Pada 30 November 1959, Nahdlatul Ulama (NU) mendirikan universitas swasta di Jl. Soekarno – Hatta No. 530 Kota Bandung, yang diberi nama Universitas Nahdlatul Ulama (UNNU). Namun selanjutnya, pada 15 April 1969 Universitas Nahdlatul Ulama itu resmi berganti nama menjadi Universitas Islam Nusantara (UNINUS). Namun demikian, kita tahu bahwa nama Islam Nusantara yang lahir sejak puluhan tahun lalu itu tak menuai kontroversi apapun.

Begitu pula, pada tahun 2002, Azyumardi Azra menulis buku berjudul “Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal”. Sama halnya dengan nama Islam Nusantara bagi universitas NU tadi, buku Azyumardi Azra itu juga tak membikin orang ribut. Bahkan, ketika KH. Hasyim Muzadi menjadi Ketua Umum PBNU, beliau juga mempromosikan istilah Islam Nusantara, yang dimaksudkannya sebagai Islam rahmatan lil-‘alamin. Tentu, kita semua juga tahu bahwa tak ada pergesekan dan perdebatan apapun tentang nama Islam Nusantara itu, setidaknya hingga saat itu.

Karena itu, dengan demikian adalah jelas jika persoalannya bukan terletak pada Islam Nusantara sebagai sebuah “nama”. Sebab jika yang kita perdebatkan hari ini hanya sekadar soal nama, maka betapa bodohnya kita, meributkan apa yang telah ada dan dipakai sejak puluhan tahun yang silam. Jadi bagaimanapun, di sini mesti ditegaskan bahwa kontroversi Islam Nusantara yang terjadi hari ini terletak pada muatan atau isi yang diboncengkan oleh kalangan tertentu kepada nama “Islam Nusantara” itu sendiri. Karena itu, mau berganti nama berapa kali pun, jika isinya tetap sama, ia tetap akan kontroversial juga.

Isi dan muatan yang dimaksudkan itu tak lain adalah nilai-nilai di luar Ahlusunah wal-Jamaah, dalam hal ini adalah paham liberalisme, yang berusaha disusupkan ke dalam umat Islam di Indonesia melalui Islam Nusantara sebagai topengnya. Makanya, sejak zaman dahulu nama Islam Nusantara itu ada tapi tak menimbulkan reaksi dan kontroversi, karena memang tak digunakan untuk memasarkan paham-paham liberal. Namun sejak muncul sejumlah tokoh yang merendahkan Arab dan segenap budayanya, menghina para habaib dari Arab yang rajin berdakwah di Indonesia, begitu mudah mempermainkan ajaran-ajaran syariat Islam, mengatakan cadar bukan ajaran Ahlusunah wal-Jamaah, menuduh Islam Arab sebagai Islam abal-abal, yang semua itu dengan mengatasnamakan Islam Nusantara, reaksi dan penolakan pun tak terelakkan. Sekali lagi, bukan menolak Islam Nusantara sebatas sebagai nama, namun bersebab muatan yang ada di dalamnya.

Baca juga: Ironi demokrasi Kita

Sungguh, penolakan terhadap ide busuk yang dikemas dengan nama indah, bukan hal yang asing bagi kita. Itulah sebabnya kita juga menolak ide-ide Wahabisme kendati mereka memakai jargon kembali pada al-Quran dan hadis. Kita juga menolak ide-ide Hizbut Tahrir kendati mereka memakai jargon Islam Kafah. Itu sebabnya, ide liberalisme juga kita tolak dengan segala bungkus dan topengnya, mulai dari multikulturalisme hingga Islam Nusantara. Dengan demikian, kita tak mempersoalkan siapapun yang menggunakan nama Islam Nusantara dengan maksud dan tujuan yang baik, seperti Islam Nusantara yang dijelaskan oleh Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Ma’ruf Amin, atau yang dirumuskan oleh LBM-PWNU Jawa Timur..

Moh. Achyat Ahmad/sidogiri

Spread the love