Idul Adha berkaitan erat dengan penyembelihan hewan kurban. Pada sebagian besar umat Islam, penyembelihan hewan kurban dilakukan di halaman masjid. Hal itu karena masyarakat menyerahkan hewan kurbannya ke takmir masjid.

Ada juga disembelih di tempat lain, di rumah pemotongan hewan atau rumah orang yang berkurban. Selain disembelih di halaman masjid, orang-orang yang terlibat penyembelihan kurban, biasanya juga memanfaatkan fasilitas masjid, seperti jeding, alas, dan lain sebagainya. Hal yang menjadi titik pertanyaan kemudian, bagaimana hukum menyembelih dan memotong daging di halaman masjid, berikut fasilitas masjid?

Kita tahu bahwa masjid adalah tempat ibadah umat Islam yang memiliki keistimewaan dibanding bangunan lainnya. Demikian istimewanya, masjid juga harus steril dari hal yang dinilai kotor. Oleh karena itu, haram hukumnya mengotori masjid yang menjijikan, apalagi berupa darah. Bahkan, wanita haid dilarang berdiam diri di masjid, karena dinilai kotor.

Sebelum lebih jauh pada bahasan hukum penyembelihan hewan di halaman masjid, penting diketahui bagian-bagian dari masjid dan hukum-hukum yang terkait. Hal penting juga diketahui bahwa yang dimaksud masjid di sini, tidak harus berupa bangunan. Sepetak tanah yang diwakafkan untuk dijadikan masjid, sudah berhukum masjid.

Setidaknya, berkaitan dengan masjid ada empat bagian, masjid, rahabah, harim dan murtafiqat.

Baca Juga: Serambi Masjid dalam Kaitan Wanita Haid

Masjid adalah inti dimaksud. Masjid tidak harus berupa bangunan fisik, melainkan bisa berupa tanah. Jika berupa tanah, saat terjadi pewakafan maka batasan-batasan tanah yang dijadikan masjid secara otomatis berhukum masjid, meski sebagiannya saja yang dibangun yang kemudian disebut dengan masjid.

Jika demikian, halaman masjid bisa jadi berhukum sama dengan yang ada di bangunan masjid, meski tidak berbentuk bangunan. Bisa mungkin, inti masjid adalah tanah yang dibangun bangunan masjid, karena sejak pewakafan memang demikian. Namun kemudian, dibangunlah semacam jerambah atau disediakan halaman dengan cara membeli. Tentunya, jika kondisinya demikian, hukum sudah berbeda.

Kemudian rahabah. Rahabah banyak definisi yang dikemukakan oleh ulama. Al-Bandaniji, misalnya, menyatakan bahwa maksud rahabah adalah bangunan di samping masjid yang menyambung dengan masjid. Sementara Qadhi Abu at-Thayyib mengatakan bangunan yang mengitari masjid. Adapun al-Muhamili mengatakan, rahabah adalah bangunan di luar masjid yang menyambung dengan masjid.

Melihat ragam definisi yang dikemukakan oleh ulama ini, serambi masjid yang ada di Indonesia lebih mengarah pada rahabah. Itu pun jika tanahnya tidak diawali pewakafan sebelumnya sebagai masjid. Nampaknya memang demikian, jika dilihat dari struktur fisik bangunan yang memang menyambung dengan inti masjid dan rata-rata serambi masjid dibangun bersamaan dengan inti masjid yang lebih mengarahkan pada hukum yang sama dengan inti masjid. Hanya saja, struktur atau model bangunan masjid memang dibentuk demikian.

Dalam kaitannya dengan hukum, rahabah memiliki hukum yang sama dengan masjid, termasuk dalam aturan shalat berjamaah, keharaman berdiam diri bagi wanita haid, dan mengotorinya dengan hal yang menjijikan.

