kecil dalam rumah tangga.

Tentu saja, itu bukan satu-satunya cara, karena pengatasan masalah tergantung porsi dan bobot masalah yang dihadapi. Ada banyak cara menyelesaikan masalah, tergantung sudut pandang dan penyikapannya. Kerusakan daun pintu tidak harus merobohkan rumah. Masalah anak tidak harus bertengkar yang kemudian berujung pada perceraian.

Metafor di atas hanya merupakan gambaran dari sebuah contoh bagaimana sebuah masalah bisa diatasi dengan sikap tenang sesuai porsinya. Artinya, untuk menyelesaikan suatu masalah harus mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Setelah tahu sebabnya, maka fokuslah pada inti masalah dan pasang solusi masalah sesuai dengan porsinya. Jika masalahnya hanya pada jendela dan pintu yang rusak, genteng, dan tembok tidak perlu dirobohkan.

Masyhuri Mochtar/sidogiri

Spread the love