HABIB ALWI BIN THAHIR AL-HADDAD
HABIB Alwi bin Thahir bin Abdullah al-Haddad, selain sebagai mufti di Kerajaan Johor, Malaysia, juga peneliti sejarah Islam terpopuler dari kalangan Ba Alawi. Sejarah masuknya Islam ke Bumi Nusantara juga masuk ke dalam daftar penelitiannya. Dari hasil jerih payahnya meneliti sejarah Islamisasi Nusantara terbitlah kitab beliau yang dijadikan salah satu referensi penting dalam kajian sejarah Islam di Indonesia, yaitu Al-Madkhal ilâ Târikhil-Islâm fisy-Syarqi al-Aqshâ (Pengantar Sejarah Islam di Timur Jauh).
Habib Alwi bin Thahir al-Haddad lahir di Bandar Qeydun, Hadhramaut, Yaman pada tanggal 14 Syawal 1301 H/ 7 Agustus 1884 M. Tanda-tanda akan menjadi ulama besar sudah terlihat sejak ia masih kecil. Kecerdasan, ketekunan, dan antusiasme dalam menimba ilmu dan ber-mujâlasah dengan para ulama sudah dibuktikan saat masih remaja. Pada usia masih remaja itu, Habib Alwi bin Thahir al-Haddad mengaji kepada sejumlah ulama, baik ulama dari kalangan habaib maupun yang lain.
Di antara gurunya di Hadramaut yang juga dari kalangan sadah ialah Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas, Habib Abdullah bin Thaha al-Haddad, Habib Thahir bin Abu Bakar al-Haddad, Habib Thahir bin Umar al-Haddad, dan Habib Muhammad bin Thahir Al-Haddad, sedangkan dari non Ba Alawi adalah Syekh Sirajuddin Umar bin Utsman bin Muhammad Ba Utsman Al-Amudi dan Syekh Abdurrahman bin Sulaiman alAhdal.
Ditempa oleh banyak ulama serta didukung dengan keuletan belajar dan kecerdasan membuat Habib Alwi bin Thahir al-Haddad banyak menguasai kitab-kitab karya ulama dahulu dalam berbagai bidang. Pada usia 12 tahun, Habib Alwi bin Thahir al-Haddad sudah mengkhatamkan sejumlah turats penting seperti kitab-kitab induk Hadis, kitab Fikih, kitab Tafsir, Sejarah, dan Tasawuf semisal kitab monumental karya Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddîn. Dua tahun setelah itu, tepatnya pada usia 17 tahun, beliau telah mulai mengajar dan mengisi kajian di beberapa majelis ilmu di Yaman.
Semakin bertambahnya usia ilmu beliau kian bertambah. Tak ayal banyak para penuntut ilmu yang berguru, mengambil berkah ilmu dari ulama kelahiran Qeydun ini. Ada sejumlah ulama besar yang menjadi murid Habib Alwi bin Thahir al-Haddad, di antaranya adalah Habib Alwi bin Syekh Bilfaqih, Habib Alwi bin Abbas al-Maliki, Habib Salim Bin Ali Jindan, Habib Abu Bakar al-Habsyi, Habib Muhammad bin Ahmad al-Haddad, Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih, Habib Husein bin Abdullah bin Husein Alatas, Syekh Hasan Muhammad al-Masyath, dan Syekh Abdullah bin Nuh.
Semangat dakwah Habib Alwi bin Thahir al-Haddad sangat besar. Beliau berdakwah dengan berkeliling dunia, mulai dari Somalia, Kenya, Makkah, India, Belanda, Malaysia, dan Indonesia tepatnya di Jakarta yang waktu itu masih bernama Batavia. Di negaranegara yang dikunjunginya, beliau selalu menghabiskan masa untuk berdakwah dan mengajar. Di Batavia, Habib Alwi bin Thahir mengajar di Madrasah Jamiat Kheir, sebuah majelis taklim tertua di Batavia.
Tahun demi tahun informasi mengenai keluasan ilmu dan wawasan Habib Alwi bin Thahir al-Haddad ternyata sampai pada Sultan Johor Malaysia. Sebab itu, Habib Alwi bin Thahir al-Haddad didapuk menjadi mufti di sana menggantikan posisi mufti sebelumnya, yakni Dato Sayid Abdul Qader bin Mohsen Alatas. Beliau menjadi mufti di kesultanan yang didirikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah II itu, selama 27 tahun terhitung dari tahun 1934 hingga 1961.
Habib Alwi bin Thahir al-Haddad memiliki semangat luar biasa dalam menyebarkan ajaran Islam melalui tulisan. Hal itu terbukti dari banyaknya artikel beliau yang tertulis dalam surat kabar. Dalam surat kabar, tulisan beliau seputar persoalan-persoalan kemasyarakatan, politik, ideologi, bahkan sejarah. Selain aktif sebagai penulis, Habib Alwi bin Thahir al-Haddad juga seorang dai kondang yang mengayomi umat sekaligus mufti yang telah banyak mengeluarkan fatwa berkaitan dengan soal-soal keagamaan, sosial, ekonomi, dan politik.
Sebagai seorang dai dan penulis tentu Habib Alwi bin Thahir al-Haddad dekat dengan orang-orang besar dan berpengaruh di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Di Indonesia beliau berteman akrab dengan salah satu tokoh pendiri Sarekat Islam, H.O.S Cokroaminoto yang juga aktif sebagai penulis. Ketika H.O.S Cokroaminoto sedang menulis buku tentang sejarah Nabi Muhammad dalam bahasa Indonesia, ia menunjukkannya kepada Habib Alwi bin Thahir al-Haddad agar beliau bersedia memberikan kata pengantar pada buku tersebut.
Kiprah Habib Alwi bin Thahir ternyata tidak hanya dalam dunia dakwah dan dunia tulis saja, tapi juga dalam hal keorganisasian, utamanya organisasi keagamaan. Sehubungan dengan ini ternyata Habib Alwi bin Thahir al-Haddad merupakan salah satu pendiri Rabithah Alawiyah yang merupakan organisasi kemasyarakatan tertua berbasis Islam di Indonesia. Juga salah satu pendiri Jamiat Kheir yang merupakan majelis taklim di Batavia yang dibangun oleh kalangan Alawiyyin. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa Habib Alwi bin Thahir al-Haddad juga aktif dalam bidang penelitian dan penulisan. Ada banyak karya beliau yang bisa kita nikmati hingga sekarang. Mulai dari kodifikasi fatwa, kajian sejarah, tentang nasab, ilmu Faraidh, ilmu astronomi, dan lainnya. Beberapa di antaranya adalah Al-Qaul al-Fashl fi Ma li Bani Hashim wa Quraisy wal-Arab Minal-Fadhl (dua jilid), Durus-Sirah an-Nabawiyah dalam dua jilid kecil (risalah), kitab tentang hukum-hukum nikah dalam bahasa Melayu, diterbitkan dalam dua jilid, I’anatun-Nahidh fi Ilmil-Faraidh, Majmuah min Ulumil-Falak dalam jilid besar, Ath-Thabaqat al-Alawiyyah, dan Al-Madkhal ila Tarikhil-Islam asy-Syarqi al-Aqsha (buku sejarah tentang Walisongo).
Pada 14 November 1962 (1382 H), lentera dari Yaman yang menerangi banyak negara itu wafat di Kerajaan Johor, setahun setelah beliau menjabat sebagai mufti. Beliau dikebumikan di tanah pekuburan Mahmoodiah Johor Bahru.