Kemudian Harim. Harim adalah tempat di sekitar masjid yang difungsikan untuk kemaslahatan masjid, seperti pembuangan sampah, kotoran, dan pembuangan air. Selanjutnya adalah Murtafiqat, yakni tempat yang masih di lingkup masjid yang difungsikan sebagai hal yang bersifat umum, tidak hanya untuk kemaslahatan masjid, seperti tempat istirahat, lesehan, dan kepentingan umum lainnya. Harim dan Murtafiqat memiliki hukum yang sama; berbeda dengan inti masjid dan rahabah.

Murtafiqat nampaknya lebih mendekati halaman masjid, karena biasanya dijadikan tempat parkir atau acara-acara Islam. Jika diterapkan pada persoalan di atas, yakni penyembelihan hewan kurban di halaman masjid, diperbolehkan. Termasuk di dalamnya, hukum pembolengan, pembagian daging. Tentunya, tetap dalam batas halaman, tidak pada rahabah atau teras masjid yang berhukum sama dengan masjid.

Untuk itu, saat dilakukan penyembelihan di halaman masjid, pembolengan dan pembagian daging kurban tidak dilakukan di serambi masjid atau yang dinamakan rahabah. Tentunya juga, penyembelihan dan pembolengan di halaman masjid ini, tidak ada penentangan (inkar) dari orang-orang shalih setempat.

Jika kemudian, pembolengan dan pembagian daging dilakukan di serambi masjid yang hukumnya sama dengan masjid, bisa terkena hukum haram, karena dapat mengotori teras dengan najis dengan tetesan darah hewan kurban. Sementara itu, teras masjid yang dalam hal ini disebut rahabah berhukum sama dengan masjid, sehingga mengotorinya juga haram.

Baca Juga: Kegiatan Keagamaan di Tahun Baru Islam

Bagaimana dengan penggunaan fasilitas lain dari masjid untuk kepentingan di atas? Masih perlu meninjau kembali status barang-barang masjid yang dipergunakan. Paling tidak, benda-benda masjid terbagi menjadi dua; milik masjid yang didapat dari membeli atau hibah atau barang wakaf.

Untuk yang berstatus milik masjid, pemanfaatannya hanya diperuntukkan untuk kepentingan-kepentingan masjid. Karena itu, pemanfaatan benda milik masjid tidak diperkenankan untuk dipergunakan untuk selain hal yang berhubungan dengan masjid, termasuk penggunaan dalam penyembelihan dan pembagian hewan kurban. Hal ini karena dipandang bahwa penyembelihan hewan kurban tidak terkait dengan kemaslahatan masjid.

Untuk barang wakafan, penggunaannya sesuai dengan ketentuan dari pihak yang mewakafkan (Syarthul-waqif). Jika pihak pewakaf menyertakan syarat dalam penggunaan barang yang diwakafkan, maka penggunaan barang wakaf disesuaikan dengan syarat yang diajukan. Jika tidak ada syarat dari wakif maka disesuaikan dengan kebiasaan umum (uruf) saat terjadi pewakafan.

Dengan demikian, pemanfaatan fasilitas, semacam alas atau tikar dan lainnya, yang diwakafkan oleh seseorang tidak diperbolehkan digunakan untuk kepentingan di atas, jika memang ada syarat penggunaan dari wakif penggunaan barangnya untuk kepentingan masjid. Akan tetapi, jika wakif tidak membatasi penggunaannya untuk kepentingan masjid, maka penggunaan fasilitas diperbolehkan.

Kesimpulannya, penyembelihan hewan kurban di halaman masjid diperbolehkan jika halaman masjid sejak awal memang tidak diwakafkan sebagai masjid. Kebiasaan di masyarakat memang, kebanyakan pembangunan masjid disiapkan pula halamannya, setidaknya untuk parkir kendaraan jamaah. Untuk itu, diharapkan dalam proses penyembelihan dan pembagian hewan kurban tidak melebar ke serambi masjid.

Kemudian, untuk penggunaan alat milik masjid, seperti tikar dan alas, tidak diperkenankan dipergunakan untuk kepentingan penyembelihan hewan kurban. Berbeda dengan barang wakaf, yang memiliki dua hukum dalam penggunaannya yang tetap memperhatikan batasan penggunaan.

Masyhuri Mochtar/Sidogiri

Spread the love