Sebuah kisah diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad-nya. ‘Aisyah, istri Nabi, bercerita, “Suatu ketika, aku ikut bersama Rasulullah dalam sebuah lawatan. Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping. Beliau memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Kemarilah! sekarang kita berlomba lari.” Aku pun meladeninya dan akhirnya aku dapat mengungguli beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hanya diam saja atas keunggulanku tadi.

Pada kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah lawatan. Beliau kembali memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Akhirnya, beliau dapat mengalahkanku. Beliau tertawa seraya berkata, “Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (HR. Ahmad).

Kisah dalam hadis di atas adalah potret dari manusia sempurna, Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam. Sebuah bentuk kemesraan yang sangat lembut dan perhatian yang sangat besar pada istrinya sehingga terbangung romantisme keluarga. Beliau perintahkan rombongan untuk berangkat terlebih dahulu agar beliau dapat menghibur hati sang istri dengan mengajaknya berlomba lari. Kemudian beliau memadukan permainan yang lalu dengan yang baru, beliau berkata, “Inilah penebus kekalahan yang lalu!”.

Soal kemesraan Nabi pada istri-istri beliau ini terekam kuat dalam sejarah kepribadian utusan terakhir ini. Dalam kisah lain disebutkan, yang juga diriwayatkan dari ‘Aisyah. Aisyah menuturkan, “Pada suatu hari, Rasulullah berkata, ‘Wahai ‘Aisy (panggilan kesayangan ‘Aisyah), Malaikat Jibril tadi menyampaikan salam buatmu.” (Muttafaq ‘alaih).

Juga, Aisyah menuturkan, “Suatu ketika aku minum, dan aku sedang haidh, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR. Muslim).

Termasuk juga, soal tempat mandi Nabi bersama ‘Aisyah. Putri Abu Bakar ini mengatakan, “Aku biasa mandi berdua bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari satu bejana.” (HR. Al-Bukhari)

Beberapa kisah di atas adalah secuil dari kisah-kisah lain tentang kemesraan Nabi terhadap istri-istri beliau. Semuanya, menjadi potret dari manusia sempurna untuk umatnya yang mengindamkan kedamaian, keceriaan, dan kebahagiaan dalam keluarga, terkhusus kaum laki-laki yang telah menjadi suami agar senantiasa berlaku mesra pada istrinya.

Bagaimanapun, kemesraan adalah bumbu terpenting dari keluarga harmonis. Tanpa kemesraan, sebahagia apa pun sebuah keluarga, semuanya akan terasa hambar. Seorang istri bisa saja demikian bahagia dengan suami yang tampan dan gagah, juga sebaliknya dari seorang suami. Namun, ketika tidak ada kemesraan di dalamnya, semuanya terasa hambar. Hal sebaliknya terjadi, ketika aroma kemesraaan menyeruak kuat dalam bingkai keluarga, meski semunya terbilang pas-pasan.

Kemesraan juga tidak tidak bisa diukur dengan apa pun, termasuk gemerlap harta dan jabatan. Bisa saja, seorang istri merasa bangga dengan limpahan harta dan jabatan tinggi suaminya, tetapi sangat mungkin semuanya terasa hampa karena tidak ada kemesraan dan kasih sayang di dalamnya.

Peran terpenting kemesraan keluarga ada pada seorang suami, meski tidak menyampingkan peran istri. Suami menjadi motor penggerak dari kemesraan dengan sikap-sikap yang menjadikan seorang istri selalu merasa diperhatikan dan disanjung. Watak seorang wanita yang selalu menginginkan dirinya selalu disanjung dan dipuja oleh suami.

Oleh karena itu, sikap suami dalam membangun kemesraan menjadi sumber utama dalam keluarga sakinah. Peran istri adalah memancing kemesraan suami dengan wajah ceria dan seyum mesra sehingga terbangun romantisme keluarga. Kebolehan berhias, memakai sutera dan melubangi telinga untuk diberi anting-anting bagi istri adalah bagian dari peran itu.

Bagaimana cara suami bersikap? Rasulullah sebagai sosok manusia sempurna menjadi teladan tingkat tinggi. Rasulullah di medan perang sebagai jenderal profesional yang menguasai taktik dan strategi bertempur. Di tengah masyarakat, beliau adalah teman, sahabat, guru, dan sosok pemimpin yang menyenangkan. Di rumah, beliau adalah seorang kepala rumah tangga yang bisa mendatangkan rasa aman, kasih sayang, sekaligus kebahagiaan.

Kita perhatikan dari beberapa hadis di atas. Rasulullah memposisikan istri sebagai pendamping hidup, bukan sebagai rakyat atau bawahan. Dalam memanggil istrinya, ‘Aisyah, beliau demikian mesra dengan panggilan romantis, bahkan dalam soal makan dan minum Rasulullah memposisikan diri sebagai suami yang selalu romantis, minum pada bekas minuman ‘Aisyah.

Artinya, kesibukan mengurus umat, Rasulullah tidak melupakan jalinan mesra dengan istri-istri beliau, bahkan tidak segan-segan untuk mandi bersama dengan istri. Pada akhirnya, Rasulullah menjadi suami yang dibanggakan oleh istri-istrinya, sekaligus menjadi teladan sikap bagi para suami.

Dengan maksud lain, Rasullah memberi teladan bahwa setinggi apa pun pangkat seorang suami di mata umat dan masyarakat, di dalam keluarga ia adalah suami yang dituntut untuk mu’asyarah bil ma’ruf dengan keluarga. Ada sikap yang memang harus berbeda ketika bersinggungan dengan keluarga, terutama pada istri. Sikap Rasulullah menjadi cerminan nyata untuk suami yang selalu ingin belajar sikap.

Baca juga: Makna Pernikahan Dalam Surah Ar-Ruum 21

Apa yang dicontohkan Rasulullah tersebut adalah ajaran Islam. Sebagai rasul, Nabi Muhammad tidak hanya mengajarkan al-Quran, sebagai kitab suci yang harus dijadikan pedoman, tetapi juga sabda (qauli), pekerjaan (fi’li) dan pengakuan (taqriri) termasuk ajaran Islam yang harus ditaati.

Walhasil, Islam banyak mengajarkan tentang kelembutan dan sikap sayang pada pasangan. Sikap romantisme yang diajarkan Islam pada para suami terhadap para istri demikian nyata. Rasullah pun bersabda, sebaik-baik para suami adalah mereka yang bisa bersikap baik terhadap istrinya, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik di antara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadis hasan shahih).

M. Masyhuri Mochtar/sidogiri

Spread the love